Sabtu, 18 September 2021
Satria Dharma's Weblog
NAHI MUNGKAR: ANTARA FPI DAN BU RISMA

– FPI itu hanya ingin menghancurkan kemungkaran dan kemaksiatan. Kenapa dimusuhi? Apakah Anda termasuk pembela kemaksiatan? 😠

– Tunggu dulu, Alfonso…! Benarkah bahwa FPI hanya ingin menghancurkan kemungkaran dan kemaksiatan? Tolong tunjukkan buktinya. 🙏

FPI ini sudah berdiri sejak tahun 1998. Jadi sudah berdiri selama 22 tahun. Nah selama 22 tahun ini kemungkaran dan kemaksiatan apa yang telah dihancurkannya? Jika Anda tidak tahu Anda bisa buka internet dan baca sendiri apa sih yang sudah dilakukan oleh FPI. Sila buka ini atau ini.

Apakah FPI berhasil menekan angka kemungkaran dan kemaksiatan selama 22 tahun tersebut? Kalau ANGKA KEKERASAN yang dilakukan FPI justru terus meningkat. Berikut ini beberapa contohnya.

1 November 2004
500 anggota FPI merusak kafe dan bentrok dengan Forum Masyarakat Kemang di kawasan hiburan Kemang, Jakarta Selatan.

27 Juni 2005
FPI menyerang acara kontes Miss Waria di gedung Sarinah, Jakarta Pusat.

9 Juli 2005
Sekitar 400 orang beratribut FPI menyerbu kampus Mubarak, Parung, Jawa Barat. Mereka memberi ultimatum, dalam hitungan 7 x 24 jam, FPI akan bertindak lebih tegas lagi.

12 April 2006
Ratusan anggota FPI menyerang dan merusak kantor majalah Playboy. Aksi ini dilakukan lantaran penolakan FPI terhadap majalah yang bermarkas di Cilandak, Jakarta Selatan, ini dengan alasan berbau pornografi. (Ada deal-deal busuk setelahnya)

20 Mei 2006
Anggota FPI menggerebek sebelas lokasi yang dinilai jadi tempat maksiat di Kampung Kresek, Pondok Gede, Jakarta Timur.

1 Juni 2008
27 aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, yang berdemo memprotes surat keputusan bersama Ahmadiyah, mengalami luka-luka dianiaya massa FPI saat sedang berunjuk rasa di Monas, Jakarta Pusat.

8 Agustus 2011
Sekitar 30 orang FPI mengobrak-abrik warung Coto Makassar di Jalan A.P. Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, karena tetap buka siang hari saat bulan puasa.

Baca juga:  JANGAN MENUTUP MATA PADA KEBAIKAN FPI, DONG…! 🙄

12 Agustus 2013
FPI terlibat adu bacok dengan warga Desa Kandang Semangkon, Lamongan, Jawa Timur, yang diawali aksi penganiayaan anggota FPI kepada tiga orang warga di sebuah rental Playstation.

3 Oktober 2014
FPI melakukan unjuk rasa menolak pengangkatan Ahok menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo. Bentrokan yang awalnya damai, berujung rusuh yang melukai belasan anggota polisi. Kepolisian berhasil menangkap koordinator sekaligus otak kerusuhan, Novel Bamukmin, bersama 21 anggota FPI lainnya. Dan seterusnya…dan seterusnya….

Sila cek Daftar Kekerasan FPI. Rizieq Shihab sendiri tercatat menghadapi tujuh kasus pidana. Sila lihat di sini. https://www..bbc.com/indonesia/indonesia-39931546

Jadi seberapa banyak sebenarnya kemungkaran dan kemaksiatan yang berhasil mereka tumpas dan banyak mana dengan kemungkaran dan kemaksiatan yang justru mereka lakukan sendiri? Adakah lokalisasi pelacuran yang berhasil mereka tutup sampai seterusnya? Coba bandingkan dengan Bu Risma, Walikota Surabaya.

Bu Risma menutup lokalisasi pelacuran Dolly, yang merupakan lokalisasi pelacuran terbesar di Asia Tenggara. Risma mengaku, tujuan dari tindakannya tersebut adalah untuk menyelamatkan masa depan anak-anak di Indonesia. Beliau mengaku sempat disidang oleh sejumlah kiai di Jombang, saat akan menutup lokalisasi Dolly 2014 silam. Sidang tersebut digelar tengah malam hingga menjelang subuh. Risma menceritakan, dirinya harus datang di forum kyai di Jombang oleh Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah. “Saya sampai Jombang jam 2 malam dan selesai jam 4 pagi menjelang shalat subuh,” kata Risma. Di forum tersebut, Risma ditanya soal rencana penutupan Dolly yang dinilai akan berat dan berdampak sosial luas, karena lokalisasi tersebut sudah mengakar di kota Surabaya. “Alhamdulillah berkat doa para kiai penutupan lancar dan sekarang warga eks Dolly sudah berdaya secara ekonomi. Terima kasih kiai,” kata Risma.

Baca juga:  PERBUDAKAN DALAM ISLAM

Kegigihan tekad Wali Kota Tri Rismaharini menutup Dolly dan Jarak sebagai lokasi prostitusi pada tiga tahun lalu tidak bisa dilupakan begitu saja oleh Kepala Satpol PP Kota Surabaya Irvan Widiyanto. Ia teringat ketika bersama Kepala Dinas Sosial Supomo menemui Wali Kota Risma terkait rencana pengalihfungsian Dolly dan Jarak.

“Hingga akhir hayat tidak bisa saya lupakan,” ujar Irvan kepada wartawan di ruang Humas Kota Surabaya, Senin (1/5/2017). Irvan mengaku Wali Kota Risma telah mencambuk dirinya ketika dirinya dinilai ragu-ragu menutup Dolly dan Jarak.

“Saat itu Bu Wali ngendikan (bicara) begini, “ Van, jika awakmu ora wani, kene aku silihono pentungane satpol. Tak budal dewe,” (Van, jika kamu tidak berani, pinjami saya pentungan satpol. Biar saya berangkat sendiri.) kata Irvan menirukan ucapan Wali Kota Risma saat itu.

Bak disambar petir di siang bolong, sebagai anak buah tentunya beliau malu dan terpacu untuk memimpin anak buahnya melakukan penertiban bersama polisi. Saat itu, resiko yang dihadapi Satpol PP tidaklah ringan. Sebab para penentang penutupan Dolly dan Jarak mengancam akan mengeroyok Satpol PP. Tapi karena Bu Risma tidak pernah mundur sedikit pun maka semua anak buahnya jadi berani dan pantang mundur juga.

Perlahan, satu persatu tempat prostitusi ditutup, wisma dibeli, dan puncaknya Dolly resmi ditutup pada 18 Juni 2014. Empat lokalisasi yang sudah ditutup sebelumnya, yaitu Tambak Asri, Bangun Rejo, Sememi dan Klakah Rejo. Namun, penutupan prostitusi belum usai, Risma menceritakan rehabilitasi eks lokalisasi ini terus dilakukan. Mulai dari memberi pelatihan, uang biaya hidup, jaminan hidup sebesar Rp 7,5 juta untuk tiap pekerja seks komersial (PSK). Ratusan PSK dipulangkan ke daerahnya masing-masing setelah dibekali keterampilan dan modal usaha. Ia juga menyebut mantan satpam atau preman Dolly ditawari beralih profesi menjadi linmas, atau sopir mobil ambulans, atau jenazah. Kemudian anak-anak yang tinggal di eks lokalisasi bisa langsung masuk sekolah negeri tanpa seleksi apapun.

Baca juga:  BENARKAH ANDA SEORANG ULAMA...?! 🤔

“Kemudian saya juga buatkan sentra pedagang kaki lima (PKLL) hingga taman di bekas lokalisasi dan diajari membatik oleh perusahaan hingga sukarelawan.. Warga eks-Dolly kemudian membuat sandal hotel, batik, tempe, telur asin, sepatu, hingga sablon,” katanya.

Perlahan tapi pasti menjelang empat tahun pasca ditutupnya Dolly, semua warga eks-Dolly mulai dari muncikari maupun pekerja seks telah berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi. Bahkan, Risma menyebut omzet yang diperoleh warga yang menjalani bisnis sablon tersebut bisa melebihi Rp 1 miliar.

Jadi tidak satu pun lonte, eh, pelacur, preman, dan mucikari di Dolly yang dipentungi dan mendapat kekerasan fisik. Kekerasan fisik dan penghancuran lokasi hanya akan menghentikan sesaat tapi kemudian mereka pasti akan kembali lagi. Apalagi jika kemudian terjadi transaksi perlindungan justru dari para laskar yang semula menentang adanya lokasi pelacuran tersebut.

Nah, tolong bandingkan manfaat dan mudharat dari adanya FPI yang katanya mau mencegah kemungkaran dan kemaksiatan itu. Lha wong katanya di sekitar Petamburan saja masih ada lokasi pelacuran dan perjudian. Saya sengaja tidak membandingkannya dengan tindakan Ahok menutup Kalijodo agar orang DKI saja yang menulisnya. 🙏😊

Surabaya, 12 Desember 2020
Satria Dharma

Bacaan:
Cerita Risma Berhasil Menutup Gang Prostitusi Terbesar
Saat Akan Tutup Dolly, Risma Mengaku Disidang Para Ulama
Cerita Ketika Risma Akan Tutup Dolly Sendirian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *