Di WAG pensiunan kami sering berdiskusi tentang apa bisnis yang paling bagus untuk pensiunan. Sebelum pensiun mereka sebenarnya sudah diberi pelatihan tentang berbagai bisnis yang cocok untuk para pensiunan. Tujuannya adalah agar mereka tetap memiliki penghasilan alias passive income. Meski demikian kebanyakan ya tidak melakukan bisnis apa pun dan mereka bergantung sepenuhnya pada uang pensiunan. Ada juga yang menanamkan uang pensiunannya pada bisnis yang beresiko dan kemudian uangnya amblas sama sekali. Kasihan sekali… Ada beberapa kisah semacam ini.
Bisnis yang banyak dilakukan oleh para pensiunan ya kalau tidak buka warung atau resto dan bikin kos-kosan. Kalau warungnya jalan ya mereka bisa bergantung pada penghasilan warung atau resto ini. Tapi tampaknya bisnis yang paling banyak dilakukan adalah buka kos-kosan. Ini memang minim resiko.
Salah seorang teman pensiunan bercerita bahwa ia terkesan dengan rencana bisnis seorang teman bernama ‘A’. Katanya sebelum pensiun ia sudah punya rencana besar untuk berinvestasi cerdas.
Begini rencananya…
Setelah dapat uang pensiun yang lumayan besar (sekitar 1M) ia sudah berjanji akan memberikan separoh, 500 juta, kepada istrinya. Itu sebagai modal bagi istri dan anak-anaknya untuk hidup setelah ia pensiun. Tapi setelah itu ia akan keluar dari rumah dan tidak mau tahu lagi dengan kehidupan istri dan anak-anaknya yang sudah besar-besar itu.
“Maksudmu kamu mau ceraikan istrimu?” tanya temannya.
“Ya semacam itulah. Pokoknya saya sudah tidak ada urusan lagi sama istri dan anak-anak. Uang sebesar itu cukuplah untuk kehidupan mereka selanjutnya”. jawabnya.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan setelahnya dengan separoh uang pensiunmu?”
“Saya akan investasikan.’ Jawab si A mantap.
“Investasi apa?’ tanya temannya penasaran.
“Nah ini yang perlu kamu ketahui. Ini investasi yang sangat menguntungkan…” jawab si A sambil tersenyum lebar. “Saya akan berbisnis warung pecel atau nasi bungkus atau mracang atau apalah di desa-desa. Tapi saya harus memiliki partner bisnis dulu.”
“Partner bisnis yang bagaimana?” tanya temannya.
“Saya akan ke desa-desa dan mencari istri yang masih muda dan cantik. Saya akan iming-imingi orang tuanya mahar yang besar, 50 juta. Pasti banyak yang mau. Di desa bagaimana mungkin mereka akan dapat uang sebesar itu.”
“Lalu…?!” si teman semakin penasaran. “Katanya mau investasi tapi kok malah cari istri muda?”
“Nah ini yang harus kamu ketahui. Setelah menikah, saya akan memberi modal istri saya tersebut 50 juta untuk berpartner buka warung pecel atau nasi bungkus atau mracang. Modal 50 juta untuk buka warung itu sudah lebih dari cukup kalau di desa.” Lanjut si A sambil tertawa lebar.
“Jadi selanjutnya kamu akan hidup numpang sama istri mudamu ya?” jawab temannya sambil tertawa.
“Oh, itu baru rencana awal,” jawab si A dengan senyum licik.
“Maksudmu…?!” temannya tentu semakin penasaran.
“Saya akan ke desa lain dan mencari gadis lain untuk saya nikahi dengan tawaran yang sama dengan gadis sebelumnya.” Si A tersenyum lebar dengan bangga. “Kan uang saya masih banyak.”
“Jadi kamu bakal punya dua istri gadis muda?” temannya melongo mendengar rencana brilyan si A ini.
“Bukan. Saya akan cari tiga gadis lagi di desa lain sehingga nantinya saya akan memiliki empat partner bisnis sekaligus istri sebagai investasi saya.” Kali ini si A tertawa terkekeh membayangkan betapa brilyannya ide pensiunnya tersebut.
“Dengan memiliki empat lokasi bisnis yang dikelola oleh partner sekaligus istri maka bisnis tersebut bisa terjamin keberlangsungannya. Saya tinggal datangi mereka satu persatu untuk mengambil setoran mereka sambil saya juga setor ke mereka malam harinya.” 😎
Temannya sudah tidak sanggup lagi bertanya dan hanya bisa melongo membayangkan betapa brilyannya temannya sesama pensiunan ini. Kelihatannya saja si A ini dongok dan alim tapi ternyata ia seorang garangan yang memiliki business plan yang out of the box, wild wild west, dan di luar perkiraan para manajer keuangan paling canggih sekali pun. 😂
Balikpapan, 23 Agustus 2025
Satria Dharma