Minggu, 18 Nopember 2019
Just another WordPress site
BPJS YANG HARUS KITA TOLONG

Satu hal yang saya sesalkan tentang BPJS adalah bahwa sampai hari ini saya belum terdaftar sebagai anggotanya… 😞

Don’t get me wrong. Saya sungguh tidak ingin keluarga saya sakit dan dibiayai oleh BPJS. Keluarga kami sudah ikut asuransi swasta. Dobel lagi. Jadi kalau ada di antara kami yang sakit maka kami bisa masuk rumah sakit mana saja dan kami tinggal merem. Semua biayanya akan ditalangi oleh asuransi swasta tersebut. Dua minggu yang lalu Tara kena typhus sehingga kami masukkan ke RS Premier di Jl. Nginden Intan yang mewah tersebut. Meski hanya nginap dua malam ternyata biayanya mencapai lebih dari lima juta rupiah. Astagfirullah hal adzim…! 😯 Saya hampir njomblak mengetahui biayanya. Hanya dua malam lho…! Padahal tidak ada tindakan apa-apa yang diberikan kecuali infus dan pemberian antibiotik sampai lab menyatakan bahwa widalnya Tara sudah normal. Tapi Alhamdulillah kami tidak perlu membayar biayanya sepeser pun kecuali materai enam ribu rupiah untuk klaim ke asuransinya. Kami bahkan masih bisa mengklaim biaya pengobatan pada asuransi satunya yang kami miliki dan itu sesuai dengan perjanjian dengan asuransinya.

Apakah itu lalu membuat kami lalu senang-senang saja sakit toh sudah ada asuransi yang membiayai kami di rumah sakit yang naujubilah ngantem biayanya itu? Tidak. Naudzubillahi min dzalik… Kami selalu berdoa agar jangan sampai kami sakit dan masuk rumah sakit. Kami ingin selalu sehat dan selalu berdoa agar janganlah sampai kami menggunakan asuransi tersebut. Ya, Allah jauhkan kami dari penyakit yang berat dan membuat kami harus masuk rumah sakit. Demikian pinta kami. Kalau kami harus sakit ya biarlah kami kena flu batuk pilek, demam, kadasen, dan gringgingen sajalah, ya Allah. 🙏😊 Biarlah biaya asuransi kesehatan yang kami bayar mahal itu dipakai oleh pasien lain yang membutuhkannya. Setiap tahun kami bayar premi asuransi yang selalu bikin kami mendelik karena besarnya nominalnya. Tapi toh tetap kami bayar dengan kesadaran penuh akan pentingnya sebuah asuransi kesehatan bagi keluarga. Hampir dua puluh tahun kami ikut asuransi dan kami bersyukur karena tak perlu menggunakannya (kecuali Yufi yang kena typhus tiga tahun yang lalu dan Tara dua minggu yang lalu). Wis ben… Kami sungguh rela dan senang premi kami dipakai oleh orang lain yang sakit meski kami tidak kenal siapa mereka. Perkara kadasen yang tidak dijamin oleh asuransi biarlah saya tanggung sendiri biaya beli salepnya. 🙏😊

Baca juga:  MENGUNJUNGI INDIA Part 5 : TAJ MAHAL, How Beautiful and Grand Your Love?

Lalu buat apa lagi kami ikut BPJS? Toh kami sudah punya dua asuransi mahal yang bisa kami dobel klaim?
Sumprit saya tidak ingin sakit dan dibiayai oleh BPJS. Saya ingin ikut membiayai asuransi kesehatan rakyat Indonesia yang membutuhkan asuransi ini. Sebagai warga negara Indonesia yang merasa punya banyak utang pada bangsa dan negara ini saya sungguh merasa bersalah karena tidak ikut cancut tali wondo turut membiayai dana kesehatan sesama warga yang membutuhkan. Lha kalau saya dengan rela hati bersedia membayar premi di asuransi swasta yang mahal lalu mengapa saya tidak bersedia ikut membayar premi BPJS yang kliennya justru kebanyakan warga kelas bawah? BPJS ini jelas lebih butuh dana premi saya ketimbang asuransi swasta yang saya ikuti. BPJS ini adalah sebuah ide mulia luar biasa yang waktu diluncurkan saya sangat trenyuh dan bersyukur karena pada akhirnya Indonesia bisa meluncurkan sebuah asuransi yang bisa menjangkau rakyat kecil. BPJS itu adalah sebuah asuransi kesehatan yang diidam-idamkan oleh semua negara, khususnya diidam-idamkan oleh warga negara kelas bawah. Bahkan seingat saya negara kaya raya seperti AS pun baru saja meluncurkan program yang serupa yang dikenal dengan nama Obamacare. Medicaid adalah layanan asuransi kesehatan bagi para warga negara Amerika Serikat yang berada di bawah garis kemiskinan. AS pun termehek-mehek membiayai asuransi Medicaidnya. Total pengeluaran Medicaid sendiri mencapai 582.8 miliar Dollar Amerika Serikat pada tahun 2016. Katanya dari 62 persen kebangkrutan di Amerika Serikat, utang kesehatan adalah salah satu penyebabnya, faktor tunggal terbesar dari faktor-faktor lain. Itulah sebabnya maka Trump ingin menutup Obamacare ini karena besarnya defisit yang ditimbulkannya. Obamacare pada periode 2014 juga meminta tambahan dana talangan dari pemerintah Amerika sebesar US$ 2,87 miliar (Rp 40 triliun). Hal tersebut, diakibatkan dari pembayaran klaim 2014 yang ternyata membengkak dari prediksi semula. 😯

Baca juga:  Memberi Makna pada Hidup

Bila dibandingkan dengan program ObamaCare di Amerika Serikat, kebijakan kesehatan Pemerintah Indonesia yang menghabiskan dana sebesar Rp. 9 triliun sangatlah besar. Seorang jurnalis dari South China Morning Post (SCMP) bahkan menyebut ObamaCare terlihat ‘kerdil’ bila dibandingkan dengan program kesehatan Pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak mau disebut demikian, program BPJS dianggap ‘berani’ memfasilitasi akses pengobatan dan kesehatan yang biasa dilakukan oleh negara dunia pertama, berupa pemeriksaan gigi gratis, obat-obatan, fisioterapi, sampai transplantasi organ. Dengan ini, Indonesia pun masuk sebagai salah satu negara berkembang dengan pengeluaran social expenditure atau subsidi sosial yang jumlahnya tinggi. Negara-negara tersebut antara lain adalah Brazil, Tiongkok, India, Indonesia, dan Afrika Selatan. https://pinterpolitik.com/bpjs-populer-dan-gagal/ . Jadi sesungguhnya kenaikan premi asuransi BPJS itu memang merupakan sebuah keharusan jika kita ingin tetap ada sebuah asuransi kesehatan yang bisa diakses bagi warga kalangan bawah.

Dada saya selalu sesak prihatin setiap kali mendengar keluhan dan jeritan orang-orang yang tertimpa penyakit yang parah dan harus masuk rumah sakit padahal tidak punya asuransi kesehatan. Kalau sudah masuk rumah sakit tanpa asuransi yang membiayai maka semua aset yang dimiliki dengan susah payah harus siap untuk digadaikan atau dijual dengan harga murah. Kita bisa langsung jatuh miskin jika ada keluarga yang terkena penyakit berat dan tidak punya asuransi. 🙄
Lalu kini datanglah BPJS yang jangkauannya jauh lebih luas dan masif ketimbang Askes. Dulu yang tidak tahu harus bagaimana dengan keluarga mereka yang sakit parah kini bisa tertolong oleh BPJS. It’s like God’s hand. Saya banyak dengar kisah teman dan saudara yang sungguh tertolong oleh BPJS yang murah hati ini. “Alhamdulillah ada BPJS…!” demikian jawab mereka setiap kali dengan penuh rasa syukur. Ada jutaan orang yang telah tertolong oleh skema asuransi BPJS ini dan masih ada jutaan lagi yang masih menunggu untuk ditolong oleh BPJS.

Baca juga:  LEGACY

Di situlah tiba-tiba saya merasa bersalah karena tidak ikut BPJS…! 🙏😞

Surabaya, 1 September 2019

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *