November 30, 2022

0 thoughts on “Apakah Penelitian itu Bermanfaat bagi Dunia Pendidikan Kita?

  1. salam kenal. secara kebetulan saya adalah salah satu peserta yang menghadiri seminar itu, yang duduk persis di derertan depan kursi bapak, dan diberi kartu nama bapak.setelah membaca serangkaian kata yang indah di atas, terbersit pemikiran, mungkinkan semua orang di Indonesia berpikiran seperti itu?. sebagai peneliti yang makalahnya diposterkan kemarin, saya merasa bangga akan pencapaian prestasi itu, meskipun penelitian itu dalam skala kecil, bukan berarti saya berkecil hati untuk tidak menyebarkan informasi dan pengetahuan yang saya ketahui. saya menerapkan hasil penelitian saya dari scoop kecil dan berharap efect snowballing muncul dan menjadi bagian dalam perubahan karakter yang kita harapkan dalam bangsa ini. nilai materi bukanlah suatu ukuran pengejaran target saya, adanya perubahan (meskipun hanya sedikit) cara pandang orang tua yang saya berikan pemahaman merupakan nilai kepuasan batin. semoga ini menjadi bagian pencerahan dari ungkapan kritik yang disertai saran atau rekomendasi yang memang terbukti nyata dibutuhkan oleh pengguna. salam kenal dan salam sukses untuk guru2 di Indonesia.

  2. Bapak Satria Dharma yang baik,

    Selamat pagi. Saya akan langsung saja pada pokok pikiran yang ingin saya sampaikan:

    1. Tulisan Anda yang menyatakan bahwa SMERU bersedia membiayai Bapak Bambang Sumintono untuk menjadi salah satu penyaji makalah di Seminar Riset Kebijakan Pendidikan Anak di Indonesia karena tertarik dengan judul makalah beliau adalah satu potongan informasi yang tidak utuh. Perlu Anda ketahui (saya akan tetap tulis walaupun mungkin Anda tidak merasa memerlukan informasi ini), seminar yang diselenggarakan pada 17 November 2011 tersebut mengundang pemakalah dari beberapa daerah di tanah air. Setelah melalui proses seleksi, 20 makalah terpilih untuk disajikan dalam seminar. Kemdikbud, sebagai salah satu pemrakarsa dan penyedia dana, menanggung biaya transportasi dan akomodasi semua penyaji makalah. Sedari awal memang tidak ada ketentuan yang dengan jelas mengatur bahwa panitia hanya menanggung penyaji makalah dari dalam negeri. Ketika akhirnya kami temukan bahwa salah satu calon penyaji makalah (Pak Bambang S) tinggal dan mengajar di Malaysia, keempat institusi penyelenggara (Kemdikbud-Bappenas-Unicef-SMERU) pun melakukan koordinasi. Manajemen SMERU memutuskan untuk mengambil alih kewajiban mengganti biaya transportasi (hanya biaya transportasi) Pak Bambang. Keputusan tersebut diambil karena SMERU melihat semangat beliau untuk menyajikan temuannya pada seminar tersebut dan, toh, memang biaya transportasi dari Malaysia ke Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan biaya transportasi ke Jakarta dari beberapa daerah di bagian timur Indonesia. Akomodasi beliau tetap disediakan oleh Kemdikbud. Anda bisa bertanya kepada Pak Bambang Sumintono untuk memastikan hal ini. Bahkan andai Anda lebih dulu bertanya kepada beliau sebelum menulis artikel di bawah, informasi yang Anda sampaikan pasti jauh lebih lengkap dan tidak bersayap (kecuali jika Anda memang sengaja membuat isi artikel bersayap yang bisa membawanya terbang ke arah yang hanya Tuhan, dan Anda, yang tahu).
    2. Kantor SMERU mengundang Pak Bambang Sumintono sebagai narasumber dalam sebuah acara diskusi (18 November 2011) bukan semata-mata karena SMERU yang mengganti biaya transportasi beliau. Seperti yang Anda siratkan di artikel di bawah, pendidikan (bukan cuma RSBI dan ujian nasional) adalah sektor yang berhubungan dengan kemiskinan. SMERU tidak memandang remeh sektor pendidikan. Acara diskusi tersebut justru diadakan untuk menambah wawasan staf SMERU pada sektor itu. Kebetulan Pak Bambang Sumintono bersedia dan untuk itu SMERU sangat berterima kasih.
    3. Saya sangat prihatin atas kebosanan yang Anda rasakan pada saat seminar berlangsung. Saya hanya bisa membayangkan penatnya otak seseorang yang mendapatkan informasi yang itu-itu saja dari waktu ke waktu sehingga tidak bisa lagi merasakan pentingnya informasi tersebut bagi dunia di sekitarnya. Dari sekian banyak informasi yang beredar pada acara seminar itu, pasti ada yang berguna. Sebagaimana beauty is in the eye of the beholder, sepotong informasi bisa menjadi remeh atau penting tergantung pada si penerima. Saya pernah mendengar perkataan yang kira2 begini bunyinya, “…it’s not about discovering a new land. It’s about looking at the old land with a new perspective.” Hal yang terlihat atau terdengar membosankan mungkin bisa menjadi hal yang luar biasa bila dipandang dari sudut berbeda. Namun saya yakin Anda sudah mengetahui hal itu.

    Di luar itu semua, saya yakin banyak hal positif yang bisa diambil dari artikel Anda, baik untuk SMERU maupun dunia pendidikan pada umumnya. Mudah-mudahan segala upaya yang dilakukan oleh para peneliti kita dalam rangka perbaikan mutu kehidupan orang-orang di sekitar kita akan memperlihatkan hasil nyata, sekecil apapun itu.

    Salam,

    Mukti Mulyana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *