Sabtu, 18 September 2021
Satria Dharma's Weblog
INI SIKAP ULAMA

Ini zaman yang serba kacau. Ada kriminal yang dianggap ulama dan sebagian umat menganggap itu ulama yang dikriminalkan. 🙄

Mengapa bisa begitu…?! Karena sumber keteladanan sendiri telah terkontaminasi. Para tokoh agama sekarang semakin ngawur dan partisan. Lihat saja kondisi MUI sebelum ini yang semestinya merupakan sumber kebijakan agama yang justru diisi oleh orang-orang yang berprilaku buruk, provokatif, dan agitatif. Syukurlah bahwa sekarang mereka semua telah terpental keluar dari MUI. 🙏

Bagaimana sebenarnya sikap seorang ulama jika ia difitnah, dituduh tanpa alasan, atau dimusuhi oleh pemerintah? Kita memiliki contoh yang sangat baik, yaitu Buya Hamka.

Buya Hamka (Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah) adalah salah satu tokoh ulama MUI yang pernah diperlakukan Soekarno sebagai musuh besarnya. Buya Hamka pernah difitnah sangat keji dan dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Meski dizalimi dan dihinakan oleh Soekarno, dikurung di jeruji besi selama dua tahun empat bulan, Buya Hamka tidak pernah menyimpan dendam terhadap Soekarno. Apalagi sampai mengajak umat islam untuk membencinya dan melawan pemerintah. Itu sama sekali bukan sikap seorang ulama.

Buya Hamka bukan hanya difitnah oleh Soekarno tapi juga oleh Pramudya Ananta Toer.

Dalam suatu acara yang digelar Dewan Kesenian Jakarta pada 1969, Buya Hamka memaparkan dua hal, pertama pelarangan peredaran buku-buku Pramoedya Ananta Toer, dan kedua bagaimana sikapnya terhadap Pramoedya yang menjadi penyebab Hamka dipenjara.

Buya Hamka, tulis Irfan Hamka, tidak pernah menyetujui pelarangan tersebut, karena filsafat hidup Buya Hamka adalah cinta. “Kalau tidak suka pada isi sebuah buku, jangan buku itu dilarang, tapi tandingi dengan menulis buku pula, kata beliau,” tulis Taufiq Ismail menceritakan sosok Buya Hamka dalam pengantar buku Ayah.

Baca juga:  BUMBU PALING SEDAP DI DUNIA

Di sini kebesaran hati seorang Buya Hamka teruji. Ia memaafkan Pramoedya. Padahal, namanya dihancurkan Pramoedya lewat tulisan di surat kabar Bintang Timur yang merupakan media pro-PKI. Dalam kolom itu, sejumlah satrawan yang kontra PKI diserang, seperti HB Jasin, Sutan Takdir Alisjahbana, Trisno Sumardjo, Asrul Sani, Misbach Yusa Biran, Bur Rasuanto, termasuk Buya Hamka.
Tapi apa yang terjadi…?!

Buya kemudian ditahan karena dianggap melanggar UU Anti-Subversif Pempres No. 11.. Ia dituding terlibat dalam upaya pembunuhan Soekarno dan Menteri Agama saat itu, Syaifuddin Zuhri. Namanya dihancurkan, perekonomiannya dimiskinkan, kariernya dimatikan dan buku-bukunya dilarang beredar sejak itu. Bayangkan besarnya fitnah yang diterima oleh Buya Hamka saat itu. 😔

Tetapi, sang ulama besar ini tidak pernah menyimpan dendam. Bahkan ketika Soekarno meninggal dan berwasiat untuk minta disalati jenazahnya oleh Buya Hamka tetap dilakukan. Sesuai wasiat Soekarno, Buya Hamka pun memimpin salat jenazah mantan presiden yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. Sama sekali tidak ada dendam. Yang ada hanyalah rasa kasih dan keteladanan bagi umat. 🙏

Hamka bahkan memuji Soekarno yang membangun Masjid Baitul Rahim di Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Ia pun menyelesaikan tafsir Al-Azhar yang menjadi karya fenomenalnya berkat andil Soekarno. Sebab, tafsir yang mahsyur seantero Asia itu diselesaikan saat ia berada di penjara.

”Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu…,” kata Buya Hamka.

Baca juga:  BUKAN ISLAMOPHOBIA TAPI CADARPHOBIA

Nah, bandingkan sikap Buya Hamka, seorang ulama tulen yang luar biasa ini dengan Rizieq Shihab. Boleh dikata tidak ada seujung kukunya. Dengan bangganya Rizieq Shihab menyandang gelar “Imam Besar” seolah ia telah melakukan hal besar dalam agama. Apa kontribusinya bagi kemajuan Islam? Padahal ustad Quraish Shihab yang begitu alim dan begitu banyak karyanya untuk Islam bahkan menyandang kata ‘Habib’ pun beliau tidak bersedia. Terlalu berat bagi beliau menyandang nama tersebut. 😏

Sekedar info, Rizieq Shihab ini sudah pernah dua kali masuk penjara. Pertama pada tahun 2003 ia masuk penjara 7 bulan karena menghasut, melawan aparat keamanan, dan memerintahkan merusak sejumlah tempat hiburan di Ibu Kota. Kedua pada era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, dia divonis 1 tahun 6 bulan atas peristiwa penyerangan massa FPI kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan (AKKBK).

Ulama tulen TIDAK AKAN PERNAH berkata kasar, berkata kotor, mencaci maki, melontarkan kalimat-kalimat penuh kebencian, memprovokasi umat untuk melawan pemerintah, mengajak umat untuk merusak tempat hiburan, merazia warung yang buka di saat Ramadhan, mengajak umat untuk bughot pada pemerintah yang sah, mendoakan hal-hal yang buruk dan sangat keji pada sesama umat Islam yang berbeda pandangan politik, membentuk pasukan khusus untuk membela dirinya, mendorong pendukungnya untuk mati syahid membela dirinya karena menganggap dirinya ulama yang perlu dibela sampai mati.

Setahu saya hanya pimpinan geng yang membentuk sendiri pasukan khusus untuk melindungi dirinya dari lawan-lawannya. Bahkan Muhammad Ali Sang Petinju Legendaris tidak pernah mau dikawal karena percaya pada pengawalan Tuhan. 😏

Ulama tulen BERANI menghadapi apa pun tuduhan atau fitnah yang ditujukan pada dirinya. Dia hanya takut pada Tuhan dan tidak takut pada siapa pun.

Baca juga:  KE BALI TANPA REKREASI

Satu hal yang paling mengherankan saya adalah ketika RS melarikan diri ke tanah suci dengan alasan umroh ketika mau diusut soal sex chatnya dengan Firza. Mengapa harus lari menghindari tuduhan jika itu memang fitnah? Bukankah seharusnya kita malah harus mendatangi siapa sumber fitnah itu untuk menuntutnya membuktikan bahwa itu adalah fitnah belaka. Semestinya kan kita harus membersihkan nama kita dari tuduhan atau fitnah yang tidak benar dan jika perlu menuntut balik pada si pemfitnah. Mengapa justru lari…?! 🙄

Satu hal yang paling saya sesalkan adalah sikap teganya kepada para pendukungnya. Dia mendorong pendukungnya untuk membelanya sampai mati dengan menjanjikan sorga kelak. Sebagai seseorang yang selama ini tampil dengan garang dan seolah tidak takut mati semestinya tidak menjadikan pendukungnya sebagai umpan untuk jadi tameng bagi dirinya. Seorang pemimpin tulen justru seharusnya tampil ke depan untuk membela pengikutnya dan bukan sebaliknya. 🙄

Sudah saatnya Rizieq Shihab benar-benar menunjukkan bahwa dirinya adalah panutan bagi pendukungnya seperti yang selama ini ia katakan. Tunjukkan bahwa Islam yang dianutnya adalah agama yang benar-benar mencerminkan rahmatan lil alamin melalui sikap dan prilakunya. Tampillah dengan gagah berani menghadapi semua pemfitnah dan berhentilah mengorbankan para pendukungmu. Cukuplah enam orang sebagai martir tersebut. Berpikirlah jauh dan belalah bangsa dan negara ini jika Anda benar-benar seorang ulama. Bersikaplah sebagai habib sebagaimana layaknya seorang yang mengaku sebagai anak keturunan Nabi. 🙏

Surabaya, 11 Desember 2020
Satria Dharma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *