Jumat, 17 September 2021
Satria Dharma's Weblog
TIJITIBEH…


Harga minyak dan gas dunia ambyar berkeping-keping. Dan ini yang paling parah sejak dua dekade ini. Lha dunia berhenti berputar je… !

Ribuan pesawat ngandang. Jutaan mobil tidur-tiduran di garasi. Tidak ada orang yang bepergian. Semuanya harus tinggal di rumah masing-masing serentak seluruh dunia. Tiba-tiba permintaan bahan bakar fosil mandeg jegrek.

Sebelum dunia dihajar Covid 19 sebenarnya dunia perminyakan juga sudah gonjang-ganjing gara-gara peseteruan Rusia dan Arab Saudi. Karena pasokan minyak melimpah maka harga turun. Mereka di OPEC lalu berunding untuk menurunkan produksi. Kalau pasokan berkurang kan harga akan naik. Tapi rupanya tidak terjadi kesepakatan dan Rusia dan Arab Saudi gegeran. Bukannya menurunkan pasokan dunia seperti yang diminta oleh OPEC, eh! Arab mutung dan malah mengancam akan membanjiri pasokan dunia. Arab berjanji bakal genjot produksi minyak ke kapasitas maksimum 12 juta bpd pada April dan bakal beri diskon 10% untuk harga minyaknya. Kondisi ini semakin membuat harga minyak diobral murah di pasar.

Dan datanglah bencana wabah virus corona ini….

Ancor pessena telok…

Negara-negara penghasil minyak dan gas pada kelimpungan. Kalau tidak ada permintaan lalu mau ditaruh di mana semua produk yang sudah jadi ini? Ketika kilang-kilang penyimpanan tidak mampu lagi menerima pasokan baru karena berkurangnya permintaan dunia maka mau tidak mau pabrik akan harus menutup atau menghentikan produksinya.

Industri minyak RI juga jelas terkena dampaknya. Harga minyak mentah Indonesia sudah anjlok lebih dari 30%. Dan ini membuat Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) kelimpungan. Mereka lalu ramai-ramai merevisi target produksi. Hal ini jelas akan menyebabkan target pemerintah untuk menaikkan produk minyak RI gagal tercapai. Dampak anjloknya harga minyak ini jelas akan merembet ke APBN. Perkiraan pendapatan negara dari ekspor minyak jelas akan turun.

Baca juga:  PAKAI OTAKMU, BRO! 😁

Asumsi makro APBN 2020 menyebutkan, setiap penurunan ICP rata-rata US$ 1/barel setahun akan menurunkan pendapatan negara dalam kisaran Rp 3,6-4,2 triliun. Meski belanja negara juga berkurang, tetapi lebih sedikit dari penurunan pendapatan yaitu Rp 3,1-3,9 triliun. Jadi masih ada tekor Rp 0,3-0,5 triliun. Artinya, bagi pemerintah Indonesia penurunan harga minyak lebih menjadi mudarat ketimbang manfaat.

Nasib industri migas RI memang sedang mengalami ujian berat. (Ndase Ahok pasti cekot-cekot…)

Tapi begitu jugalah nasib industri kita yang lain. Semua sektor sedang mengalami ujian berat. Pariwisata mah sudah ancur-ancuran lebih parah. Ikut juga bersamanya bisnis perjalanan wisata, perhotelan dan catering, sewa mobil, dlsb. Sektor peternakan dan perikanan juga sudah teriak. Percuma menangkap ikan dan memelihara ayam potong kalau tidak ada yang beli. Mau dipotong gak ada yang beli, mau dipiara lebih lama jelas rugi di pakannya. Belum lagi kalau ayamnya tambah gondrong dan minta dicukur. Pokoknya serba repotlah…!

Kok suram begini sih gambaran dunia kita sekarang, Cak? Sampeyan iki kok malah meden-medeni.

Sakjane ngono nggak. Bro. Ini hal yang wajar saja. Meski pun tidak ada pandemi Kopit Songolas sebenarnya dunia ini juga selalu ada ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan. Kematian-kematian karena penyakit lain dalam jumlah besar juga selalu ada. Industri yang jeblok dan ancur-ancuran juga sudah kayak sego jangan. Hanya saja sekarang ini kita bareng-bareng merasakannya. Kalau selama ini kan kita bergantian merasakannya. Kalau kita dapat bonusan, ada tetangga yang kena PHK. Kalau tetangga dapat proyek ratusan juta, kita yang barusan rugi karena ditipu pelanggan. Kalau ekonomi negara China berkibar, ekonomi Eropa yang mendrip-mendrip. Didi Kempot berkibar, pertunjukan wayang kulit garing tanggapan. Pokoknya bergantianlah susah dan senang, untung dan rugi itu

Baca juga:  AIS DAN TUGAS BIKIN 'MAKALAH'NYA

Tapi sekarang kita sama-sama merasakan masa sulit. Rasanya gak ada deh yang malah berkibar dan berjaya. Bahkan para konglomerat yang katanya hanya leyeh-leyeh duitnya bertambah bermilyar-milyar sekarang ini begitu melek setiap paginya hartanya berkurang drastis. Entah mana yang lebih ngelu ndase apakah konglomerat yang setiap hari hartanya merosot jatuh atau kelompoknya Meggy Z yang proklamir ‘Termiskin di Dunia’. Lha kalau memang sudah mlarat rat trus mau jeblok ke mana lagi?

Nah, sekarang ini Tuhan ingin agar kita merasakan kesusahan, kesulitan, ketakutan, dan kecemasan bersama-sama. Tijitibeh…

Mengapa Tuhan menguji kita dengan ketakutan-ketakutan dan kecemasan-kecemasan? Bareng-bareng se dunia lagi…

Bagi umat Islam mestinya tidak usah heran karena ini memang sudah disampaikan oleh Tuhan sejak 14 Abad yang lalu. Dalam Al-Baqarah 155 disebutkan: “Dan sungguh kami akan mengujimu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan dalam hal harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira terhadap orang-orang yang bersabar”

Sekarang kita sama-sama merasakan kesulitan ini, baik dalam skala individu, keluarga, usaha, kota, negara, dan bahkan dunia. Mau bagaimana lagi, malapetaka yang dibawa Cak Kopit Songolas ini tak satu pun orang bisa meramalkan kedatangan dan kepergiannya. Sekarang yang bisa dilakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk menangani wabah serta berdoa agar semua ini cepat berakhir.

Jadi intinya, mari kita semua bersabar dalam menerima ujian dari Tuhan ini. Terima saja ini sebagai bagian dari takdir kehidupan yang kita alami dalam hidup kita. Jangan malah marah-marah dan nylathu ke sana ke mari. Jangan cari-cari orang atau lembaga untuk dijadikan sasaran caci maki kita. Suasana dunia ini memang sedang muram. Kita semua sama-sama merasakannya. Jadi untuk apa kita saling salah menyalahkan, caci mencaci, tuding menuding, merasa diri lebih pintar dan lebih paham daripada apa yang dilakukan oleh pihak lain, dslbnya?

Baca juga:  CATATAN HARIAN KEPALA SEKOLAH

Nanti kalau Cak Kopit Songolas ini sudah berlalu, entah kapan hanya Tuhan yang tahu, monggo kalau mau saling caci maki, tuding-tudingan, bacok-bacokan lagi…

Dunia ini memang gak asyik kalau gak pakai drama…

Selamat Hari Kartini (just in case we forget)….

Surabaya, 21 April 2020

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *