Senin, 23 Juli 2019
Just another WordPress site
TEMAN SETIA SAJA TIDAK BOLEH, APALAGI…

“Teman setia saja tidak boleh, apalagi dijadikan pemimpin…”
Tiba-tiba saja seperti koor tanggapan akan terjemah kata ‘awliya’ dalam Al-Qur’an yang ternyata sudah diterjemahkan dengan ‘teman setia’ dalam Al-Qur’an versi Indonesia berbelok dengan indahnya menjadi kalimat di atas… 😃

Sebetulnya ini lucu dan menggemaskan melihat bagaimana ngototnya mereka mau mempertahankan pendapat bahwa Al-Maidah 51 MELARANG umat Islam untuk memilih pemimpin non-muslim in any circumstances at all times. Begitu ditunjukkan bahwa di Al-Qur’an ada yang menerjemahkan ‘awliya’ dengan ‘teman setia dan pelindung’ maka berubahlah argumen mereka seperti di atas. “Teman setia saja tidak boleh, apalagi dijadikan pemimpin…!” Menggemaskan dan menggelikan. 😊

Tapi saya sebenarnya SANGAT PRIHATIN…! Mereka ini bukan saja tidak paham tapi juga menyebarluaskan pemahaman yang salah tentang ajaran Islam.

Umat Islam itu BOLEH DAN DIANJURKAN untuk berteman baik dengan semua orang selama tidak membawanya kepada kejahatan dan keburukan. Itu ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Yang tidak boleh (dan diabadikan dalam Al-Maidah 51) itu adalah MENGKHIANATI persatuan umat Islam dengan lebih memilih kaum yang memusuhi umat Islam (yang pada saat itu adalah kaum Nasrani dan Yahudi).

Apakah umat Islam TIDAK BOLEH berteman baik dengan orang Nasrani dan Yahudi? BOLEH dan bahkan umat Islam dianjurkan untuk menunjukkan akhlak yang baik dalam bergaul dengan siapa pun. Ada istilah ukhuwah basyariyah, persatuan dalam kemanusiaan. Al-Qur’an sendiri memuji persahabatan dengan umat Nasrani dalam sebuah ayatnya sbb : “…Dan sesungguhnya akan engkau dapati (pula) orang yang paling dekat kasih sayangnya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nashara…” (Al-Maaidah 5:82). Lha Al-Qur’an sendiri mengabadikan persahabatan paling dekat kasih sayangnya dengan umat Islam pada waktu itu dengan umat Nasrani lho…!

Umat Islam dilarang berteman dengan orang yang akan membawanya pada keburukan, kejahatan, dan kemaksiatan. Dalam al-Qur’an al-Karim, Allah Swt mengingatkan kita untuk tidak memilih kawan yang jahat, dan pendosa yang akan membawa kita pada pengaruh buruk. Al-Furqan 28-29 menjelaskan kisah pengaruh kawan yang buruk di hari kiamat kelak. Disebutkan di ayat itu bahwa seseorang yang berada di neraka menyesali karena salah memilih sahabat dan mengatakan, “Andai saja aku tidak menjadikan si Anu itu sahabatku. Dia telah mencegahku dari mengikuti kebenaran yang sebenarnya telah sampai kepadaku.”

Baca juga:  A Snapshot of My Days

Orang yang jahat memang akan memberi pengaruh buruk pada orang-orang di sekitarnya. Orang-orang jahat ini ada pada semua komunitas, bahkan pada kelompok ulama sekali pun. Itulah yang disebut sebagai ulama su’, ulama yang jahat. Jadi jangan dikira asal sudah beragama Islam lantas otomatis menjadi baik dan patut dijadikan teman. Tidak. Bukan status kemuslimannya yang membuat seseorang menjadi baik atau tidak.

Imam Ali (as) berkata, “Bersahabat dengan orang yang durjana akan mengakibatkan kesengsaraan tak ubahnya seperti angin yang menyapu bangkai dan menyebarkan bau busuk bersamanya.” Riwayat ini mengingatkan kita akan bahaya dan kerugian yang bisa ditimbulkan oleh persahabatan atau kedekatan kita dengan orang-orang jahat.

Orang seperti apa yang sebaiknya dijauhi? Ada riwayat yang mungkin bisa kita jadikan patokan. Ada hadis dari Imam Sajjad (as). Beliau berkata, “Anakku, cermatilah lima kelompok manusia yang tidak layak bagimu untuk bersahabat dengan mereka, berbicara dengan mereka dan berjalan bersama mereka. Hindari persahabatan dengan orang PENDUSTA. Sebab dia ibarat fatamorgana yang menampakkan hal yang dekat seakan jauh dan hal yang jauh seakan dekat. Jangan kau berkawan dengan orang PENDOSA sebab dia siap menjualmu dengan imbalan sesuap makanan atau lebih sedikit dari itu. Jangan berkawan dengan orang yang KIKIR, sebab dia akan meninggalkanmu ketika engkau memerlukannya. Jauhi persahabatan dengan orang yang BODOH sebab dia akan merugikan dirimu ketika berniat melakukan kebaikan untukmu. Jauhilah pula orang yang MEMUTUSKAN TALI KEKERABATAN sebab aku dapatkan al-Qur’an telah mengutuknya.

Wallahu alam bissawab.

Surabaya, 24 Oktober 2016
Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “TEMAN SETIA SAJA TIDAK BOLEH, APALAGI…”

  1. EDYAR RAHAYU MALIK berkata:

    Mohon maaf, saya kurang paham tujuan dari tulisan ini. Ada hal yang ingin saya tanyakan: Apa bedanya teman, teman setia, dan sahabat? Sebenarnya, tulisan ini ditujukan untuk siapa? Terima kasih atas tanggapannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *