Sabtu, 09 Agustus 2020
Just another WordPress site
CAK KOPIT SONGOLAS YANG BIKIN KAGUM

Satu hal yang membuat kita kagum pada Covid 19 ini adalah kemampuannya untuk menghancurkan kesombongan dan keangkuhan kita. Yang sombong karena kaya raya punya segala, yang ilmuwan pintar tahu segala, yang kuasa bisa gerakkan apa saja, semuanya dibikin takluk tak berdaya. Tak satu pun umat di antara kita kini yang masih bisa tegakkan kepala.

Salah satunya yang dilumatkan adalah kesombongan kita para ‘umat beriman’. Di antara kita memang ada sekelompok orang yang merasa sangat beriman dan merasa sebagai mahluk pilihan. Karena merasa beriman kepada Tuhan dan Nabinya, kita lalu berilusi memiliki privilege khusus di muka bumi dan tidak mungkin terkena wabah. Mosok orang yang begitu cinta dan bertakwa pada Tuhan seperti kita juga diserang oleh virus ini…?! Tak mungkinlah…! Hanya para pendosa di luaran sana yang bakal dilumatkan oleh virus Sang Tentara Allah ini. Justru virus ini dikirim oleh Tuhan untuk menghukum para kafirun di luaran sana. Sedangkan kita para mukminun jelas bakal dilewati belaka oleh Sang Tentara Allah ini.

Sebagian dari kita memang merasa diri begitu dekat dengan Tuhan dan berilusi tidak mungkin diserang oleh virus ini. Kita merasa begitu beriman karena merasa telah membaktikan hidup kita untukNya. Bukankah sehari-hari kita selalu beribadah, memanjatkan puja dan puji, dan bahkan menyediakan sebagian besar waktu kita di Rumah Tuhan? Bukankah bibir kita selalu basah oleh puja dan puji kita pada Tuhan Sang Maha Kuasa? Apakah mungkin virus ini tidak mengenali kita dengan jejak kesalehan kita yang begitu fenomenal selama ini?

Kami ingin tunjukkan pada dunia bahwa virus ini bukanlah apa-apa karena kami punya Tuhan yang Maha Besar. Karena Tuhan itu Maha Kuasa maka mestinya kami umatnya yang sungguh dekat denganNya juga memiliki kuasa atas virus ini. Itu sebabnya kami ingin tetap salat Jum’at, salat berjamaah, salat Tarawih, mengadakan ceramah akbar, dsbnya di Rumah Tuhan. Virus Corona tak mungkin akan berlaku kurang ajar pada kami jika kami berada di Rumah Tuhan. Allah Akbar…! Haleluya…! Kalau pun kami harus mati biarlah kami mati demi agar bisa tetap mengagungkan namamu di rumahMu, ya Tuhan.

Baca juga:  MANUSIA TUPOKSI

Tapi itu memang hanya ilusi kita saja sebagai umat yang merasa bisa mengatur Tuhan dan kehendakNya. Virus ini datang untuk mempermalukan kita yang merasa sok dekat dengan Tuhan semacam ini.

Sayang sekali bahwa tekad kita yang mulia agar bisa gugur syahid ketika beribadah di Rumah Tuhan itu ternyata tidak digubris oleh Sang Covid 19 sialan ini. Bahkan fatwa ulama sedunia juga sepakat untuk menghalangi kita untuk menunjukkan keberanian kita untuk mati demi mengagungkan nama Tuhan ini. Katanya kalau kita mati karena nekad menentang anjuran para ulama dunia maka kita tidak akan dipandang sebagai pejuang jihad fi sabilillaah. Sebaliknya kita akan dianggap sebagai umat beragama yang konyol dan egois. Jika kita mati karena terkena virus akibat ngotot melakukan ibadah berjamaah maka jelas akan menyusahkan orang yang akan menguburkan kita, menyusahkan jamaah lain, keluarga kita, tetangga kita, teman-teman kita, dan siapa saja yang mungkin juga tertular olehnya. Mana mungkin umat yang menyusahkan semua orang disebut sebagai pejuang di jalan Tuhan?

Tidak ada tempat bagi kita untuk menunjukkan kehebatan spiritual kita. Tidak ada kebanggaan, tidak ada keagungan, tidak ada kesucian, tidak ada penghormatan. Yang ada hanyalah sikap prihatin, kemarahan, caci maki, umpatan, penyesalan atas kebodohan dan sikap sok beriman kita yang membahayakan orang lain itu.

Sungguh sialan Cak Kopit Songolas ini…! Bahkan untuk menunjukkan kejumawaan spiritual kita sedikit pun kita tidak diberi celah. Mungkin Tuhan memang benar-benar ingin menguji apakah kita yang mengaku beriman ini benar-benar beriman atau sebenarnya hanya menggunakan iman dan agama sebagai asesori.

Mungkin Tuhan kali ini ingin kita tinggal di rumah dan merenungkan arti keberadaan kita di dunia ini. Tuhan ingin kita menanggalkan semua kesombongan kita dan mulai menyadari bahwa nyawa kita jauh lebih berharga daripada semua kekayaan, kekuasaan, kecerdasan, dan pengakuan iman yang selama ini kita agungkan.

Baca juga:  Lesson of Goodness from the Street

Besok kita sebagai umat Islam akan mulai berpuasa sebulan penuh. Mungkin Tuhan kali ini ingin agar umat Islam benar-benar berpuasa dan bersikap prihatin. Kalau ternyata Covid 19 dan puasa Ramadhan sebulan lamanya tidak juga mampu membuat umat Islam menjadi berendah hati menanggalkan kesombongannya dan berubah menjadi manusia yang lebih baik dan menjadikan dirinya benar-benar sebagai ‘rahmatan lil alamin’ maka sungguh kita tidak mampu belajar apa pun.

Surabaya, 23 April 2020

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *