Selasa, 07 April 2020
Just another WordPress site
PARA KHAWARIJ DAN PEMBELANYA

Ada dua jenis kelompok orang yang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan agama. Pertama adalah orang-orang yang memang sengaja menggunakan simbol-simbol dan kemasan agama untuk membodohi umat Islam. Ini seperti apa yang disampaikan pesan Ibnu Rusyid, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama”. Karena bodohnya umat Islam maka apa pun yang menggunakan kemasan dan bungkus agama akan dianggap sebagai kebenaran, termasuk hal-hal yang batil yang sangat nyata sekali pun.. Umat Islam yang bodoh ini tidak mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil jika sesuatu telah dibungkus dengan symbol dan kemasan agama. Apalagi kalau sesuatu itu sudah ditempeli dengan ayat-ayat dan hadist maka langsung ditelannya dan dianggapnya sebagai sebuah kebenaran. Tentu saja para penipu berkedok agama adalah orang-orang yang mahir menggunakan jargon-jargon, simbol, isu, rangkaian kata dan narasi agama. Mereka akan menggunakan kepandaian mereka untuk membungkus kebatilan mereka dengan agama tersebut untuk menipu umat Islam yang bodoh. Jadi jangan heran bahwa segala isu berbau agama meski pun itu jelas-jelas salah akan tetap dilakukan dengan penuh semangat jihad seolah mereka sedang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yang akan mengantarkan mereka ke sorga. Perusakan dan pembongkaran tempat ibadah umat lain, pelarangan untuk beribadah bagi umat lain, permusuhan dan kebencian pada umat lain adalah contoh yang sangat nyata dari kebatilan yang dibungkus agama. Kalau yang bermotifkan ekonomi juga banyak. Contohnya adalah penipuan properti atau bisnis berbasis syariah dengan embel-embel agama. Yang membuat orang melarat dan hidupnya susah contohnya adalah dengan memprovokasi umat Islam untuk tidak berhubungan dengan perbankan dan bahkan memprovokasi karyawan bank untuk keluar karena dianggap sebagai dosa riba. Yang membahayakan jiwa dalam kesehatan adalah yang menggunakan alasan agama untuk mencegah umat Islam melakukan vaksinasi, dll

Kelompok kedua adalah orang-orang yang masuk dalam kelompok khawarij. Siapakah kelompok khawarij itu? Menurut as-Syahrastani Khawarij adalah “Setiap orang yang keluar menentang pemimpinnya yang sah yang telah diputuskan oleh masyarakat, baik penentangan itu terjadi di masa sahabat terhadap para Khulafaur Rasyidin atau terjadi setelah mereka terhadap para tabiin yang baik dan para pemimpin di setiap zaman”. (as-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, juz I, halaman 114). Sejarah kelompok Khawarij. Seluruh kelompok pemberontak dan separatis di suatu negara masuk dalam kategori Khawarij sebab mereka menentang pemimpin yang sah. Jadi khawarij sebenarnya adalah sebuah GERAKAN POLITIK sebab isu utamanya adalah tentang kepemimpinan politik. Namun gerakan ini memakai isu-isu agama sebagai propaganda utama untuk melawan pemerintah. Mereka menggunakan kedok dan alasan agama untuk melakukan penentangannya. Dari penentangannya terhadap pemerintah inilah mereka mendapat nama Khawarij yang secara harfiah berarti “orang-orang yang keluar”.

Ibnul Jauzi mencatat bahwa para Khawarij tak henti-hentinya selalu keluar untuk menentang pemerintah dengan menggunakan berbagai jargon seperti “kami membeli surga dengan diri kami”, “tak ada hukum kecuali milik Allah”, “Hidup mulia atau mati syahid”, dan sejenisnya. Mereka kelompok yang oleh Nabi Muhammad disebut menjauh dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya. Mereka biasanya merasa lebih alim dan lebih taqwa ketimbang orang atau kelompok lain. Mereka merasa lebih Islam dan bahkan paling Islam di antara yang lain. Sikap sok Islam atau merasa paling Islam dari kelompok ini ternyata sudah ada embrionya sejak zaman Rasulullah. Rasulullah menggambarkan sosok Khawarij itu sebagai sosok yang membaca Al-Qur’an, tekun beribadah, namun pesan-pesan al-Qur’an sama sekali tak bisa masuk dalam hati mereka.

Baca juga:  “YOUR TENSION, PLEASE…!”

Cikal bakal watak Khawarij di zaman Rasulullah tergambar dalam sosok Dzul Khuwaishirah. Dzul Khuwaishirah adalah Khawarij pertama yang merasa dirinya lebih adil dari Nabi Muhammad. Ia adalah seorang Muslim pedesaan yang merasa dirinya lebih baik dan tak segan memberikan koreksi pada Nabi. Dzul Khuwaishirah marah dan protes pada Nabi tatkala terjadi pembagian hasil rampasan perang Hunain. Dzul Khuwaishirah merasa pendapatnya lebih baik dari pendapat Rasulullah hingga berani menuduh beliau tidak adil.. Dzul Khuwaishirah kelak akan mempunyai kawan-kawan sesama khawarij. Mereka adalah ahli ibadah sehingga shalat dan puasa mereka jauh melampaui shalat dan puasa sahabat-sahabat besar saat itu tapi pemahaman mereka akan agama jauh dari kebenaran. Nabi telah menyampaikan ciri kelompok ini. Tengara Rasulullah terbukti benar ketika sejarah mencatat bahwa Dzul Khuwaishirah bergabung dengan para Khawarij yang memberontak terhadap Khalifah Ali. Ia akhirnya terbunuh di dalam perang Nahrawan.

Selain mengritik dan membantah Rasulullah, para khawarij ini bahkan melakukan kudeta kepada Khalifah Usman yang merupakan pemimpin sah umat Islam pada saat itu. Kudeta yang mereka lakukan itu kemudian dibungkus sedemikian rupa atas nama amar ma’ruf nahi munkar untuk memancing emosi massa sehingga memperlancar kudeta yang mereka lancarkan. Pembunuhan Utsman tercatat sebagai perbuatan yang amat sadis di mana Khalifah ketiga yang juga menantu Rasulullah itu dibantai dengan kejam dan dibiarkan begitu saja tidak dikubur. Para khawarij itu mengklaim bahwa tindakan mereka adalah perwujudan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka menampakkan diri seolah mereka sedang berjuang untuk kebenaran dengan cara mengudeta dan bahkan membunuh Khalifah Utsman yang mereka anggap sebagai pemimpin yang zalim. Saking merasa hebatnya mereka dalam pemahaman agama sehingga bahkan Khalifah Ali r.a pun dianggap tidak islami dan akhirnya dibunuh oleh Abdullah bin Muljam.

Jangan salah ya…! Para khawarij ini bukanlah orang yang awam dalam agama dan beribadah. Mereka bahkan jauh lebih hebat ibadahnya ketimbang para sahabat. Ketekunan Khawarij dalam beribadah sangat ekstrim dan mampu membuat bekas secara fisik. Abdullah bin Abbas menceritakan kondisi mereka ketika ia menemuinya sebagai berikut: “Aku memasuki suatu kaum yang belum pernah aku lihat hebatnya mereka dalam beribadah. Dahi mereka menghitam karena sujud. Tangan-tangan mereka kasar seperti lutut onta. Mereka memakai gamis yang murah dan kumal. Wajah mereka pucat karena begadang ibadah di waktu malam.” (Ibnul Jauzi, Talbîs Iblîs, 83). Tapi ibadah luar biasa itu sayangnya tak diimbangi dengan pemahaman yang baik terhadap ajaran islam. Akhirnya mereka merasa lebih adil dari Rasulullah seperti dilakukan Dzul Khuwaishirah, merasa berhak membunuh Khalifah Utsman dan Khalifah Ali bin Abi Thalib karena dianggap tidak paham hukum Alquran. Para khawarij ini selalu membawa-bawa ayat Al-Qur’an dan jargon-jargon agama dalam tindakan mereka, tetapi ayat tersebut dipahami secara dangkal dan sempit sehingga mereka menganggap hanya pemahaman mereka yang benar dan tidak ada ruang untuk penafsiran yang berbeda. Ketika melakukan pemberontakan pada penguasa, mereka membawa ayat-ayat tentang amar ma’ruf nahi munkar padahal ada perintah yang sangat tegas bagi umat Islam untuk patuh pada ulil amrinya. Mereka juga tidak segan membunuh sesama umat Islam yang berbeda pemahaman dengan mereka padahal ada larangan yang sangat keras untuk itu. Sedangkan menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, memberontak pada penguasa adalah haram selama penguasa tersebut tak menampakkan kekafiran yang nyata.

Baca juga:  TRAGEDI NOL BUKU: TRAGEDI DI DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

Di antara ciri khas Khawarij adalah merasa paling Islam dan paling beriman dari muslim di luar golongan mereka. Hal itu membuat mereka gemar menguji keimanan orang lain dengan beberapa pertanyaan, seperti “Anda muslim?” Mereka bertanya demikian karena menganggap orang yang ditanyainya patut dipertanyakan kemuslimannya. Jika ada orang yang pemahaman keislamannya berbeda dengannya maka ia langsung menganggap mereka bukan atau kurang muslim sehingga perlu ditanyai.

Dengan melihat semua penjelasan ini maka kita sekarang paham dan bisa membedakan mana orang yang menipu dengan agama dengan cara membungkus kebatilan dengan agama dan mana para Khawarij yang memakai isu-isu agama sebagai propaganda utama untuk melawan pemerintah secara politis dan menggunakan kedok dan alasan agama untuk melakukan penentangannya. Para Khawarij ini ada tingkatannya. Ada yang lunak dan ada yang keras. Ada yang frontal terang-terangan dan ada yang tersembunyi atau main sindir. Mereka yang lunak hanya akan menunjukkan penentangannya dalam sikap dan kata-kata, yaitu dengan menunjukkan penentangan dan perlawanannya pada pemerintah yang sah melalui kata-kata dan tulisannya.. Tapi khawarij yang garis keras akan dengan tidak segan-segan turun ke jalanan untuk menunjukkan penentangannya pada pemerintah dan juga bersedia untuk melakukan tindakan makar untuk menurunkan pemimpinnya yang dianggapnya tidak sejalan dengan diri dan kelompoknya. Hizbut Tahrir itu sudah jelas sekali adalah kelompok Khawarij. Tapi mereka melakukan upaya pemberontakan dan makarnya dengan hati-hati agar tidak melanggar hukum positif negara. Mereka berlindung pada prinsip demokrasi yang sebetulnya mereka tentang. Felix Siauw itu adalah pentolan Khawarij HTI di Indonesia tapi sangat cerdik sehingga pemerintah tidak bisa mencokoknya karena belum melakukan tindakan makar yang terang-terangan..

Bagaimana dengan para kombatan ISIS yang belakangan ini dibela oleh Mardani Ali Sera cs? Mereka adalah kelompok Khawarij yang telah mendeklarasikan diri dengan tindakan nyata untuk mendirikan khilafah dengan cara yang sama dengan yang dilakukan para Khawarij awal di zaman para khalifah. Mereka memerangi pemimpin Suriah yang sah dan berupaya untuk membunuhnya dan merebut kekuasaannya dengan cara apa pun yang bisa mereka lakukan. Dalam upaya merebut kekuasaan dan menguasai negara Suriah mereka melakukan kejahatan-kejahatan yang sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan. Mereka menghancurkan rumah dan fasilitas hidup warga Suriah, mereka membunuh tentara dan warga Suriah yang dianggap menentang dan menghalangi mereka, mereka memerkosa dan menjadikan anak-anak dan wanita sebagai budak seks mereka, dan banyak lagi kejahatan yang tak terperikan yang mereka lakukan.

Baca juga:  JALAN-JALAN KE JEPANG (Bagian 2) : SUSHI, YAKINIKU, UDON, RAMEN, DLL

Jadi sungguh aneh jika bermunculan tokoh Islam yang membela para kombatan ISIS ini dengan alasan bahwa mereka juga warganegara Indonesia yang perlu dilindungi.. Jika mereka warganegara Indonesia lantas mengapa mereka bergabung dengan para teroris ISIS untuk merebut kekuasaan di Suriah? Mereka adalah para penjahat perang dan status agama dan kewarganegaraan apa pun bukanlah alasan untuk melindungi penjahat dan kriminal.

Saya tidak akan segan-segan menuding mereka yang membela para kombatan ISIS ini sebagai PARA PEMBELA PENJAHAT BERKEDOK AGAMA DAN HAM. Saya sungguh muak dengan mereka yang menggunakan alasan HAM untuk membela mereka padahal mereka adalah para penjahat perang yang patut mendapatkan hukuman yang paling keras. Mereka adalah para penjahat perang yang mendatangi negara merdeka untuk merampok, membunuh, memerkosa, merusak, merampas kemerdekaan, dan menggulingkan pemerintahan yang sah. Jika Anda membela mereka dengan alasan HAM lantas di mana hukum dan keadilan? Tidak punya malukah kalian pada para korban kejahatan mereka selama ini? Sudah terbalikkah otak kalian sehingga menganggap PELAKU KEJAHATAN KEJI sebagai korban situasi dan keadaan. Mereka datang ke sana bukan sebagai TKI yang mencari kerja untuk kehidupan mereka. Mereka datang kesana untuk merampok, menghancurkan, membunuh, menggulingkan pemerintahan yang sah, dan menjajahnya. Mereka melakukan semua itu dengan sadar dan dengan semangat berjihad membunuh atau terbunuh. Dan itu sama sekali bukan kejahatan yang remeh dalam pertimbangan hukum di mana pun, tidak dulu mau pun sekarang. Mengapa kalian tidak mendorong dan membantu Pemerintah Suriah untuk menegakkan hukum dan keadilan atas kejahatan-kejahatan perang yang mereka lakukan selama ini pada warga dan Pemerintah Suriah? Mereka itu harus mendapatkan hukumannya atas perbuatan jahat mereka selama ini di Suriah berdasarkan hukum dan undang-undang yang berlaku di negara di mana mereka melakukan kejahatan. Jangan meloloskan mereka dari hukum atas kejahatan yang mereka lakukan kecuali Anda adalah sponsor atau bagian dari kejahatan yang mereka lakukan selama ini.

Surabaya, 11 Februari 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *