Minggu, 16 Desember 2019
Just another WordPress site
SYUKURAN KELUARGA

Alhamdulillah acara syukuran kami kemarin berjalan dengan sangat meriah. Tamu-tamu berdatangan baik dari dalam kota mau pun dari luar kota.  Dapat kejutan yang menyenangkan ketika para tonggo kampung Darmokali dulu yang kini sudah berpencaran juga datang serombongan. Mereka heran mengapa nama saya jadi Satria Dharma karena mereka tahunya nama kampung saya adalah Mas Adok (yang katanya singkatan dari ‘Arek Darmokali’). Semua hidangan bisa habis dan mereka benar-benar menikmatinya. Glad to know that everybody enjoyed the food served.

Banyak yang bertanya, “Syukuran opo iki, Cak Sat? Ulang tahun tah? Mantu tah? dlsb” Saya memang sengaja tidak menuliskan pada undangannya ini syukuran apa. Mengapa? Karena ini memang syukuran reno-reno. Ada banyak hal yang perlu kami syukuri dalam hidup ini dan kami merasa perlu untuk merayakannya. Pertama, tentu saja kami bersyukur bahwa selama tahun 2019 ini kami sekeluarga sehat-sehat semua. Mangan yo sik tetep akeh dan Alhamdulillah sing dipangan yo onok ae. Kami memang mengikuti falsafah ‘Mangan sak onoke’ jadi kalau ada sate dan gule enak di warung bu Umi ya kami makan, kalau ada panganan Ayam Geprek enak nang Transmart ya kami datangi, pokoknya ‘mangan sak onoke’, onoke isuk dipangan isuk, onok awan di pangan awan, nek gak onok yo digolekno coro supoyo onok. begitulah….

Kedua, Alhamdulillah usia perkawinan kami telah mencapai 27 tahun kemarin. Padahal rasanya baru minggu lalu lho kami menikah dan baru tiga hari yang lalu kami pulang dari honey moon. Kami ini honeymoonnya gak habis-habis meski sudah 27 tahun menikah. Anda mungkin tidak percaya bahwa meski sudah menikah 27 tahun kami masih merasa seperti pengantin baru dan kami masih mengucapkan ‘I love you’ pada satu sama lain. Ke mana pun kami pergi kami bergandengan tangan bahkan pada saat olahraga jalan kaki pagi.

Baca juga:  Percobaan Sains Tara

Ada yang tanya apa resepnya bisa selalu mesra. Mungkin teman yang bertanya ini heran mengapa kami ke mana-mana masih gandengan tangan koyok sik pacaran ae. Ojok salah rek. Nek pacaran aku gak wani gandengan tangan. Gandengan tangan itu ada fungsinya, terutama kalau di mall. Kalau saya lepaskan sebentar saya gandengan saya bisa-bisa istri saya lepas, hilang, dan ketika ketemu sudah bawa tas belanjaan neko-nekoYo mending digandeng ae kan.

Kalau ada yang tanya apa resep membuat istri selalu bahagia maka jawabnya ada 3, yaitu uang, money, dan ojir. Anda boleh tidak percaya tapi uang bisa membuat istri bahagia. Money can’t buy happiness, demikian kata pepatah. Of course you cannot buy happiness because happiness is not for sale. But you can buy things which may make your wife happy. Maksud saya, jangan pelit sama istri. Kalau dia butuh 100 ribu berilah 150 ribu. Dia perlu sejuta beri dua juta. Pokoke sak mblengere…  Walau pun kita tahu bahwa istri kita tidak akan pernah mblenger sama uang. Edan po…!

Rahasia kami untuk tetap rukun adalah pembagian tugas. Tujuannya agar tidak terjadi konflik karena salah paham dalam menangani masalah yang sama. Suami ingin ke kondangan pakai baju yang santai si istri ngotot harus pakai batik tertentu yang katanya sudah dia siapkan sejak dua minggu yang lalu. Kan berabe kalau dalam segala hal kita bertengkar. Itu sebabnya perlu ada pembagian tugas. Kata istri saya saya sebagai suami sebaiknya menangani hal-hal penting saja sedangkan yang remeh-remeh biar dia yang tangani. Waktu saya tanya hal penting apa yang harus saya tangani dijawab, “Ya hal penting yang berhubungan dengan kemaslahatan umat, bagaimana menangani pemanasan global, memikirkan masalah kelangkaan air di NTT, apakah sebaiknya Wapres punya staf khusus Habib Rizieq, dan semacamnya.

Baca juga:  CITA-CITA, KEINGINAN, DAN OBSESI

Jadi urusan rumah tangga dan seisinya, apa jenis dan merk mobil yang mau dibeli, mau kredit atau cash, anak mau sekolah di mana atau mau gak sekolah, rumah mau direnovasi atau tidak, dll itu urusan istri. Saya kebagian tugas luar mikiri apakah anjing laut di kutub sana cukup merasa dingin atau tidak dan bagaimana agar Trump dan Xi Jinping tidak eker-ekeran terus. Alhamdulillah karena tugas sudah dibagi demikian maka potensi konflik di antara kami langsung anjlok.

Kemarin ada tamu dari Darmokali yang bertanya pada istri saya, “Putrinya Mas Adok ya?” Uasem pol…! Entah ini karena kemarin itu istri saya tampil terlalu muda atau saya yang tampak terlalu tua sehingga istri saya dikira anak saya. Jadi begitu istri saya menjawab, “Saya istrinya…” dan mereka kaget lalu saya timpali, “Iki mbok nom…” dan mereka tampak semakin terkejut. Lha istri tuanya mana…?! Ya nanti nunggu istri mudaku ini jadi tua nantinya. Semoga mereka bisa menerima jenis guyonan semacam ini…

Ketiga, syukuran atas terbitnya buku terbaru saya dengan judul “Literacy and The Color of My Days” dengan sampulnya yang colorful itu. Buku ini tebalnya 546 halaman dengan 105 judul artikel. Buku ini datang pas acara syukuran berlangsung sehingga saya bisa membagikannya pada para mantan dosen saya di IKIP Surabaya yang sempat hadir kemarin. Saya sungguh gembira bahwa syukuran saya bisa dihadiri oleh Pak Djoko Soloeh Marhaen, Pak Moeljono, Pak Budi Darma, Bu Syukriyah, Bu Fabiola Kurnia, Bu Ninuk Kutsi, dan pasangan masing-masing. Pak Djoko yang jalannya sudah tertatih-tatih dan Pak Budi Darma yang sudah tidak bisa berjalan dengan tegak seperti tahun lalu membuat saya terharu karena masih mau menyempatkan diri datang ke acara saya, mantan mahasiswanya yang suka bikin rebut itu. Saya berharap bahwa buku saya tersebut dapat membuat mereka bangga bahwa apa yang mereka ajarkan pada saya dulu itu tidak sia-sia.

Baca juga:  PENGAKUAN SUAMI

Keempat, Alhamdulillah saya berhasil mencapai usia 62 tahun dengan kondisi lumayan baik jiwa dan raga, fisikal, emosional, finansial, seimbang Yin dan Yangnya, terlindungi dari segala santet, sihir, guna-guna istri muda, gendam, sirik dan dengki, mau pun keluhan pasutri seperti loyo, peltu (nempel metu) dan lemah syahwat. Alhamdulillah saya juga masih bisa menghayati dan mengamalkan butir-butir Pancasila yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, GBHN, maupun UU Sisdiknas yang katanya mau diamandemen itu. Karepmu wis…!

Kelima….

Aisy…! Leren-leren…! Cekap semanten piatur kulo. Terima kasih saya ucapkan pada teman-teman yang telah hadir kemarin. You really made our day so beautiful yesterday…

Surabaya, 2 Desember 2019

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

 

Foto-foto Dokumentasi:

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *