Tadi malam saya bermimpi yang sangat aneh sekaligus mengerikan…
Serombongan orang berpakaian jas lengkap, berkacamata hitam, membawa tas Echolac hitam mendatangi saya. Mereka mengaku sebagai Panitia Pemberi Penghargaan Bintang Mahaputra. Saya tentu saja kaget dan heran dengan kedatangan mereka. Saya tidak pernah ada urusan dengan panitia penghargaan apa pun selama ini, apalagi sekelas Bintang Mahaputra. Kalau pun mereka mau mencari informasi soal siapa-siapa yang berhak mendapat penghargaan ini referensi dan pergaulan saya juga terbatas. Jadi apa maksud mereka mendatangi saya?
Ternyata mereka bilang bahwa mereka akan menominasikan saya untuk mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra. Saya langsung terkejut seperti terkena sengatan listrik. Siapa lagi ini orang yang mau mengerjain saya…?! Selama ini saya sudah dikerjain dengan diberi gelar professor, doctor, PhD, apalah…apalah di medsos dan sampai saat ini orang-orang masih juga mengira saya seorang professor. Padahal menulis skripsi saja saya tidak pernah.
“Berdasarkan catatan kami Bapak sangat layak untuk mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra.” demikian kata kepala rombongan tersebut dengan meyakinkan.
Saya terdiam tidak bisa berkata-kata dalam beberapa menit. Napas saya memburu. Setelah agak tenang baru saya bisa menjawab, “Mohon maaf, catatan Anda tampaknya salah. Saya hampir tidak pernah berjasa pada bangsa dan negara. Selama ini saya hanya seorang guru yang cari makan dalam bekerja.” Jawab saya terbata-bata.
“Di catatan kami ada tertulis bawa Bapak adalah pendiri IGI. Benar kan…?!’ desaknya.
“Ya saya kan mendirikannya bersama banyak teman-teman pendidikan lain. Saya hanya diminta untuk menjadi ketua umum pada awalnya saja. Selanjutnya tidak lagi,” jawab saya dengan gemetar.
“Bapak apakah tidak mau mengakui peran Bapak dalam menggerakkan literasi di dunia pendidikan di berbagai propinsi selama ini?” tanya si karom agak sedikit kesal.

“Memang ada sedikit. Saya keliling ke mana-mana karena saya memang senang bepergian sama istri. Itu hanya alasan saya untuk bisa traveling. Selebihnya saya hanya nggedabrus saja. Sungguh…!” jawab saya sambil merapatkan tangan.
“Bukannya Bapak dapat penghargaan Tokoh Literasi Surabaya dari Bu Risma beberapa waktu yang lalu?”
“Betul. Tapi itu kebetulan karena saya sedang giat-giatnya promosi membaca pada sekolah-sekolah di Surabaya dan kok kebetulan Bu Risma senang dengan kegiatan tersebut. Tapi setelah itu ya tidak lagi kok.”
“Katanya Bapak ada kedekatan khusus dengan Pak Prabowo ya? Mohon agar Bapak berterus terang.” desak si Karom lagi.
Saya langsung berdiri dan menjawab, ”Tidak benar itu, Pak…! Saya hanya pernah bertemu dan bersalaman ketika memberi salah satu buku saya pada beliau dalam sebuah acara besar. Itu pun berdesak-desakan dan bahkan saya tidak sempat berfoto dengan beliau. Saya keberatan kalau dibilang ada kedekatan khusus dengan beliau.” Bibir saya bergetar…
Si Karom tampak tidak suka dengan jawaban saya. Wajahnya merengut.
“Apakah Bapak benar-benar tidak mau mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera dari Presiden Prabowo?”
“Mohon diberikan pada orang-orang dan tokoh yang benar-benar berjasa pada bangsa dan negara, Pak. Saya mau pensiun dengan tenang dan damai saja. Penghargaan itu terlalu berat bagi orang seperti saya. Saya takut diolok-olok sama teman-teman saya. Mohon maaf sebesar-besarnya,” kali ini saya merapatkan kedua tangan saya di depan wajah saya dengan ekspresi menghiba.
“Kalau seandainya Bapak diminta memberi rekom kira-kira siapa yang layak untuk mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera ini?” tanyanya menyelidik.
Saya langsung merasa terbebas dan sangat senang dimintai usulan rekomendasi nama orang untuk diberi penghargaan oleh pemerintah. Inilah saatnya saya membalas jasa teman. Sebuah nama langsung berkelebat. Tak salah lagi… Selama ini teman saya ini hanya saya beri janji kosong mau saya beri jabatan komisaris BUMN. Selama bertahun-tahun dia menunggu kapan akan mendapatkan jabatan komisaris tersebut. Dulu saya janjikan sebagai komisaris PT Iglas, Merpati Nusantara Airlines, Istaka Karya tapi belakangan baru dia tahu bahwa semua itu sudah tutup. Tapi dia masih sabar menunggu jabatan komisaris dari saya. Komisaris ndasmu… Lha aku dewe wis pensiun. Nah…! Sekaranglah saatnya saya membalas jasanya….
“Ada, Pak. Dia sangat layak untuk mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera. Tidak salah lagi…” jawab saya antusias. Saya sudah membayangkan teman saya ini berdiri dengan tegap menatap lurus ke depan menerima kalung Bintang Mahaputera dari Presiden Prabowo. Dia pasti akan sangat bangga dengan penghargaan ini. Gak dadi komisaris gak pateken nek wis oleh Bintang Mahaputera… pasti demikian pikirnya.
“Bisa disebutkan namanya…?!” tanya Pak Karom sambil mengambil pulpen untuk mencatat.
Saya mendekatkan tubuh saya ke tubuh Pak Karom lalu saya membisikkan nama teman saya ke telinganya. “Namanya Ahmad Rizali. Panggilannya Nanang.”
Pak Karom lalu menuliskan,” Ahmad siapa…?” tanyanya.
Eeee….lha kok adzan dari masjid dekat rumah berbunyi kencang banget kayak di masjidil harom saja. Saya langsung terbangun. Padahal saya belum sempat mengulang namanya. Kuatirnya Ahmad yang lain yang ditulis sama Pak Karom itu. Kan blaen…
Balikpapan, 28 Agustus 2025
Satria Dharma