Selasa, 05 Agustus 2020
Just another WordPress site
NEK AKU BONEK KON KATE LAPO?


Hidup kadang memberikan selingan yang lucu dan menghibur. Tiga hari berturut-turut saya masuk dalam tayangan televisi nasional dalam acara yang berbeda dan dari siaran televisi yang berbeda pula.

Hari Jum’at (6/1/17) kemarin lusa saya menghadiri upacara Mappacci, semacam upacara Ngunduh Mantu ala adat Bugis, di Bukit Serpong Damai, Tangerang Selatan. Yang akan menikah adalah Danies dan Fenty. Danies adalah sepupu istri saya sedangkan Fenty adalah adik dari penyanyi Pasha Ungu. Keluarga istri saya berasal dari Madiun sedangkan keluarga Pasha Ungu ini ternyata berasal dari Sulawesi Selatan. Jadi pernikahan ini akan menggunakan dua adat, Jawa dan Sulsel. Di keluarga istri saya termasuk yang ‘dituakan’ (itu sebabnya saya menjadi semakin tua saja akhir-akhir ini. Beberapa orang bersekongkol untuk ‘menuakan’ saya. Sigh…!) sehingga sering diminta untuk melakukan ini dan itu atau mewakili ini dan itu. Kebetulan ayah Danies memang sudah almarhum sejak lama sehingga saya diminta untuk menjadi semacam wakil orang tua Danies.

Pada waktu acara Mappacci saya melihat serombongan kru yang bertugas membuat video dari acara Mappacci ini. Saya pikir ini sesuatu yang biasa saja karena hampir semua upacara pernikahan sekarang memang divideokan. Calon pengantin bahkan membuat video dan foto-foto pre-wedding segala. Jadi ketika mereka mengambil gambar ketika saya melakukan upacara Mappacci saya pikir hal biasa.

Eh, keesokan harinya saya diberitahu oleh seorang keluarga bahwa ia melihat saya di televisi, entah Metro TV entah Trans TV, pada acara Entertainment atau Infotainment. Saya tentu saja tertawa. “Ngarang-ngarang aja dia ini!” demikian pikir saya, “Mungkin salah lihat orang.”. Ada urusan apa saya dengan tayangan infotainment atau entertainment? Tapi ketika saya ditanya apakah saya mengikuti upacara Mappacci adiknya Pasha Ungu saya baru sadar. Ternyata para kru semalam itu memang kru TV spesial infotainment yang memang sedang memuat tayangan tentang artis. Sekarang ini memang sedang ngetren berbagai tayangan kehidupan sehari-hari para artis atau tokoh terkenal yang dikemas dalam bentuk features atau infotainment.
Tapi Fenty kan bukan artis. Dia hanya adiknya artis. Danies sendiri memang bekerja di Trans TV dan punya acara liputan sendiri, salah satunya adalah pengajiannya Ustad Maulana yang ‘jamaah oh jamaah’ itu. Jadi apa hubungannya dengan infotainment? pikir saya. Ternyata sekarang apa saja bisa dikemas menjadi infotainment untuk disuguhkan pada masyarakat sebagai bentuk tontonan hiburan alias infotainment. “Baiklah kalau begitu, Kakak.” kata saya dalam hati. ini sebuah pemahaman baru bagi saya yang katrok ini.

Baca juga:  SEKOLAH TAK PUNYA BUKU…?! KOK REPOT…!

Esoknya, Sabtu 7/1/17, adalah hari pernikahan sekaligus resepsi dari Danies dan Fenty yang diadakan di Gedung Manggala Wana Bakti, kompleks DPR/MPR, Senayan. Kali ini saya didapuk menjadi saksi nikah dari pihak Danies. Eh, ternyata yang menjadi saksi nikah dari pihak Fenty adalah Gubernur Sulawesi Tengah, Drs. H. Longki Djanggola M.Si. Dari situ saya baru tahu bahwa Fenty ini ternyata berasal dari keluarga politisi yang sangat berpengaruh di Sulawesi Tengah. Saya juga baru tahu bahwa Pasha Ungu (yang nama aslinya adalah Sigit Purnomo Said) adalah Wakil Walikota Palu saat ini. Ayah Pasha ungu sendiri, H. Syamsudin Said, adalah politisi kawakan di Sulawesi Tengah. Jadi Pasha Ungu sebetulnya masih memiliki darah keturunan politisi sehingga ketika berhadapan dengan para politisi ia tidak lagi canggung.

Pada acara pernikahan dan sekaligus resepsi ini berdatangan para selebriti dan politisi. Tentu saja saya yang katrok ini tidak mengenali siapa-siapa saja mereka lha wong saya ini tidak nonton TV atau berita infotainmen. Ketika istri saya bersama saudara-saudara saya minta difotokan dengan seorang tamu saya merasa agak familier dengan wajah tamu tersebut. Setelah saya tanyakan sama istri saya siapa tamu tadi baru diberitahu bahwa itu Anwar Fuady, Ketua Umum PARSI dan yang ternyata adalah juga salah seorang pendiri partai Demokrat. Makanya wajahnya tidak asing rasanya.
Beberapa wajah agak familier yang kemudian saya ketahui adalah Farhat Abas dan Zulkifli Hasan, Ketua MPR. Itu pun setelah disebut-sebut namanya. Saya bahkan agak heran ketika istri saya minta difoto bersama seseorang pemuda yang nampaknya anggota keluarga dari Fenty. Saya pikir siapa dia sehingga istri saya minta difoto bersama? Ternyata dia adalah Pasha Ungu sendiri…! Saya memang tidak melihatnya tadi malam waktu Mappacci karena ia tidak bisa hadir dan hanya istrinya, yang bernama Adel, yang hadir dan diwawancarai terus oleh kru televisi. Sungguh katrok saya ini. Saya bahkan bertanya pada istri saya apa sih lagu-lagu Pasha Ungu yang terkenal tapi hanya dijawab dengan satu kata, “Banyak!” Itu membuat saya merasa semakin bersalah dan merasa sedikit jadi orang yang baru keluar dari gua.

Baca juga:  DILI TIMOR LESTE YANG BERGELIAT

Salah satu tamu yang tampil tiba-tiba dan mengisi acara adalah Ustad Maulana “Jamaah Oh Jamaah”. Kalau ini sih saya tidak asing karena ia punya acara khusus pengajian yang khas. Ternyata Ustad Maulana ini memang seorang entertainer yang sangat ramah dan sangat menguasai audiens. Ia juga sangat populer dan disukai sehingga hampir semua tamu ingin mengajak berfoto dengannya.
Sorenya beberapa orang juga memberitahu saya bahwa wajah saya masuk dalam acara infotainment televisi entah Metro TV entah Trans TV. “Baiklah kalau begitu, Kakak!”, kata saya dalam hati.

Sore itu juga saya langsung balik ke Surabaya karena besok pagi jam 06:00 saya ada Deklarasi Masyarakat Surabaya Anti Hoax di Lapangan Bungkul, Surabaya.

Minggu, 8/1/2017, saya masuk acara TV lagi. Kali ini dalam tayangan berita pagi karena acara Deklarasi Masyarakat Anti Hoax ini dilakukan di 8 kota secara serentak, beberapa di antaranya yaitu di Surabaya, Solo, Semarang, Wonosobo dan Bandung. Acara ini sendiri diliput oleh banyak media, termasuk media televisi seperti Metro TV dan Kompas TV. Sekali lagi teman-teman saya memberitahu bahwa mereka melihat saya di televisi. “Baiklah kalau begitu, Kakak!”, kata saya kembali dalam hati.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas? Begini…

Ketika mengajak masyarakat ikut menandatangani kesepakatan untuk tidak menyebarkan hoax di acara Car Free Day Taman Bungkul yang sangat ramai itu tentu saja saya menemui banyak sekali rombongan orang. Ada pesepeda, pemain musik sawer kampung, rombongan mahasiswa entah dari mana saja, dan juga rombongan para Bonek yang setelah saya tanyai adalah para Bonek Waru. Mereka rata-rata berusia belasan tahun seusia anak-anak SMP dengan seragam kaos Bonek berwarna hijau muda. Mereka saya mintai untuk turut bertandatangan dan mereka dengan senang hati ikut bertandatangan di media yang telah kami sediakan. Saya lihat mereka membawa kardus untuk minta sumbangan, entah untuk apa. Saya lalu memasukkan uang seratus ribu ke kardus tersebut sebagai tanda terima kasih bahwa mereka telah bersedia menjadi bagian dari Gerakan Masyarakat Surabaya Anti Hoax. Eh, lha kok mereka langsung berebut mencium tangan saya sebagai rasa terima kasih…! I was really suprised and feel touched as well. ini anak-anak bonek lho, bukan anak-anak pesantren yang sering saya datangi dan melakukan hal yang sama. Ternyata anak-anak bonek kita ini masih memegang teguh sopan santun dan rasa terima kasih pada orang sama seperti anak-anak pesantren. Mereka itu sama dengan anak-anak kita sendiri di rumah yang meski pun kelihatan urakan tapi masih memegang teguh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Saya terharu dan sekaligus bersyukur. Alhamdulillah…!
Salah seorang dari bonek tersebut adalah anak perempuan yang memakai kaus bertulisan yang sangat menarik, yaitu “Nek Aku Bonek Kon Kate Lapo?” yang artinya “Kalau Saya Bonek Kamu Mau Apa?”. Tentu saja nada dari kalimat ini terasa provokatif dan menantang. Ada nuansa pembangkangan dan perlawanan terhadap orang-orang yang menganggap rendah atau sinis terhadap para bonek ini. Coba pikir baik-baik kalimat ini, “Kalau Saya Bonek Kamu Mau Apa?”. Sungguh menggemaskan dan pingin nyubit aja rasanya.
Untungnya arek Suroboyo itu memang kreatif dan cerdas. Kalimat yang menggemaskan ini dijawab dengan kalimat yang tidak kalah menggemaskannya, yaitu “Nek Kon Bonek Aku Kate Lapo?” yang artinya “Kalau Kamu Bonek Aku Mau Apa?” Yah, kalau kamu Bonek aku mau ngapain? Kita gak ada masalah kok, Bro. Ayo podo urip sing rukun.
Bukankah itu sangat kreatif dan lebih menggemaskan?

Baca juga:  SAFARI RAMADHAN

Bonek, I love you full…!
Surabaya, 9 Januari 2017
Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *