Seorang teman dekat pernah membingungkan saya dengan sikapnya. Suatu ketika seorang mahasiswi mengirim WA kepadanya dan bilang, “Om, nilaiku sudah keluar. Alhamdulillah nilai-nilaiku lumayan, 3,75. Maaf ya, Om Don, sekarang aku sudah waktunya bayar uang semesteran lagi.” Teman saya hanya menjawab, “ Alhamdulillah. Berapa yang harus kamu bayar?” Si mahasiswi menyebutkan nilai jutaan. Teman saya tanpa banyak tanya langsung transfer ke rekening mahasiswi tersebut.
Karena saya penasaran saya lalu tanya siapa mahasiswi tersebut. “Ponakanmu tah?” Dia menjawab, “Boleh dibilang begitu. Dia anaknya teman saya yang sudah meninggal. Tapi waktu dia sakit keras sebelum dia meninggal dia bilang kalau anak dan istrinya perlu sesuatu disuruh datang ke saya. Saya mungkin bisa menolong.” 😎
Jadi ketika ibu dan anak perempuannya ini menghadapi kesulitan hidup maka dicarilah informasi siapa Om Don yang dimaksud tersebut. Mereka tidak pernah tahu dan tidak kenal karena suaminya dan Om Don ini sudah lama terpisah dan tidak berhubungan lagi. Si ibu juga heran mengapa almarhum suaminya menyuruhnya datang ke Om Don padahal mereka tidak pernah dikenalkan. Berkat tanya ke sana dan kemari akhirnya mereka tahu rumah Om Don ini dan datanglah mereka ke rumah teman saya ini.
Teman saya sangat heran dengan kedatangan mereka. Kok bisanya mereka datang padanya padahal almarhum suaminya itu sebenarnya juga tidak dekat dengannya. Tapi karena begitu pesan temannya maka ia percaya saja.
“Kok kamu percaya saja?” tanya saya menggodanya. ”Siapa tahu mereka cuma ngarang-ngarang cerita agar kamu mau bantu mereka.”
“Jika demikian maka itu cerita yang bagus.” Jawab teman saya. “I would buy the story.” dan dia ngakak. 😂
Sejak itu teman saya menjadi godfather mereka dan jika ada keperluan maka Om Don cukup di WA saja dan akan turun membantu. Si anak akhirnya lulus SMA dan ingin kuliah. Teman saya setuju dan bersedia membiayai. Jadi kalau si mahasiswi ini minta uang kuliah sama Om Don-nya ya memang ada ceritanya.
Tapi suatu ketika saya melihat teman saya ini jadi pelit, bahkan pelit banget. Dia menerima WA dari seseorang yang berbunyi, ”Assalamu alaikum Pak Don, anak saya yang SMP waktunya bayar donasi di sekolah. Sebulan cuma 50 ribu.” Teman saya tidak langsung mengirim uang pada si ibu dan bahkan menjawab, “Gak salah tah? Mestinya keluargamu yang dapat donasi. Bilang sama sekolahnya.”
Lho kok jadi begini…?! 🤔
Teman saya lalu bilang bahwa ini keluarga yang juga ia bantu dalam banyak hal termasuk uang sekolah anak-anaknya karena memang janda dan tidak punya pekerjaan tetap. Tapi si ibu ini tampaknya ingin memanfaatkan kedermawanan teman saya dengan meminta segala hal padanya. Ia jadi menggantungkan semua kebutuhannya pada teman saya tersebut. Dan tampaknya teman saya mulai jengkel.
“Lha mosok uang 50 ribu saja kok ya minta sama saya. Mbok ya usaha sendiri. Lagipula semestinya ia datang ke sekolah dan bilang bahwa keluarganya yang perlu diberi donasi dan bukan sebaliknya sekolah anaknya yang minta donasi padanya yang janda tak berpenghasilan tetap.” 😒
Saya diam saja mendengarkan kejengkelan teman saya tersebut. Saya berpikir tentu saja lebih mudah bagi si janda ini minta uang ke teman saya ketimbang harus ‘berjuang’ meminta keringanan pada sekolah anaknya. Namanya juga usaha. Ya cari yang gampang toh… 😁
Surabaya, 1 September 2024
Satria Dharma