Rabu, 15 Juli 2020
Just another WordPress site
SEBURUK BURUK MANUSIA

Saya punya teman ngobrol yang kalau berkomentar kadang nyleneh tapi ada benarnya.. Sebagai contoh ketika kami ngobrol ngalor ngidul dan percakapan nglantur ke topik orang keturunan China yang menguasai perekonomian Indonesia dia tiba-tiba nyletuk, “Lha itu kan karena Wong Jowo serakah…!”.

Tentu saja kami semua terhenyak dan ndlahom… 🙄

“Coba pikir toh…!” katanya. “Sebenarnya di Indonesia itu hampir semuanya dikuasai oleh orang Jawa…

Parlemen dikuasai oleh orang Jawa…

Politik dikuasai oleh orang Jawa…

Militer dikuasai oleh orang Jawa…

Kepolisian dikuasai oleh orang Jawa…

Kejaksaan dikuasai oleh orang Jawa…

Para hakim mayoritas orang Jawa…

Para dokter, notaris, guru, PNS, honorer, PNS, petani, tukang bakso…hampir semua orang Jawa.

Hanya tukang cukur yang agak banyak orang Maduranya.” 😏

Tentu saja kami ngakak mendengar kalimat terakhirnya. Soalnya di daerah kami mayoritas tukang cukur memang orang Madura. 😂

“Lha gitu kok ya masih mengeluh ketika ekonomi dikuasai oleh orang China….!” Tambahnya dengan nada setengah mengejek.

Tentu saja kami tidak bisa membantahnya karena itu memang fakta. Orang Jawa sebenarnya hampir menguasai semua daerah di Indonesia dan para perantau dari Jawa di berbagai daerah ini justru lebih makmur ketimbang orang-orang lokal.. Di Balikpapan saja mayoritas itu orang Jawa. Apalagi di Papua. Makanya ada guyonan di berbagai daerah yang bilang begini. “Orang Jawa itu jual bakso untuk beli tanah sehingga bisa kaya. Lha kita ini jual tanah supaya bisa menikmati baksonya orang Jawa. Gimana gak tergusur kita…” 😀

Ketika topik kesenjangan ekonomi ini ditarik ke fakta terpinggirkannya umat Islam dari sektor-sektor ekonomi yang dikuasai oleh keturunan China, teman tadi nyletuk lagi. “Itu karena Tuhan Maha Adil dan Maha Memberi sesuai dengan keinginan umatnya.”

Baca juga:  Gak Usah Kuliah Segala...

Opo maneh iki…! 🙄

“Begini lho…!” katanya dengan mimik serius. “Saudara-saudara kita keturunan China itu kan memang ingin kaya dan hidup makmur di dunia ini. Makanya mereka bekerja sangat keras untuk mendapatkan dunia. Dan Tuhan mengabulkan keinginan mereka.”

“Lha kalau umat Islam apa gak pingin kaya…?!” sahut teman lain.

“Enggak…!” Jawabnya cepat. “Apa pernah kamu mendengar para ulama dan ustad berdoa agar umat Islam diberi kekayaan dan hidup makmur di dunia…?! Tidak kan. Kita ini selalu berdoa agar diberi kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kita selalu berdoa agar diberi kekuatan dalam menerima cobaan di dunia. Kita mohon agar diberi kesabaran dalam menghadapi ujian., dan semacamnya. Intinya, kita itu lebih condong pada kehidupan di akhirat. Kita itu ingin masuk sorga dan nanti di sorga diberi kekayaan berlimpah-limpah dan bidadari-bidadari berjumlah 72 orang. Iyo pora…?!”
Kami tentu saja kembali ngakak. Arek iki pancen mangkelno ati tapi bener juga sih… 😂

“Mbok ya kamu itu berdoa minta diberi istri seperti bidadari satu saja di dunia dan yang 71 biar disimpan di sorga. Lha kamu itu minta istri yang soleh tapi kelakuanmu gak soleh blas. Pingin kaya tapi tidak mau bekerja keras dan ulet. Mana dikabulkan oleh Tuhan. ”

“Kalau mau kaya ya berusahalah sekeras dan secerdas orang-orang China dalam berusaha. Jangan cuma iri tapi tidak mau ulet seperti mereka. Mereka juga tidak kaya dalam semalam tapi setelah berusaha sangat keras bertahun-tahun.” Dia mulai berkhotbah.

“Sekarang ini sudah banyak konglomerat selain keturunan China. Chairul Tanjung yang punya Trans Studio tempat kita biasa nongkrong itu bisa jadi konglomerat juga karena mau kerja keras dengan sangat ulet seperti para konglomerat keturunan China.. Sandiaga Uno itu juga kaya raya karena mau ulet kerja seperti orang China.”
“Wah…! Kita umat Islam kan harus seimbang antara dunia dan akhirat,” celetuk teman yang tadi. “Takono Cak Satria sing rajin nang masjid itu…”

Baca juga:  ANTARA HARUS PULANG KAMPUNG DAN INGIN MUDIK

“Lha makanya itu… Kalau orang keturunan China sugih dan menguasai ekonomi ya memang itu yang mereka minta dan upayakan. Itu yang diberikan oleh Tuhan pada mereka. Kalau kamu kan pingin masuk sorga. Ya tunggu saja nanti di akhirat… “ jawabnya sambil ketawa setengah mengejek. 😎

“Iya kalau kita masuk sorga. Lha kalau ternyata sorga juga tidak dapat bagaimana…?” sahut teman satunya. “Di dunia melarat di akhirat mlebu neroko.”

“Ya itu juga karena Tuhan kan Maha Mengetahui. Kalian di dunia macak ulama selalu mengutip ayat dan hadist tapi kelakuan kriminal ya mana bisa masuk sorga. Kalian kan hanya bisa menipu umat di dunia tapi catatan amal kan tidak bisa dibohongi. Setiap hari menebar hoaks dan fitnah mengatasnamakan agama trus kamu mau masuk sorga. Sorganya embahmu tah…?!”

Dan kami pun ngakak bareng-bareng. Arek iki pancen mbencekno tapi saya setuju dengan apa yang disampaikannya. Setiap hari kita memproduksi ujaran kebencian, menebar segala macam fitnah, melakukan provokasi permusuhan, ngakunya membela rakyat padahal sebenarnya menutupi kebusukan dan kedengkian hati gitu kok kita pingin masuk sorga. Emangnya sorganya Mbah Sangkil…?! 😞

Saya lalu ingat bahwa penyebar fitnah itu diberi gelar oleh Rasulullah dengan SEBURUK BURUK MANUSIA. Beliau bersabda: “Inginkah kalian aku beritahukan manusia TERBURUK diantara kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Yaitu orang-orang yang ke sana ke mari menyebar fitnah, yang memecah belah di antara orang yang saling mencintai dan meniupkan aib kepada orang-orang yang tidak berdosa/bersalah.” (HR. Ahmad). 🙏

Surabaya, 19 Mei 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *