Setiap kali saya olahraga jalan kaki pagi saya melihat banyak orang yang berjualan nasi bungkus dengan harga murah. Ada yang 8 rb, 7 rb, dan bahkan yang 6 rb rupiah. Tapi ada juga yang jual nasi bungkus premium seharga 16 ribu. Tampaknya lauknya beda dan dijual khusus untuk penggemar tertentu. Penjual nasi bungkus mau pun kue-kue di pinggir jalan ini bahkan bisa berjejer-jejer bersaingan, utamanya di jalan menuju Kawasan industri dan pabrik-pabrik besar di Rungkut Industri. Jelas segmen pasar dari penjual ini adalah para buruh, karyawan, anak-anak kos, dan sejenisnya yang butuh sarapan pagi sekadarnya. Karena porsinya kecil saya pikir tentu tidak akan memuaskan. Tapi jelas lumayan kalau sekadar untuk mengganjal perut yang lapar agar bisa dipakai menegakkan punggung untuk bekerja atau beraktifitas pada pagi hari.
Sebelumnya saya jalan kaki sambil bagi-bagi snack atau biskuit yang saya beli di mini market lalu saya bagi-bagikan ke para tukang sapu, tukang sampah, pemulung, pengemis, dan bahkan tukang ojek yang tampak belum sarapan pagi itu. Tetapi setelah melihat banyaknya orang jual nasi bungkus saya lalu mengubahnya dengan nasi bungkus. Harga nasi bungkus ini lebih murah ketimbang snack atau biskuit kemasan pabrik. Dengan uang 50 ribu saya bisa membagikan 7 atau 8 bungkus sepanjang rute jalan kaki saya. Lagipula dengan demikian saya ikut membantu menggerakkan perekonomian rakyat kecil yang jualan nasi bungkus.

Salah seorang penjual nasi bungkus langganan saya adalah seorang ibu-ibu usia fifties yang bercerita bahwa ia hanya menjualkan saja dan bukan bikin sendiri. “Tonggo kulo sing ndamel.” Nasi bungkus itu buatan tetangganya yang ia jualkan. Ia hanya mengambil untung seribu rupiah setiap bungkusnya. Jadi kalau 15 bungkus yang ia bawa setiap pagi itu habis maka ia bisa mengantongi keuntungan 15 ribu. Tapi kalau lagi sepi dan hanya laku 5 – 6 bungkus maka keuntungannya hanya cukup buat makan pagi itu. Otak matematika saya langsung bekerja. Lima ribu kali 30 hari berarti hanya 150 ribu sebulan. Can you live with that…?! Jadi best day dari ibu itu adalah ketika semua jualannya laku dan ia dapat keuntungan 15 ribu hari itu. Seandainya every day is best day maka ia akan mengantongi 450 ribu se bulan. Can you live with that…?! 🤔
Saya lalu berpikir lebih jauh…
Seandainya saya adalah pembuat nasi bungkus itu. Dengan harga jual 6, 7, atau 8 ribu dipotong keuntungan untuk penjual maka berapa keuntungan yang bisa saya peroleh dari setiap bungkus nasi yang terbeli? Karena isi dari nasbung itu adalah nasi dan lauk meski sekadarnya maka saya maksimal bisa dapat untung seribu atau paling banyak 2 ribu/bungkus. Untuk membuat nasi dan lauknya tersebut saya tentu saja harus punya modal untuk beli beras, lauk, gas, dll. Jika modal setiap bungkus itu adalah 4 ribu maka untuk 50 bungkus saya harus menyediakan 200 ribu rupiah. My best day adalah ketika semua nasi bungkus yang saya bikin (let’s say 50) terjual sehingga saya bisa mendapatkan keuntungan 100 ribu hari itu, atau 3 juta sebulan. It’s my best day. But can I live with that…?! 🤔
Bagaimana kalau seandainya tidak semua nasi bungkus saya terjual hari itu? Let’s say hanya 30 atau 40 bungkus yang terjual. Berapa kerugian yang harus saya tanggung dari sisanya? Sisa 20 kali modal 4 ribu berarti 80 ribu. Uang masuk 30 bungkus kali 6 ribu adalah 180 ribu. Masih tekor 20 ribu. Nasi bungkus yang tidak laku juga tidak mungkin saya obral dan juga tidak mungkin saya jual untuk besok pagi. Jadi rugi dan tekor adalah konsekuensi dari bisnis ini. Kelihatannya modalnya kecil tapi bagi mereka uang segitu itu adalah hidup matinya bisnis mereka.
Karena saya lalar gawe mikiri nasibe wong liyo maka saya jadi ngelu sendiri… 🥴
Apakah mereka para rakyat kecil itu tidak ngelu ndasnya tertimpa masalah ruwet seperti itu setiap hari? 🥹
Kalau sudah begitu saya langsung ingat bahwa nasib mereka itu sudah ada yang ngurusi. Bukan RT, RW, Lurah, Camat, atau pun Pemda. Setiap hari nasib mereka hari itu sudah diurusi sama yang menghidupkan mereka, yaitu Tuhan. Kalau sudah sampai pada kesimpulan seperti itu langkah kaki saya langsung ringan. Saya bisa mblakrak jalan kaki keluar masuk kampung sambil clingak-clinguk cari sasaran untuk membagikan nasi bungkus di tas yang saya bawa. 😁
Surabaya, 17 Januari 2025
Satria Dharma