Selasa, 25 Februari 2020
Just another WordPress site
Hilangnya Kesenangan (dan Nalar) dalam Matematika

Sabtu pagi kemarin Mas Nanang, Habe dan saya meluncur ke Bandung utk menghadiri Pidato Ilmiah dalam acara pengukuhan guru besar Prof Iwan Pranoto di ITB. Kami diundang khusus oleh Mas Iwan utk hadir dan tentu saja ini sebuah kehormatan buat kami utk menghadirinya. Sangat jarang ada profesor yg mengundang saya pada pengukuhannya. Utamanya karena teman saya yg naik jadi profesor juga jarang lagipula teman-teman yg sudah profesor juga mungkin tidak pernah berpikir utk mengundang saya pada pengukuhan mereka. Olaopo…?!

Mas Iwan ini teman yg unik. Meski ia ilmuwan matematika tulen (dan juga sudah sama botaknya dengan saya) tapi ia teman yg asyik diajak ngobrol berbagai hal. Sebagai matematikawan ia samasekali tidak membosankan karena prinsipnya matematika itu sebenarnya bukan hanya bicara soal fungsi tapi juga bicara soal estetika. Bicara soal estetika maka jelas matematika itu kesenangan (leisure). Haah…?! Math is leisure…?! Yang bener aja bos…! Kalau ‘math is also leisure’ maka anak-anak Indonesia yg getol banget main game tentulah akan menyukai matematika. Faktanya…?!

“Justru itu”, katanya. “Kesenangan (leisure) sudah menghilang dari Matematika sehingga ia justru menjadi monster kini”.
Dan berceritalah ia dengan asyiknya tentang kesenangan dalam matematika dan saya tenggelam dalam angan-angan saya utk memfotokopi dirinya utk saya sebarkan ke mana-mana. I wish I could copy him as many as possible…

Judul pidato ilmiahnya adalah “Menggali Hakikat Bermatematika Melalui Pengembangan Teori Kontrol”. Kalau Anda tidak paham apa itu Teori Kontrol dalam matematika tidak perlu merasa bodoh. Sampai pidatonya selesai pun saya juga belum paham kok (except for the philosophy)! Padahal sebelum Mas Iwan mulai ia berjanji utk menjelaskannya semudah mungkin sehingga anak SMP pun akan bakal mengerti. But I guess I’m not smarter than 5 grader. Let alone junior high…! Lha wong meski katanya rumusnya sederhana dan ‘indah’ teori ini tetap saja mengusung rumus-rumus matematika yg panjangnya dari ujung kiri sampai ujung kanan halaman…!
Mas Iwan memulai pidatonya dengan pertanyaan filosofis apakah matematika itu diciptakan atau ditemukan. Dan berceritalah ia tentang gagasan bilangan asli 1,2,3…yg sudah lahir sejak alam semesta ini baru berbentuk partikel. Got that…?!
Setelah itu budaya manusia berkembang dimulai dengan memungut makanan, lalu berburu, lalu berevolusi bertani, berindustri, menjadi masyarakat informasi, menjadi wisdom dan kini adalah saat utk berbagi…

Baca juga:  MENGAPA LITERASI ITU PENTING BAGI BANGSA?

I got it, Prof…!

Dan Mas Iwan meneruskan bertutur dengan sangat menariknya tentang peran budaya sejak jaman memulung dengan upaya mengendalikan lingkungannya. Dari sinilah muncul Teori Kontrol atau Kendali dalam matematika. Sayang sekali ketika ia menjelaskan tentang Teori Kontrol dalam matematika saya mengalami sedikit gangguan pemahaman sehingga tidak bisa menjelaskan kepada Anda dg cukup baik. Tapi kalau Anda merasa cukup cerdas coba pahami kalimat ini.
“Salah satu perumuman sistem kontrol linear berdimensi hingga adalah Distributed Parameter System (DPS) atau sistem berparameter terdistribusi”. Kalau belum kapok nih kuterusin kalimatnya. “Disini, ruang vektor berdimensi hingga diganti dengan ruang vektor berdimensi tak hingga. Lebih tepatnya ruang vektor R pangkat n digantikan oleh ruang fungsi. Jadi, yang tadinya, setiap keadaan disajikan sebagai sebuah titik atau vektor di R pangkat n diganti dengan sebuah fungsi”

Silakan mabok! (Makanya jangan sok jago…!)

Meski demikian, bagi Mas Iwan matematika itu art, seni yg sama indahnya dengan lukisan Pablo Picasso. Ayoooo…! Siapa yg tahu hubungan antara matematika dan lukisan “Bull, Stage XI” Pablo Picasso…?! Untung saya datang pada acara pidato ini sehingga saya agak paham (meski agak remang-remang). Pokoknya ada hubungannyalah…! 😀

Banyak hal dan ilustrasi yg disampaikan dalam pidato sejam penuh yg membuat saya benar-benar terpaku. Begitu memikat dan inspiratif!
Mas Iwan membeberkan hasil tes TIMMS dan PISA yg selama dilakukan pada siswa kita dan ternyata hasil tes siswa Indonesia berada pada level 2, jenjang paling minimum yg diprediksi tidak akan mampu berfungsi efektif di dunia global ini. Astaganaga….!
Yang lebih mengejutkan pelajar Indonesia yg diuji secara acak tersebut tidak ada yg memiliki performa tinggi (level 5 dan 6) Jadi bukan hanya masa depan matematika siswa kita sangat suram tapi bahkan masa depan bangsa kita juga ikut suram karena keadaan ini akan membuat bangsa kita kekurangan pekerja berpengetahuan kelas menengah pada saat mereka memasuki dunia kerja.
Semua ini adalah karena rendahnya mutu praktik pendidikan matematika sekolah yg umumnya tak bermakna dan juga tak menyenangkan (brings no leisure). Dengan kondisi seperti ini jelas akan tidak mudah bagi kita utk melahirkan pemimpin dalam matematika, sains, rekayasa, dan SENI yg handal. Bahkan akan sangat sulit utk menyiapkan warga Indonesia utk berperan aktif dalam kehidupan abad 21 yg mendukung pembangunan berkelanjutan.
Saat ini praktik pengajaran matematika sekolah Indonesia berpusat pada penyampaian bertumpuk-tumpuk pengetahuan tak bermakna dan latihan-latihan ketrampilan sepele yg mengasingkan proses bernalar. Pendidikan matematika kita masih saja berfokus pada melatih siswa utk trampil menghafal rumus dan berhitung cepat tanpa makna. Padahal ini sudah dihapuskan dari sasaran belajar negara lain dan mereka lebih menekankan pada kebermaknaan dan pengembangan penalaran.

Baca juga:  Satu Buku Setahun dan Dua Buku Tahun Ini

Prof Iwan Pranoto mengritik keras Ujian Nasional (UN) yg menurutnya mengukur kecakapan kadaluarsa yg sudah tak sesuai dg tuntutan jaman sehingga menyebabkan guru dan siswa malah berlomba-lomba mengejar ketrampilan bermatematika yg sebenarnya sudah tak dibutuhkan di masa kini apalagi di masa mendatang.
Akibatnya kemampuan berpikir kritis justru menghilang dan kita hidup dalam budaya nir-nalar.
Melalui pendidikan matematika yg bermakna dan menyenangkan diharapkan melahirkan warga Indonesia yg cerdas, kritis, dan kebal terhadap propaganda seperti tujuan dari the learning society yg disampaikan oleh Hutchins.

Mas Iwan menutup pidatonya dengan sebuah ucapan, “I’m very bad for being adult so becoming a math teacher is the best decision I’ve ever made.”

Jakarta, 31 Maret 2012
Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *