Senin, 18 Oktober 2021
Satria Dharma's Weblog
KAUM TAK BERIMAN

Ketika banjir akhirnya datang semua pengikut Nabi Nuh menaiki kapal yang telah dibuat bertahun-tahun sebelumnya itu. Nabi Nuh dan pengikutnya telah mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana yang telah diramalkan akan datang tersebut. Tapi tidak dengan anak Nabi Nuh sendiri. Ia tidak mau ikut dalam kapal tersebut. Ia tidak yakin dengan kapal tersebut dan lebih yakin bahwa naik ke gunung akan menyelamatkannya. Ia tidak MENGIMANI ikhtiar yang telah dilakukan oleh ayahnya dan para pengikutnya selama bertahun-tahun tersebut. Dan ia pun tenggelam bersama KAUM TAK BERIMAN lainnya.

Nabi Muhammad meminta umatnya untuk menghindar dan menjauhi wabah dan tidak malah mendatanginya atau bersikap seolah-olah tidak mungkin tertular hanya karena merasa beriman kepada Tuhan. Jika ada umatnya yang tidak patuh pada IKHTIAR yang dianjurkan oleh Nabi maka sebenarnya mereka termasuk dalam golongan KAUM TAK BERIMAN.

Islam juga menganjurkan umatnya untuk berobat dan membentengi diri dari terkena penyakit. Jika kita memiliki gejala penyakit menular, maka janganlah membahayakan orang lain dengan menularinya. Rasulullah SAW bersabda: Tidak boleh membahayakan orang lain dan tidak boleh membahayakan diri sendiri (HR. Malik no. 1435). Mereka yang tidak mengikuti anjuran Nabi ini sebenarnya masuk dalam golongan KAUM TAK BERIMAN.

Pandemi ini membuat kita melek. Banyak orang yang menggunakan dalil-dalil agama, bahkan yang berstatus ustad sekalipun, yang justru menunjukkan bahwa mereka sebenarnya adalah golongan KAUM TAK BERIMAN.

Mengapa demikian? Karena dua hal. Pertama karena kebodohan. Kedua karena kesombongan. Orang yang tidak paham soal virus dan pandemi yang ditimbulkannya tapi tidak mau belajar dan tidak mau tahu soal virus ini jelas masuk dalam kalangan orang bodoh. Jika Anda tidak paham betapa menularnya virus Corona ini, bagaimana ia bisa menulari dan membunuh orang yang tertular, dan bertindak sembrono maka jelas Anda termasuk dalam kalangan orang bodoh yang membahayakan diri Anda mau pun orang-orang di sekitar Anda. Tidak peduli meski Anda punya gelar professor atau ulama sekali pun. Yang lebih berbahaya adalah jika orang bodoh tapi mengira dirinya pintar. Pekerjaan ustad tapi memberi wejangan soal virus yang tidak pernah dipelajarinya dengan sok lebih pintar daripada jutaan dokter dan virolog yang bertahun-tahun mempelajarinya. Kadangkala status ulama agama begitu membius seseorang dan orang disekitarnya sehingga menganggap semua hal bisa diselesaikan dengan salat, doa, dan wirid. Dianggapnya doa dan wirid bisa menghilangkan penyakit apa pun tanpa berobat. Ada yang percaya wirid dan bacaan tertentu sebanyak sekian kali bisa membuat seseorang kaya tanpa berusaha, tirakat tidur selama sekian hari di makam ulama tertentu bisa membuat seseorang pintar tanpa belajar, puasa ngebleng dan wiridan tertentu bisa membuat wanita cantik dan bahenol datang sendiri ke rumah minta dijadikan istri, tirakat nglowo kaki diatas kepala dibawah selama sekian hari akan membuat mobil baru dikirim oleh dealer tanpa bayar apa pun, dlsb.

Baca juga:  Guns, Germs & Steel (Part 2) : Mengapa orang-orang Erasia lebih unggul...

Kategori kedua adalah kesombongan. Ada orang-orang tertentu yang memang egois dan tidak mau menerima kebenaran. Seperti iblis yang tidak mau tunduk pada Adam karena ia merasa lebih tinggi derajatnya daripada Adam. Ada orang-orang tertentu yang tidak percaya bahwa virus itu bisa melanda semua orang tidak peduli dengan seberapa taat dia pada agamanya. Mereka ini menganggap keimanannya pada Tuhan jauh lebih besar daripada kekuatan virus ini. Keimanannya lebih kuat ketimbang virus dan siapa yang takut terhadap virus dan mau divaksin dianggapnya bodoh dan kurang bertakwa. Sebaliknya, orang-orang seperti inilah yang termasuk dalam golongan KAUM TAK BERIMAN. Orang-orang semacam ini menganggap remeh ilmu para pakar di bidang lain dan hanya ilmunya yang paling tokcer. Ilmu yang dimiliknya dianggapnya bisa menguasai masalah IPOLEKSOSBUDHANKAM. Semacam Nabi Khidirlah laiknya.

Bukankah bahkan Nabi Nuh pun diperintahkan untuk membuat kapal agar selamat dari banjir besar yang bisa menenggelamkan semua orang. Kapal adalah IKHTIAR yang diperintahkan oleh Tuhan pada Nabi Nuh dan umatnya agar selamat. Tuhan tidak menyuruh Nabi Nuh dan umatnya untuk sekedar salat, puasa, berdoa dan berdzikir selama 40 hari 40 malam agar selamat dari banjir. Tidak. Sunnatullahnya banjir tidak dihadapi dengan doa dan dzikir. Kalau DKI banjir maka makanan harus dikirim pada penghuni rumah yang terperangkap pakai perahu karet dan bukan cuma pakai wiridan. Kebakaran hebat juga sunnatullahnya harus dipadamkan dengan ikhtiar semprotan pemadam kebakaran. Untuk mencegah tertular virus ya vaksin jawabannya. Semua hal itu ada ilmu dan teknologinya sendiri-sendiri sesuai dengan sunnatullah yang berlaku. Semua hal itu ada ahli dan pakarnya masing-masing. Jangan sampai penjual lontong sayur bicara soal mesin mobil seolah lebih hebat daripada para mekanik.

Baca juga:  BISA APA KYAI MA’RUF ITU…?!

Jadi jika Anda adalah ustad di masjid yang bukan pakar kesehatan dan virus, tolong jangan bersikap seolah lebih paham daripada mereka. Ini bukan ranah Anda untuk bicara. Ada saatnya Anda bicara dan berperan. Jangan malah memperkeruh suasana dengan kata-kata Anda yang tidak berdasarkan ilmu yang benar itu. Please…please…please…!

Wallahu a’lam bisshawab

Surabaya, 7 Juli 2021

Satria Dharma

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *