Sabtu, 18 September 2021
Satria Dharma's Weblog
ERDOGAN MUSLIM PALING BERPENGARUH DI DUNIA

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dinobatkan menjadi tokoh muslim paling berpengaruh di dunia versi pusat penelitian independen The Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berbasis di Yordania, Selasa (15/12). Di peringkat kedua dalam daftar The Muslim 500: The World’s Most Influential Muslims 2021, adalah Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Saud. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Raja Yordania masing-masing menjadi tokoh Muslim paling berpengaruh ketiga dan keempat di dunia. Presiden Jokowi ‘hanya’ berada di peringkat 12. Tapi Jokowi ‘mengalahkan’ Imam besar Al Azhar, Sheikh Ahmad Muhammad Al-Tayyeb dari Mesir, yang berada di peringkat ke 13. Padahal beliau tahun 2018 merupakan peringkat pertama. Selain Presiden Jokowi yang masuk peringkat ini adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj dan Habib Luthfi bin Yahya.Said Aqil menempati posisi ke-18 dalam daftar tersebut. Sedangkan, Habib Luthfi berada di posisi ke-32. Lumayanlah ada 3 orang tokoh Islam Indonesia yang masuk dalam daftar ini.

Dari daftar ini jelas terlihat bahwa tidak ada dikotomi soal mazhab dan golongan. Islam ya Islam dan tidak dikelompokkan dalam golongan Sunni atau Syiah. Turki adalah Sunni yang sekuler sedangkan Ayatollah Ali Khamenei adalah pemimpin negara Iran yang Syiah.

Mengapa Erdogan yang sebelumnya hanya di peringkat ke 6 sekarang menjadi peringkat pertama?

Menurut The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Erdogan merupakan pemimpin yang berhasil membawa Turki menjadi salah satu negara kekuatan global utama (major global power). The Royal Islamic Strategic Studies Centre juga menganggap perekonomi Turki tumbuh dalam tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya di tangan Erdogan. Erdogan juga dinilai sebagai pemimpin yang selalu mendukung dan berani mengangkat isu-isu yang dihadapi umat Muslim dunia. Menurut lembaga tersebut, keputusan Turki mengubah kembali situs UNESCO, Hagia Sophia, di Istanbul menjadi masjid merupakan salah satu terobosan dalam dunia Islam. Meski mendapat kritikan hingga kecaman dari sejumlah pemimpin dunia Barat, Erdogan berkeras mengubah kembali Hagia Sophia dari museum menjadi masjid pada Juli 2020.

Baca juga:  SMAN 5 SURABAYA : MENJADI SEKOLAH TERBAIK DI INDONESIA

Langkah Erdogan tersebut dianggap sebagai bentuk kebangkitan Muslim konservatif di negara sekuler seperti Turki.

Ini jelas menarik karena Turki yang 99, 8% warganya adalah muslim adalah jelas-jelas NEGARA SEKULER dan bahkan tidak pernah mau mempertimbangkan kembali ke bentuk negara Islam atau kekhilafahan yang pernah mereka alami selama ratusan tahun. Sekulernya Turki ini bahkan lebih keras daripada negara sekuler lainnya. Sementara negara sekuler lain memiliki sekolah agama dan sistem pendidikannya sendiri, di Turki para pelajar baru dapat menerima pendidikan agama setelah memasuki usia tertentu. Pembukaan sekolah atau perguruan agama secara swasta merupakan hal yang terlarang di Turki. Di Turki, sekolah agama harus berada dibawah kendali pemerintah. Pemerintah Turki membuat sekolah yang diperuntukkan untuk mendidik para calon imam yang akan bertugas di masjid-masjid seluruh Turki. Sekolah agama ini disebut dengan imam hatip lisesi. Sekolah ini mengajarkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum lainnya. Sekolah imam hatip lisesi dibentuk untuk mencetak para imam atau pemimpin religius di lingkungan kecil masyarakat Turki. Lulusan sekolah imam hatip lisesi tidak dapat melanjutkan pendidikannya di jenjang perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan para siswa di imam hatip lisesi memang sudah diorientasikan untuk terjun ke masyarakat sebagai imam dan ulama bukan untuk menjadi insinyur, dokter, hakim, ataupun profesi yang lain. Jadi semua imam masjid adalah lulusan sekolah pemerintah. Dan jelas tidak akan mungkin ada imam di Turki yang bakal ngomong nyinyir pada pemerintahannya. Minta dilenyapkan apa…?!

Jadi ini sungguh menarik bahwa sementara itu berbagai negara Islam digoyang oleh keinginan umatnya yang ingin kembali ke sistem khilafah malah pemimpinnya dianggap tidak berpengaruh. Erdogan yang sekuler malah dianggap sebagai muslim paling berpengaruh. Mengapa bisa…?!

Baca juga:  JOKOWI VERSUS ERDOGAN?

Erdogan mengatakan bahwa di Turki hak-hak dan kebebasan semua agama dilindungi. Dan sekulerismelah yang dianggap mampu menjaga hak-hak dan kebebasan semua agama tersebut. Sangar, Bro…!

“Jika saya sebagai Muslim bisa hidup seperti yang saya inginkan maka seorang Kristen dapat melakukannya juga. Hal yang sama berlaku untuk orang-orang Yahudi dan juga untuk ateis,” ujar Erdogan, seperti yang dilansir Daily Sabah. Padahal penduduk non-muslim di Turki hanya 0,2%…!

Pernyataan tersebut disampaikan Erdogan menyusul perdebatan di dalam parlemen Turki, di mana ketua parlemen, Ismail Kahraman menyatakan “Sebagai negara Muslim, mengapa kita harus berada dalam situasi di mana kita mundur dari agama? Kita adalah sebuah negara Muslim. Jadi kita harus memiliki konstitusi agama,”. Usulan Kahraman bahwa prinsip sekularisme “harus dihapus” dari konstitusi Turki ini memicu kemarahan warga Turki. Habislah dia dihujat di negaranya…!

Namun menurut Erdogan, pernyataan Kahraman yang merupakan senior dalam tubuh Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) – partai penguasa Turki, hanya merepresentasikan pendapat pribadi. Bukan pendapat partai maupun pemerintah. “Kahraman hanya menyatakan pendapatnya pada debat konstitusi baru Turki,” ungkap Erdogan, seperti yang dilansir Hurryet Daily News. Erdogan menekankan bahwa sekularisme adalah gagasan yang harus dipertahankan dan perdebatan tentang masalah ini hanya mengganggu agenda negara.

Bukan hanya di Turki Erdogan memegang teguh sekulerisme, ia bahkan ingin mengajak negara-negara Islam untuk menegakkan sekulerisme di negara mereka. Erdogan mengatakan bahwa telah sejak lama dia berusaha untuk menegakan Sekularisme di mana-mana, terutama di wilayah Timur Tengah. Pada kunjungan September 2011 ke Mesir, dia berbicara di hadapan pengikut Ikhwanul Muslimin di Kairo bahwa Sekularisme akan membuat negara menjadi JAUH LEBIH AMAN. “Saya berharap Mesir akan mengadopsi konstitusi sekuler karena SEKULERISME TIDAK ANTI AGAMA. Jangan takut itu,” katanya. Selain di Mesir, di beberapa negara mayoritas Islam lainnya sang presiden juga sempat menyinggung hal yang sama. Dikatakannya bahwa hal yang paling penting adalah untuk memastikan negara memiliki konstitusi sipil. Sebelumnya Erdogan juga tidak menyetujui untuk mewajibkan segenap wanita Turki untuk mengenakan jilbab. Itu adalah hak dan keputusan pribadi wanita Turki.

Baca juga:  Turkey Tour (Part 2) : Turki yg Indah, Makmur, dan Sekuler

Mengapa Turki yang dulunya adalah negara kekhalifahan Ustmani yang sangat jaya sekarang ini menjadi negara sekuler dan justru alergi dengan ide sistem negara Islam, apalagi sistem khilafah? Mengapa justru banyak umat Islam Indonesia yang sama sekali tidak pernah mengalami kejayaan sistem khilafah malah mati-matian menginginkan sistem khilafah dan sangat anti dengan sekulerisme?

Jawabnya adalah : Karena rakyat Turki SUDAH MENGALAMI ke dua sistem negara tersebut dan tahu bahwa sistem sekulerlah yang paling tepat bagi negaranya kini. Sistem khilafah itu sudah benar-benar kuno, jadul, dan tidak rasional bagi mereka. Sedangkan umat Islam Indonesia justru sebaliknya. Mereka BELUM PERNAH MENGALAMI ke dua sistem negara tersebut dan selama ini selalu dicekoki mimpi dan kisah indah masa lalu dari sistem khilafah dan selalu diprovokasi tentang najisnya sistem sekuler. Akibatnya ya seperti sekarang ini.

Surabaya, 16 Desember 2020

Satria Dharma

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *