Selasa, 20 Februari 2019
Just another WordPress site
MENGAPA SAYA MEMILIH IGI (Bagian 2)

Education is the passport to the future,

for tomorrow belongs to those who prepare for it today.

– Malcolm X

Hampir setiap saat para guru IGI ditanya apa beda IGI dan PGRI. Saya selalu menjawab, “ Mau yang singkat atau yang panjang? Kalau yang singkat bedanya adalah PGRI hanya punya satu ‘I’ sedangkan IGI punya dua ‘I’. Tapi kalau mau yang panjang ada beberapa versi.

Salah satu perbedaan yang saya sampaikan adalah bahwa IGI itu sama dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). IDI itu organisasi profesi yang tentu saja para anggota dan pengurusnya adalah dokter semua. IDI tentu saja tidak menerima bidan dan perawat untuk menjadi anggotanya. Lagipula bidan dan perawat tentu punya organisasi profesinya sendiri. Begitu juga dengan IGI. Di IGI semua anggota dan pengurusnya adalah para guru. PGRI justru pengurusnya mayoritas bukanlah para guru itu sendiri. Pengurus PGRI hampir semuanya adalah para pejabat di lingkup dinas pendidikan, dosen, dan bahkan ada yang tidak sama sekali berhubungan dengan pendidikan dan sekedar pejabat di pemda.

Karena di IGI semua pengurus dan anggotanya adalah guru maka mereka tahu benar apa yang mereka butuhkan dan harus lakukan untuk menjadikan mereka sebagai guru-guru professional. Mereka adalah tuan di rumah mereka sendiri. Pengurus di organisasi mereka sendiri.

“Di IGI kepentingan guru benar-benar terwakili.” demikian kata Abdul Khamid M.Pd I. “Banyak hal yang dibutuhkan oleh guru dan semestinya dipenuhi oleh organisasinya tapi tidak dicover. IGI memenuhi kebutuhan guru akan peningkatan kompetensi dan profesionalismenya. IGI bahkan tidak pernah meminta iuran dari anggotanya, apalagi pungutan yang memaksa.” Sambungnya. “Tidak heran jika IGI membuat cemburu pihak-pihak yang kepentingannya terusik.”

“Mendikbud Anies Baswedan itu sangat respek pada IGI. Ketika di Kongres II IGI di Makassar beliau memuji organisasi ini, “You are small but giant.”. Artinya meski kecil jumlah anggotanya tapi langkah-langkah dan perannya bagi dunia pendidikan Indonesia adalah raksasa.” Demikian diungkapkan oleh Siti Mukarromah, SMAN 2 Bojonegoro.

“Karena bergabung dengan IGI maka saya bisa ikut dan menyelesaikan pelatihan online dari Intel Education Indonesia. Saya berhasil menjadi pemenang pertama tingkat nasional PBL dan implementasi PBL dua tahun berturut-turut,” kata Tugi Hartono, guru MAN 1 Jember. “Dengan ikut IGI saya bisa terus mengikuti kegiatan di Balitbang Kemdikbud dalam pengelolaan web sekolah, di SEAMOLEC dalam kaitannya dengan kelas digital, di Microsoft dalam beragam kegiatan, dan di ASEF dengan kegiatan kolaborasi siswa dan guru ASIA Eropa.“

Wiwik Dwi Rahayu, guru SMPN 1 Sumberejo, Bojonegoro, mengatakan bahwa IGI memberikan kontribusi penting bagi peningkatan pengetahuannya. Dari IGI-lah ia mendapat berbagai informasi penting tentang pendidikan yang tidak atau belum diketahui lingkungan sekolahnya. “Bahkan pernah atasan saya bertanya saya dapat dari mana hal baru yang belum terdengar di lingkup kabupaten. Saya dengan bangga menjawab, “Dari IGI, Pak.” Saya jatuh hati pada IGI karena IGI menawarrkan visi dan misi yang berbeda dengan organisasi profesi lainnya.”

Vivit Eka Damayanti, S.Pd., M.Pd. guru SMAN 1 Ketapang, Sampang mengaku tertambat hatinya pada IGI karena guru-guru di IGI benar-benar tidak ada yang pelit berbagi ilmu. “Slogan yang diusung “Sharing and Growing Together” benar-benar dipraktekkan. Mereka juga punya konsep “Guru Saudara” yang memikirkan bagaimana membantu guru yang ingin belajar ke tempat yang jauh dari tempat tinggal mereka.”

“Sebelum bergabung dengan IGI saya bukan siapa-siapa,” kata Chustini, M.Pd. guru TK Malang. “Saya tidak pernah diperhitungkan dalam kegiatan apa pun. Saya tidak punya nyali untuk tampil bersama teman-teman yang lain. Tapi setelah bergabung dengan IGI saya merasa mendapatkan energi yang mampu mendorong saya untuk maju dan tampil ke depan melampaui teman-teman yang dulu meremehkan saya. Energi positif yang dibangun di IGI memberikan tenaga yang luar biasa kepada saya sampai bisa seperti ini.”

“Bersama IGI saya belajar banyak tentang keikhlasan, tanggung jawab, kerja keras, dan kerja cerdas. Terima kasih IGI, kau telah membuatku seorang pembelajar sejati. ” Luluk Masluchah, S.Si, M.Pd, SMKN 3 Bondowoso.

“Dulu saya bertanya pada simpatisan IGI apa sih yang membuat Anda semua bergabung dengan IGI? Bukankah tantangannya berat, sangat berat, dan mungkin di beberapa daerah muncul fitnah-fitnah yang tidak berdasar?” demikian kata Ernaz Siswanto, S.Pd., M.Pd., guru SDN Punten 01 Kota Batu. Tapi kemudian ia melihat betapa para guru IGI mendapatkan berbagai pelatihan yang tidak pernah ia ketahui seperti pembelajaran jarak jauh online dengan fasilitas Google Classroom. Akhirnya ia ikut dalam wadah belajar IGI Sagusanov (Satu Guru Satu Inovasi) melalui pembelajaran daring. “Praktis saya bisa belajar di malam hari melalui internet tanpa meninggalkan rumah dan keluarga. Di IGI semua guru ingin berbagi ilmu. Sejak ikut IGI saya sampai bingung mau ikut pelatihan daring yang mana, semuanya ada. Bagaikan menu di rumah makan. Bedanya di IGI makanan itu berupa nutrisi keilmuan untuk meningkatkan skill dan kompetensi guru.

”IGI itu bisa dimaknai sebagai Ikatan Guru Ikhlas, Ikatan Guru Inspiratif, Ikatan Guru Impian, Ikatan Guru Indah, Ikatan Guru Ingin maju, Ikatan Guru Ingin bermakna, Ikatan Guru Ingin diberi kesempatan belajar dan meningkatkan derajat profesinya, ingin berinovasi, ingin lebih baik daripada sekarang, ingin lebih dihargai, ingin lebih diapresiasi, ingin lebih bermakna, dll.” Yayuk Sulistyowati, SMPN 1 Bubulan, Bojonegoro.

Mohammad Hairul, S.Pd., M.Pd. Ketua IGI Kabupaten Bondowoso menyampaikan bahwa IGI itu “Bicara Banyak tanpa Banyak Bicara”. “Saya tidak perlu banyak bicara tentang IGI tapi peran IGI dalam kancah dunia pendidikan itu berbicara banyak.”

Inung Sektiyawan, S.Si, guru SMAN 1 Balen, Bojonegoro terkesan dengan IGI setelah berinteraksi dengan para anggota IGI dari berbagai daerah. Dia senang karena banyak di antara rekan-rekan anggota IGI yang memiliki prestasi individual sampai belajar ke luar negeri. Itu memberinya semangat untuk terus belajar tiada henti.

M. Amirusi, M.Pd., Ketua IGI Sampang mengaku bahwa ia mendapatkan beasiswa S-2 karena IGI. Itu karena ia mengikuti Facebook IGI dan mendapatkan informasi peluang untuk mendapatkan beasiswa tersebut. “Bagi saya ikut IGI itu seperti harimau yang berada di hutan atau seperti ikan yang berenang di air. IGI adalah komunitas yang pas untuk saya. Seperti pepatah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Sudah dapat ilmu untuk peningkatan pengetahuan, wawasan, dan kompetensi dapat juga silaturrahim dengan teman-teman dari berbagai daerah.”

“IGI adalah ajang bagi anggotanya untuk berkreasi dan berorganisasi. Hebatnya, IGI tidak pernah menarik uang iuran bagi anggotanya. Kita hanya bayar uang ganti cetak KTA 50 ribu sekali saja. Tapi kita mendapatkan banyak sekali manfaat bergabung dengan organisasi ini.” Hariani Susanti, Bojonegoro.

“Semua yang dibutuhkan oleh guru untuk menjadi guru kompeten dan guru keren ada pada IGI.” Drs. Biwara Sakti Pracihara, M.Pd.

Surabaya, 7 Februari 2019

Salam

Baca juga:  Berpikir "Gek Ngene Gek Ngono"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *