Rabu, 24 April 2019
Just another WordPress site
BERSEDEKAH KATA-KATA

Belakangan ini saya semakin sering bersedekah kata-kata. Bersedekah kata-kata adalah istilah yang saya gunakan untuk menyatakan memberi kata pengantar atau endorsement bagi buku yang ditulis oleh orang lain. Kadang-kadang orang minta kata pengantar atau endorsement bagi buku yang ditulisnya. Belakangan ini semakin banyak orang yang menulis dan semakin banyak orang yang minta kata pengantar dari saya. And I feel honored to do it.

Biasanya orang yang dimintai kata pengantar atau endorsement atas buku yang kita tulis adalah orang-orang yang berpengaruh, orang penting, atau orang yang kita anggap memiliki kapasitas tertentu yang akan membuat buku kita menjadi lebih tampak berbobot atau layak dibaca. Coba bayangkan jika buku yang kita tulis tentang Teknologi Informasi mendapatkan kata pengantar atau dukungan dari Mark Zuckerberg, atau novel yang Anda tulis dapat kata pujian dari J.K. Rowling, buku agama yang Anda tulis dikomentari oleh Buchori dan Muslim atau Ibnu Sina, umpamanya (kan cuma umpama…). Tentulah buku yang Anda tulis akan sangat jos gandoz.

Lalu mengapa orang-orang minta kata pengantar atau endorsement dari saya atas buku yang mereka tulis? Saya menduga bahwa mereka mungkin mengira saya orang yang penting, berpengaruh, atau punya kapasitas tertentu. Dugaan mereka itu mungkin ada salahnya (atau sebaiknya saya tulis mungkin ada benarnya?). Soal terkenal, jika Anda tanyakan nama saya pada teman-teman saya maka insya Allah mereka akan mengenal saya. Oh ya…! Saya kenal dengan Satria Dharma. Dia orang baik, dermawan, senyumnya menawan, pintar nggedabrus, istrinya cantik, anggota istikomah, dulu pernah satu pesawat dengan saya dari Surabaya ke Pekalongan, dll.  Lain cerita jika Anda sebutkan nama saya pada orang yang tidak mengenal saya. Mungkin mereka akan mengira nama saya itu nama sebuah gedung pertemuan, perusahaan travel, atau armada otobis. Jadi soal terkenal atau tidak itu sungguh relatif. Tapi sungguh saya akan merasa sok hebat dan sok penting jika saya menolak permintaan mereka. Lha wong hanya dimintai sedekah kata-kata saja kok ya menolak…! Untuk menuliskan kata pengantar atau kata pujian saya mungkn hanya akan butuh waktu sekitar satu atau dua jam, baik untuk membaca naskah yang mereka tulis dan menuliskan apa kesan saya pada buku tersebut. Karena mereka sudah menganggap bahwa kata pengantar saya itu penting maka jelaslah saya tidak akan menghakimi tulisan atau naskah buku mereka dengan kejam dan tanpa perasaan. Saya tentu tidak akan mengatakan, “Your writing is a total nonsense. Saya jijay dan hampir muntah membacanya.” Tidak. Itu akan menghancurkan hati mereka berkeping-keping. Sebaliknya, saya akan mencari hal-hal positip tentang tulisan mereka dan juga pribadi penulisnya. Ingat bahwa ini sedekah. Dan jika kita bersedekah maka sedekahkanlah yang baik-baik.

Baca juga:  AHMADINEJAD

Kemarin saya dimintai kata pengantar oleh seorang mahasiswa UNESA jurusan Ekonomi yang saya sayangi dan kagumi. Namanya Syaiful Rahman dan ia adalah seorang ‘tretan dibik’ alias anak Madura dari Sumenep yang sangat halus perangainya. Syaiful Rahman ini seorang mahasiswa undergraduate yang wawasannya sangat luas dan pergaulannya mengagumkan saya. Ia bisa berteman dan punya banyak teman dosen bergelar professor atau pun pejabat setingkat direktur bank beraset trilyunan. Ia bisa bergaul dengan mereka tanpa merasa canggung dan tanpa dipandang dengan sebelah mata karena kepercayaan dirinya dan juga kemampuannya menempatkan diri dengan baik. Sikap dan prilakunya yang sopan dan bersahaja, serta kecerdasannya dalam berpendapat membuat semua orang menjadi sayang dan hormat padanya. I wish my sons could do like him.

Meski baru mahasiswa undergraduate tapi Syaiful Rahman ini sudah menulis sebanyak 11 buku, baik buku yang ditulisnya sendiri mau pun bersama para penulis-penulis senior lainnya. Ia akan menulis bukunya yang ke 12 dengan judul “PENDIDIKAN SAPU LIDI :  Rekonstruksi Komprehensif Pendidikan Indonesia” dan ia meminta kata pengantar dari saya. Dan saya dengan senang hati memenuhi permintaannya. Ini sebuah kehormatan bagi saya bisa memberikan kata pengantar pada buku yang ditulis oleh seorang mahasiswa yang luar biasa. The honor is mine (sambil menjura).

 

Saya pernah menyampaikan pada teman-teman dosen bahwa sebaiknya semua mahasiswa didorong untuk menulis dan menghasilkan karya tulisnya sendiri sebelum mereka lulus dan menjadi sarjana, khususnya mereka yang belajar di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra. Saya pikir mungkin kewajiban menulis skripsi bisa diperluas dengan menulis karya tulis lain, selain karya tulis ilmiah macam skripsi yang semakin lama semakin kering dan tidak signifikan bagi siapa pun itu. Jadi saya sangat gembira ketika diminta untuk memberikan kata pengantar atas buku Syaiful Rahman ini. Buku seperti ini bagi saya jauh lebih bermakna ketimbang skripsi yang nantinya mungkin hanya akan mengisi rak atau gudang di jurusan dan tidak akan pernah dibaca oleh orang lain. Buku seperti ini memiliki jangkauan pembaca yang lebih luas dan lebih siginifikan untuk dijadikan pembahasan dan diskusi yang bermanfaat. Buku seperti ini akan lebih merangsang inisiatif dan memberikan inspirasi bagi banyak orang yang berkecimpung di bidang yang ditulis, dalam hal ini dunia pendidikan. Saya bangga pada apa yang telah dicapai oleh Syaiful Rahman dengan karyanya ini. Bagi saya Syaiful Rahman adalah seorang mahasiswa yang luar biasa dan sangat menonjol. Saya sering membayangkan alangkah hebatnya dunia pendidikan kita jika dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa semacam Syaiful Rahman ini. Syaiful Rahman memiliki minat yang luas pada dunia pendidikan dan ia mengamatinya dengan sungguh-sungguh, membuat catatan-catatan, bertanya kesana kemari, membaca literatur, dan kemudian membuat analisisnya sendiri.  Sangat jarang mahasiswa yang memiliki kepekaan, kemauan untuk menjangkau sesuatu di luar bidangnya, memikirkan ulang, menuliskan pemikiran-pemikirannya sendiri, dan kemudian berupaya untuk menerbitkannya. Ini menunjukkan bahwa Syaiful Rahman telah berpikir jauh di atas pemikiran para mahasiswa kebanyakan yang mungkin hanya memusatkan pikirannya pada mata kuliah jurusannya, berpikir untuk segera lulus dan mencari pekerjaan setelahnya.  Syaiful Rahman adalah satu di antara seribu atau sepuluh ribu mahasiswa yang memiliki keluasan cakrawala berpikir, kemauan untuk belajar dan menggali informasi, menganalisisnya, dan kemudian menuliskan dengan trampil dan menarik.

Baca juga:  Sekolah Bertaraf Internasional : Quo Vadiz?

Salut dan hormat untuk Syaiful Rahman.

 

Surabaya, 28 Mei 2017

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *