Sabtu, 23 Agustus 2019
Just another WordPress site
In Memoriam

“We can’t have old days back When we were all together. But happy moments and loving thoughts of you Will be with us forever.”

Terjemahannya adalah : Waktu tidak dapat diputar kembali Ketika kita masih bersama Namun setiap momen bahagia dan Kenangan indah bersamamu Akan selalu ada di hati kami Selamanya…

So beautiful…!

Saya menantang siapa saja yg gila lagu-lagu Barat utk mengingat-ingat kira-kira kalimat-kalimat indah ini diambil dari potongan lagu apa, siapa yg menyanyikan pertamakali, kapan menjadi ‘hits’, dan ‘award’ apa yg pernah diraihnya. Saya menyediakan hadiah besar bagi yg tahu. Hadiahnya sedikit di bawahnya mobil.

(Di bawahnya mobil berarti keset)

Kalau ada yg tahu berarti memang benar-benar luar biasa. Saya akan acungkan beberapa jempol sekaligus karena saya sendiri tidak tahu apakah ini memang potongan lagu atau bukan. Saya menemukan kalimat-kalimat indah ini di harian Jawa Pos. Judulnya sendiri adalah ‘In Loving Memory’ di kolom Berita Duka yg bertaburan di harian Jawa Pos. :-D. Ini memang ucapan Berita Duka yg saya ambil dari koran.

Kalimat ini sangat puitis dan dengan mudah kita mengira bahwa itu adalah sebuah potongan lagu romantis. Saya memang sering mengamati iklan duka cita yg mengisi harian yg saya baca dan sering takjub dengan banyaknya keluarga besar yg ikut berdukacita. Ada anak, menantu, cucu, yg semua dipisahkan berdasarkan gender laki-laki atau perempuan. Selain itu ada juga yg dipisahkan oleh hubungan keluarga atau marga dengan istilah ‘luar’ dan ‘dalam’. Jadi ada istilah ‘cucu dalam laki-laki’ dan ‘cucu luar perempuan’. Cucu dalam berarti masih dalam garis keluarga berdasar marga sdgkan yg ‘luar’ berarti ikut marga lain.

Itu artinya jika saya punya cucu perempuan yg berasal dari anak perempuan saya akan disebut ‘cucu luar perempuan’. Bapaknya kan bukan bermarga ‘Dharma’. Plis jangan keliru dengan ‘cucu perempuan luar’. Kalau ‘cucu dari perempuan luar’ berarti ya mestinya tidak masuk daftar secara resmi. Bisa geger keluarga pada waktu pemakaman nanti.

Baca juga:  ISLAM NUSANTARA VS ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

Selain banyaknya keluarga yg ikut berduka ternyata banyak perusahaan yg juga ikut berduka. Maksudnya manajemen dan karyawan perusahaan-perusahaan keluarga dan rekanan biasanya juga ikut mencantumkan nama perusahaannya. Jadi kalau saya meninggal nanti mungkin selain muncul nama keluarga saya yg berdukacita akan muncul juga nama yayasan dan perusahaan tempat sy bekerja atau ikut mendirikannya. Mantap Bro…! Saya bayangkan akan tertulis disitu “In Loving Memory. Telah Berpulang ke Rumah Asalnya dengan sangat tenang dan tanpa menimbulkan kehebohan sama sekali. Satria Dharma. (Tuhan telah mengampuni semua dosa-dosamu. Sungguh!) Turut berdukacita semua anak, istri (hanya satu), saudara, ipar, menantu, cucu dalam dan luar, teman-teman laki dan perempuan luar dan dalam (tapi kalau perempuan luar-dalam sumpah hanya satu. Samber bledeg deh)” Setelah itu baru berjejer-jejer nama sekolah dan perusahaan yg ikut berdukacita, yaitu : IGI, IKA Unesa, Eureka Academia, Stikom Balikpapan, Stikom Bali, SMKTI Bali Global, Bank Mandiri, Bank BCA, Bank Danamon, Bank BTN, Bank BNI, dll. Jangan salah (dan sirik) ya…. Saya ini nasabah bank-bank tersebut dan termasuk nasabah lama yg tidak pernah menimbulkan masalah. Saya tidak pernah ribut soal bunga uang saya yg sy simpan di bank-bank tersebut. Saya ikut antri dengan tertib kalau urusan ke bank. Saya menjawab dengan sopan sapaan petugas securitynya. Saya tidak pernah tanya-tanya no HP petugas banknya yg cantik-cantik itu. Saya cuma nyimpen uang ndak pernah pinjem (yg minjem yayasan. Sumpah! Saya cuma disuruh tandatangan dan pulangnya disangoni). Jadi kalau kelak saya awarahum tentunya bank-bank tersebut akan berdukacita dong kehilangan nasabah premium seperti saya. Mosok sekedar mengirim karangan bunga ukuran 2 X 3m dan iklan koran gak mau…?!

Saya sebetulnya berangan-angan ada sedikit upacara militer lengkap dengan tembakan salvonya utk mengiringi turunnya peti jenazah saya ke liang lahat. Bayangkan kerennya…! Teman-teman saya pasti akan ndlahom pol, ngiler dan mulutnya kemasukan laler begitu tahu ternyata saya mendapatkan penghargaan pemakaman ala militer. Wis talah! Pasti mereka tidak akan tahan utk tidak bisik-bisik kasak-kusuk bertanya ke kiri dan ke kanan kapan saya pernah masuk militer? Potongan manusia soleh begitu kok ternyata militer ya? Kalau lihat tegapnya tubuh saya mungkin ada yg menduga saya pernah di marinir. Kalau lihat pintarnya saya mungkin dikira pernah di Kopassus. Satria itu ikut angkatan darat, laut, atau udara? Mereka tentu tidak percaya kalau saya pernah mengalami ketiga-tiganya, yaitu darat, laut, dan udara. Maksud saya, saya pernah mengalami mabuk laut, darat, dan udara. Hanya mabuk kepolisian yg belum pernah saya alami.

Baca juga:  MEMBIAYAI ZOMBIE MASUK KE PERKAMPUNGAN KITA

Tapi setelah saya pikir-pikir akhirnya angan-angan itu saya batalkan. Untuk apa semua itu bagi saya yg sudah awarahum? Meski pun seandainya kematian saya dirayakan dengan Jazz Jam Session, lomba gerak jalan Surabaya-Mojokerto, Festival Makanan Tradisional Bango, dan diliput oleh CNN dan Al Jazeera toh saya tidak tahu dan tidak butuh. Semua itu sudah tidak ada manfaatnya bagi yg sudah awarahum. Mohon dibatalkan saja acara-acara itu (tertanda Satria Dharma di Alam Kubur).

Saya bahkan pernah pesan sama istri saya begini : “Yang, nanti kalau saya sewaktu-waktu meninggal sedangkan kamu masih cantik, semlohai, sugih, dan ada yg semrinthil sama kamu dan kamu juga ada hati sama dia, begitu selesai masa iddahmu ndang rabio maneh. Carilah suami lagi. Teruskan kesenangan hidupmu di dunia dan tidak usah mikiri saya yg sudah dikubur. Saat itu saya tentu sudah tidak perduli dengan semua hal yg ada di dunia lha wong sudah enak-enakan di alam lain. Saya itu selalu yakin bakal menemui kehidupan yg jauh lebih menyenangkan di kehidupan saya selanjutnya. Jadi mengapa saya tidak merelakanmu utk menikmati hidupmu juga di dunia, sayangku dan cintaku? Why should I care with ‘dunyo’ thing? Saya sudah di alam muksa.

“Apa komentar orang nanti kalau saya segera menikah lagi sepeninggal Yayang?”, tanya istri saya. “Nanti saya dianggap sebagai istri yg tidak setia.”, sambungnya.

Saya ngakak mendengar responnya ini. Jadi saya jawab, “Setia itu ketika pasangan kita masih hidup. Kalau sdh meninggal tidak perlu setia. Untuk apa kesetiaan ketika pasangan sdh tiada? Untuk siapa kesetiaan itu? Jangan seperti orang lain yg ketika pasangannya masih hidup slingkah-slingkuh kesana kemari tapi ketika pasangannya sdh mati malah ‘setia’. Itu terbalik namanya.”

Baca juga:  Tuesdays with Morrie

Dan bingunglah istri saya mendengar pendapat saya yg top markotop itu. Belum pernah ia mendengar pendapat yg begitu orisinil macam itu. Saya memang pintar membuat kalimat-kalimat canggih yg bisa bikin lawan bicara rindu Paramex.

“Cekak aos”, tambah saya, “Aku ingin Yayang setia ketika aku masih hidup. Kalau aku udah dikubur nggak usah setia-setiaan. I cannot appreciate it anymore.”

Tapi istri saya tentu tidak akan menyerah begitu saja. (Istrinya siapa dulu dong…!) :-). Ia lalu kembali bertanya, “Bagaimana kelak ketika kita sama-sama sudah di akhirat nanti? Apa Yayang tidak kaget ternyata saya punya suami lain sepeninggal Yayang?” tanyanya dengan pandangan menyelidik.

Kalau cuma pertanyaan gitu jelas tidak akan membuat seorang Satria Dharma kebingungan. Piece of cake. Jago debat kok keok oleh istrinya sendiri (seringnya memang begitu sih). “Oalah…! Gitu aja kok dibuat repot toh. Sy kan bisa minta sama Tuhan utk menggandakan Yayang supaya kami masing-masing dapat satu. Mau digandakan sampai sepuluh, dua puluh orang gak masalah. Jadi gak perlu sampai bertengkar memperebutkan Yayang di sorga nanti. Malu sama Tuhan. Lagipula kalau saya masuk surga kan saya bisa minta gadis lain secantik apa saja. (Ehem…!) Opo angele…?! Kita ada di sorga gitu loh!” jawab saya sambil tertawa sedikit meremehkan.

Eeeh…, lha kok saya malah dicurigai sama istri saya mau segera kawin lagi kalau ditinggal mati olehnya…!

Memang repot bicara terus terang sama istri. Padahal maksud saya itu tulus lho! Sumprit galaguprit…!

Surabaya, 11 Maret 2013

Salam Satria Dharma https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “In Memoriam”

  1. lukman berkata:

    ringan, mencerahkan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *