Senin, 10 Desember 2018
Just another WordPress site
SKAK MAT

Saya diskak-mat oleh anak sulung saya pagi ini.

Ketika saya dan istri sedang ngobrol di kamar anak sulung saya, Yubi, mengetuk pintu dan masuk. Kami lalu ngobrol bertiga. Kami menanyainya soal bisnisnya yang sedang ia rintis. Ia bersama teman-temannya sedang berupaya untuk membuka semacam warung makan khas anak muda. Saat ini renovasi tempat yang mereka kontrak tersebut sudah hampir selesai dan Yubi mengundang kami untuk hadir pada acara pembukaannya. Ia berencana untuk mengadakan sedikit tumpengan pada soft opening pada tanggal 7 Desember nanti. Sayang sekali kami sama-sama sedang ada acara lain. Istri saya ada acara reuni SMK di Madiun sedangkan saya ada wisuda di STTB Bandung. Sayang sekali bahwa kami tidak bisa menghadiri soft launching usaha anak kami tersebut. 🙁

Kami lalu memberinya selamat atas keberhasilannya tersebut. Tapi ia menolak dan bilang bahwa apa yang ia lakukan saat ini belum bisa dikatakan keberhasilan sama sekali. It’s just a start and still a long way to success, katanya. Ia juga mengatakan bahwa apa yang dilakukannya saat ini belum begitu membuatnya mengeluarkan kapasitas maksimal yang ia miliki. Ia memang tidak sendirian menggarap bisnisnya ini. He’s just a part of a team dan apa yang dilakukannya saat ini tidak begitu membuatnya puas.

Kami lalu mengusulkan agar ia kembali kuliah (mimpi ortu agar anak menjadi sarjana bersemi kembali). Ia lalu bilang memang berniat untuk kuliah lagi tapi ia menolak usulan saya untuk kembali kuliah di jurusan bahasa Inggris (ia dulu pernah lima semester di jurusan bahasa Inggris UNAIR). Bahasa Inggris bisa dikuasainya tanpa perlu kuliah katanya. (Ini mah omongan saya dulu). 😀

Baca juga:  Turkey Tour (Part 1) : Jalan-jalan Bersama Keluarga

Tapi kalau belajar sendiri kamu tidak akan pernah mendapatkan gelar sarjana, demikian kata saya. Bagaimana pun masyarakat masih melihat gelar seseorang (pengalaman pribadi bapaknya yang selalu diberi gelar Dr. PhD, dan bahkan Profesor oleh orang-orang yang mengundang).

Di sini ia lalu tertawa…

Gelar memang penting di zamannya Bapak, jawabnya. Tapi tidak di zamanku. Di zamanku orang sudah tidak peduli lagi apa gelar yang dimiliki seseorang. Orang akan dinilai dari kompetensinya, sambungnya sambil tertawa.

Skak-mat…! 😬

Saya benar-benar tidak bisa menjawab dan kehabisan kata. 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *