Agustus 20, 2022

0 thoughts on “Mau Pakai Cara Terminalan atau Cara Sekolahan?

  1. saya gak sengaja kunjung di blog mas dharma. beberapa bulan silam saya banyak membaca tulisannya tentang pendidikan. tentang cerita ini, well. keinginan mas dharma untuk berbagi sungguh punya nilai sendiri. untuk rekan helgeduelbek, kalo nggak salah anda juga pemerhati pendidikan. please, apa susahnya sih memaknai tulisan seoran yang mau nulis. banyak banget orang yang ga bisa nulis lho…..oke salam perkenalan.

  2. Saya sepakat bahwa pada dasarnya dalam kehidupan kita kemampuan otak, berargumen secara santun, berpikir cermat, dan tampil baik di hadapan banyak oranglah yang lebih diperlukan. Sekalipun dalam beberapa kasus pendekatan otot dapat membuahkan hasil, keadaan ini hanyalah bersifat kasuistis. Pendekatan ini lebih beresiko serta sudah pasti mengundang antipati dari orang lain.
    Memang benar apabila ada diantara kita mengatakan bahwa solidaritas di antara orang-orang dengan kehidupan menyimpang (semisal para preman) sangat tinggi. Hal ini dapat dipahami secara nalar. Karena mereka memilih jalan hidup sebagai preman -dimana jalan hidup ini pada dasarnya tidak disukai oleh kebanyakan anggota masyarakat- mereka menghadapi ancaman secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung ancaman ini berasal dari kelompok preman lain dan ini sangat mungkin terjadi. Sementara secara tidak langsung dan lebih bersifat psikologis, ancaman ini berasal dari ketidaksukaan sebagian besar anggota masyarakat terhadap mereka sehingga pada dasarnya para preman ini tidak merasa jenak.
    Karenanya, secara naluriah mereka mengembangkan mekanisme perlindungan dalam kelompok dengan cara memperkuatsolidaritas diantara mereka. Tetapi, kita harus ingat, solidaritas macam apa yang terjalin? Solidaritas tinggi namun diikuti dengan faham bahwa salah atau benar, teman pastilah harus dibenarkan adalah solidaritas membabi buta yang rendah nilainya.

  3. Pak Satria, satu keberuntungan buat saya bisa menemukan situs Bapak. Saya sudah membaca komentar bapak tentang sbi. Saya salut berat dengan Anda. Andaikan saja ada orang yang berani menyampaikan semua ini ketelinga mentri pendidikan, semoga masih bisa mendengar kami yang di lapangan.
    Saya guru pendamping sekolah rintisan SBI di Jakarta. Mau nangis darah rasanya menyaksikan pembodohan murid-murid saya yang tercinta ini oleh ambisi nggak jelas decision maker pendidikan kita. Pengajaran dilakukan oleh satu guru bidang dan satu guru pendamping bahasa Inggris. PAda hari-hari pertama saya masuk di kelas ini, murid-murid dengan antusiasnya berbahasa inggris dengan sesamanya dan dengan para guru. Tetapi lama-kelamaan antusiasme mereka meredup manakala guru-guru bidang (fis, kimi, mat, dan bio) ini tidak dapat merespon dalam Bahasa Inggris yang baik. Kalau murid bertanya dalam Bahasa Inggris, maka saya harus menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian guru menjawab dalam Bahasa Indonesia yang kemudian saya terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Saya merasa ini semua knonyol sekali. Kami tidak sedang berada di kelas bilingual di Canada tapi di Indonesia yang semua pihak mengerti bahasa Indonesia. Lama-kelamaan anak-anak malas bertanya dalam Bahasa Inggris. Saya harus seringkali mengingatkan mereka, tapi saya paham betul mengapa mereka jadi enggan berbahasa Inggris. Tambahan lagi, sukar bagi para guru senior ini untuk berbahasa Inggris yang baik karena faktor usia. Ketika mereka berbahasa Inggris sepatah dua patah kata, murid-murid tersenyum-senyum dan melirik saya. Bahkan salah satu murid mendekati saya usai pelajaran dan berkata, “Bapak dan ibu guru itu sudah deh berbahasa Indoneisa saja, bahasa Inggrisnya nggak becus…kacau…membingungkan…!” Para guru ini bukannya tidak menyadari hal ini. Mereka seringkali mengeluhkan perasaan ketersinggungan mereka ditertawakan murid. Para guru yang sejatinya digugu dan ditiru malah jadi bahan olok-olokan murid. Dan saya di tengah menyaksikan dagelan yang sama sekali nggak lucu ini setiap hari, para guru dan murid yang sama-sama frustasi korban ambisi yang nggak jelas.

    Selain mendampingi murid di kelas, saya sempat juga mentraining mereka dengan ‘English for teaching survival’ misalnya percakapan membuka dan menutup kelas, kalimat-kalimat perintah di kelas, hingga masuk ke istilah-istilah khusus untuk 4 mata pelajaran IPA> Wuih, saya merasa ‘hebat’ sekali (hebat dalam tanda kutip loh)mempelajari lagi persamaan reaksi kimia, logaritma, tatanama makhluk hidup, dll. Saya merasa perlu belajar dulu materi yang akan diajarakan para guru di kelas nanti supaya saya bisa membantu mereka menerjemahkan ke Bahasa Inggris. Tapi jujur aja pak, saya mabok! Tambahan lagi susah sekali mengajak para bapak dan ibu guru untuk duduk dulu bersama saya merencanakan materi pengajaran. Idealnya, sebelum mengajar, saya dan guru bidang duduk bersama mendiskusikan materi ajaran dan cara penyampaiannya dalam Bahasa Inggris,sehingga ketika berada di kelas mereka sudah bisa menggunakan sendiri istilah-istilah khusus mata pelajaran yang diajarkan. Tapi ini jarang sekali terjadi. Para guru yang terhormat ini justru sibuk bermain game komputer di sela-sela waktu senggang mereka di ruang guru.

    Ketika akan ujian, mereka meminta saya menerjemahkan soal-soal ke dalam Bahasa Inggris. Dan ketika mengoreksi, saya harus mendampingi mereka. Hal ini harus saya lakukan karena beberapa kali murid-murid saya komplain gurunya menyalahkan jawaban esai berbahasa inggris mereka karena faktor keterbatasan para guru dalam memahami tulisan berbasa Inggris. Asal tahu saja, hasil test TOEFL rata-rata murid jauh lebih tinggi dari para guru bidang ini.

    Saya ingin sekali berhenti jadi pendamping kelas kelinci percobaan ini. Tapi saya sangat menyukai mengajar dan berada diantara murid-murid saya. I love these young energetic people so much.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.