Jika pemerintah mau membuat (lagi) model sekolah unggulan, itu artinya mau mengulangi kegagalannya yang dulu. Itu artinya pemerintah TIDAK BELAJAR dari pengalamannya. Dulu diberi nama Sekolah Bertaraf Internasional dan walau pun waktu itu masih rintisan sudah gagal. Jadi baru dirintis saja sudah gagal. Dan sekarang mau mencari gagal lagi…
Sekedar mengingatkan (kembali), program yang sama juga pernah dilakukan oleh pemerintah Malaysia dan mereka JUGA GAGAL. Nama program ini di Malaysia adalah PPSMI (Pengajaran dan Pembelajaran Sains dan Matematik dalam Bahasa Inggeris). Malaysia bahkan sudah lebih dulu menjalankan program tersebut tapi begitu mereka melihat bahwa ternyata program ini tidak berjalan seperti yang mereka harapkan mereka dengan segera menghentikan program ini. Kalau di Indonesia program ini dihentikan oleh MK melalu pengadilan karena digugat oleh masyarakatnya sendiri. Jika Anda ingin tahu lebih lanjut sila baca di sini.
Sekadar info, Malaysia jelas jauh lebih siap untuk memiliki sekolah unggul ketimbang Indonesia. Saya sendiri di tahun 2003 sudah berkeliling ke sekolah-sekolah di Malaysia (Sabah dan Serawak) dan bahkan ikut duduk di kelas PPSMI ini untuk melihat langsung pelaksanaannya (saya juga pernah masuk di kelas RSBI di Denpasar, Bali). Ketika saya berkunjung ke sekolah-sekolah di Malaysia sampai ke Sabah dan Serawak untuk mengamati program ini ternyata para guru Sekolah Rakyat (SD) mereka mampu berbahasa Inggris dalam menjelaskan pelajaran dengan baik dan siswa yang saya tanyai juga menjawab bahwa mereka bisa memahami apa penjelasan guru dalam bahasa Inggris. Waktu itu saya langsung berkata, “Ini luar biasa. Amazing…! They cannot fail.” kata saya dalam hati.” Program ini saya yakin akan mengantarkan Malaysia menjadi negara maju dunia.
(Tapi ternyata saya salah… Pemerintah Malaysia juga salah). 😎
Sekadar untuk diketahui, pada tahun 2003 ketika saya berkeliling di banyak sekolah di Malaysia (dan Brunei) mayoritas sekolah (utamanya sekolah swasta) di kota besar Malaysia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Para guru Malaysia banyak yang bergelar MA dan PhD lulusan luar negeri dan bahasa Inggris mereka membuat saya yang lulusan jurusan bhs Inggris menjadi minder. Pokoknya soal bahasa Inggris Malaysia jauh di atas kita. Lha gimana wong Bahasa Inggris itu Bahasa kedua mereka sedangkan bagi kita Bahasa Inggris adalah bahasa asing. Kesiapan SDM guru mereka jelas jauh di atas kita. Secara infrastruktur dan SDM Malaysia jelas jauh lebih siap daripada Indonesia. Bahasa Inggris adalah bahasa kedua di Malaysia (bahasa Inggris adalah bahasa asing di Indonesia dan bahasa Indonesia adalah bahasa kedua di Indonesia). Buku pelajaran mereka juga sudah berbahasa Inggris.
EVALUASI PROGRAM
Untuk mengevaluasi apakah program mereka berhasil sesuai dengan yang dicita-citakan atau tidak pemerintah Malaysia melalui Kajian Permuafakatan Badan Ilmiah Nasional (Pembina) melakukan riset serius secara akademik.
Riset evaluasi program ini melibatkan 53 pakar bahasa dan melibatkan tujuh universitas dan dilakukan sejak bulan Juni hingga Desember 2008. Universitas yang terlibat diantaranya Universiti Putra Malaysia, Universiti Teknologi Malaysia, Universiti Pendidikan Sultan Idris, Universiti Sains Malaysia dan Universiti Teknologi Mara.[11]. Riset ini melibatkan 15,089 orang berbagai jenis dan tingkatan sekolah dari berbagai kota di seluruh Malaysia. Sejumlah 553 guru termasuk kepala sekolah, guru besar dan guru dipilih sebagai sampel bagi kajian yang dijalankan selama tujuh bulan ini.
Hasilnya…?
Dari riset skala besar yang melibatkan pakar dari tujuh universitas negeri di Malaysia dan lebih dari 15 ribu siswa ini ternyata program PPSMI ini tidak menghasilkan apa yang diharapkan pencetusnya. Yang bisa survive hanya sekolah yang berada di kota besar dan sekolah berasrama di kota; jenis sekolah lainnya nyaris tanpa ampun terjadi degradasi penurunan mutu. Jadi alih-alih akan meningkatkan mutu pembelajaran Matematika dan IPA SECARA NASIONAL yang terjadi justru sebaliknya. Yang terjadi adalah kemerosotan kualitas pembelajaran MIPA pada siswa. menimbulkan kerugian berganda kepada kepada murid, terutama kepada 75 % murid yang tergolong dalam kategori pencapaian sederhana dan lemah dalam tiga mata pelajaran, Bahasa Inggeris, Sains dan Matematik. Selain itu disimpulkan bahwa PPSMI hanya mampu menunjukkan peningkatan minimum kepada penguasaan bahasa Inggeris sebanyak 4% (empat persen) dan justru membunuh minat, semangat dan kegairahan murid-murid untuk belajar Sains dan Matematik sejak di peringkat SD.
Indonesia sendiri juga mengadakan riset di bawah Balitbang dan hasilnya juga sama. Sila baca tulisan saya di sini.
Tapi Indonesia itu memang ndableg. Pemerintah Indonesia sebaliknya malah bersikeras bahwa mereka masih bisa berhasil dengan program ini meski tidak pernah menjelaskan bagaimana cara mereka akan berhasil dengan modal dan kapasitas pendidikan yang jauh lebih rendah ketimbang Malaysia. Meski mendapat kecaman keras dari berbagai pihak dengan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasionalnya (RSBI) tapi pemerintah nampaknya bertebal muka dan akan tetap melanjutkan program itu. Suyanto, Dirjen Mandikdasmen kala itu, mengatakan pemerintah akan tetap meneruskan program kontroversial ini meski tahu bahwa di Malaysia program yang serupa telah gagal dan akan dihentikan (Tempo, Edisi 11-17 April 2011). “Kita tidak usah ikut-ikutan Malaysia,” ujar Suyanto seperti dikutip di Tempo. Tidak jelas apa alasan yang mendasari optimisme Suyanto bahwa program ini bakal mendulang sukses di Indonesia.
Karena kengototan itulah akhirnya yang membuat masyarakat yang diwakili oleh Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) menggugat pemerintah (Kemdikbud) ke MK yang hasilnya telah kita ketahui bersama, yaitu Pemerintah harus menghentikan program ini. Lha wong sudah jelas ngawurnya kok gak mau dihentikan. Dengan amar putusannya untuk menghentikan program RSBI sebenarnya Mahkamah Konsitusi (MK) telah menyelamatkan muka Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan sudah semestinya Kemdikbud berterima kasih pada MK. Sebetulnya tanpa harus digugat oleh masyarakat ke MK Kemdikbud harusnya sudah menghentikan sendiri program RSBI ini. Karena program RSBI ini memang program gagal total dan tidak mungkin berhasil. Program ini sama sekali tidak punya masa depan.
Program Sekolah Unggulan Prabowo ini juga rentan untuk digugat ulang di MK karena menciptakan ketidakadilan bagi masyarakat. Program ini akan dianggap memperlakukan siswa didik secara diskriminatif. Siswa sekolah unggulan yang hanya 1% akan mendapatkan fasilitas dan pembiayaan yang luar biasa besar sedangkan siswa yang non-unggulan yang 99% jelas akan mendapatkan pembiayaan dari negara jauh di bawahnya. Padahal nantinya siswa sekolah unggul ini pasti akan didominasi oleh siswa yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah keatas. Jadi pemerintah akan mensubsidi siswa dari kalangan menengah jauh lebih besar ketimbang siswa dari kalangan bawah.
Lalu bagaimana sebaiknya…?! Kan sudah saya beri solusi yang sangat bagus di tulisan saya di Part 1 sebelumnya. Baca dong…! 😁
NB: Tolong sebarluaskan artikel ini agar bisa sampai ke Pak Prabowo dan mudah-mudahan bisa dijadikan pertimbangan untuk menghentikan program sekolah unggulannya yang mumpung belum dimulai. 🙏
Referensi:
https://ms.wikipedia.org/wiki/Pengajaran_dan_Pembelajaran_Sains_dan_Matematik_dalam_Bahasa_Inggeris
http://ms.wikipedia.org/…/Pengajaran_dan_Pembelajaran…
http://dikdas.kemdiknas.go.id/docs/Kebijakan-SBI.pdf
http://iwansyahril.blogspot.com/2008/ 09/mungkinkah-guru-indonesia-menggunakan.html
https://satriadharma.com2010/…/tiada-hari-tanpa…/
http://www.slideshare.net/…/paparan-wamendiknasdi…
http://www.academia.edu/…/Indonesias_International…
http://www.academia.edu/…/AreInternational_Standard…
http://www.mudjiarahardjo.com/component/content/287.html…
http://www.yiela.com/view/1669466/wamendiknas–banyak-sekolah-menyalahgunakan-dana-rsbi
https://satriadharma.com2012/…/judicial-review-rsbi…/
http://news.liputan6.com/…/ini-pertimbangan-mk-hapuskan…
http://www.freemalaysiatoday.com/…/dpm-decision-on…/