Selasa, 22 Januari 2019
Just another WordPress site
HANUM SI CALON MAYYIT

Sebuah cuitan dari Hanum Salsabila Rais di Twitter pada Senin (7/1/2019) menarik perhatian saya. Pada kicauannya, Hanum menyebut KPU sebagai sosok wasit yang telah berlaku sebagai Timses dalam kontestasi Pemilu 2019. Tentu saja yang ia maksud adalah sebagai Timsesnya 01. Bagi Anda yang tidak tahu siapa wanita cantik ini sebaiknya Anda caritahu sendiri. Rugi kalau gak tahu siapa dia. J Yang jelas drama teatrikalnya di ILC ketika membela Ratna Sarumpaet sambil menitikkan air mata kapan hari itu sungguh menyentuh hati saya. Ingin rasanya saya ikut menghapus air mata dari pipinya tersebut dengan lembut. Tapi tentu saja keinginan tersebut saya simpan saja dalam hati saya dan tidak saya sampaikan pada istri saya. Lagipula saya kenal aja tidak sama dia.

Begini cuitan putri Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut:

“Wahai wasit, kini bagimu dunia memang begitu nyata, akhirat cuma cerita. Sebagai sesama calon mayyit, hanya ingin mengingatkan bahwa begitu jadi jenazah, akhirat lebih dari nyata, duniapun tinggal cerita. #KPUWasitRasaTimses

Kali ini Hanum memerankan dirinya sebagai ‘calon mayyit’. Betul, dia pakai dobel ‘y’. Itu artinya dia sangat serius memerankan sebagai ‘calon mayyit’ ini. Tentu saja ini peran yang sangat menantang karena biasanya kita mengenal peran-peran mayat hidup semacam ‘Suster Ngesot’, ‘Pocong’, ‘Jailangkung’, ‘Kuntilanak’, ‘Delivering at the Grave alias Beranak dalam Kubur’, ‘Suzzana, Breathing Under the Grave’, ‘Infidel : In Ally with Satan (KAFIR Bersekutu dengan Setan)’ dll. Kali ini Hanum mengambil angle yang unik (ojok kliru karo ‘angel’ lho yo. Sakno arek iki. Dijanjeni 80 juta sak tumpakan tibakno malah silaturrahmi polisi yang ia terima. Ngeriii…! L). Dia tidak mengambil peran sebagai mayyit sebagaimana film-film mainstream lainnya. Dia ingin memainkan peran as a candidate, sebagai calon mayyit. Sungguh anti-mainstream Mbak Hanum ini.

Saya sebetulnya tidak pernah suka nonton film horror. Anak perempuan saya, Tara, yang suka banget nonton film horror, meski pun dia selalu menyumpah-nyumpah setiap kali menonton film horror Indonesia. “Itu film horror apa komedi sih…?!”

Baca juga:  GAK ONOK SING ISLAM MANEH TAH, MUS…?!

Tapi setelah secara kebetulan menonton peran Hanum di ILC tersebut saya langsung kesengsem pada Hanum. Seandainya boleh saya ingin memberinya penghargaan “Piala Citra” atas perannya di ILC kapan hari itu. Jadi kalau kali ini dia ingin memerankan diri sebagai ‘calon mayyit (with double ‘y’)’ maka saya akan memberanikan diri untuk menontonnya. Takut-takut dikit gak apalah. Ini Hanum Rais gitu loh…!

Saya hanya ingin sedikit memberikan kritik padanya. Sedikit…

Mbak Hanum…

KPU itu sebetulnya bukan wasit dalam pilpres ini. KPU itu tugasnya sebagai penyelenggara alias panitia. Dia yang bertugas sebagai penyelenggara pilpres. Kalau yang jadi wasit namanya adalah Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu). Kalau mau tahu lebih banyak sila bacahttps://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Pengawas_Pemilihan_Umum

Soal KPU yang menurut Mbak itu berasa Timses saya rasa perlu dielaborasi lebih dalam. Maksudnya jelaskan mengapa kok KPU berasa Timses dan bukan berasa coklat atau stroberi. Ini perlu untuk membangun konflik dalam kisah horror yang sedang Anda bangun. Masyarakat memang perlu diedukasi dengan benar dan plot kisah yang Anda bangun perlu pendalaman lebih lanjut agar jangan sampai seperti kata anak saya, “Apaan…! Kisah horror kok kayak komedi…!”

Soalnya saya sudah kadung ngefans sama sampeyan, Mbak! Tolonglah…!

 

Surabaya, 8 Januari 2018

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *