Ketika seorang menjadi istri maka ia akan otomatis menjadi anak mantu, ipar, tante, teman dari temannya suami, dan sekaligus bagian dari keluarga besar suaminya. Seorang istri yang baik tentu akan juga berusaha untuk menjadi menantu, ipar, tante, dan famili suami yang baik juga. Jika seorang istri bisa melakukan itu maka ia akan menjadi kesayangan semua orang di keluarga suaminya.
Dan itulah yang terjadi pada istri saya.
Ia bukan hanya sangat baik pada saya dan anak-anak tapi juga sangat baik pada semua bagian dari keluarga dan pertemanan saya. Istri saya adalah kesayangan ayah dan ibu saya almarhum. Ia juga kesayangan para om dan tante saya. Ia adalah ipar kesayangan para saudara saya. Bahkan seorang tante saya almarhum pernah bilang kepada istri saya, ”Kamu anak saya. Kalau ada apa-apa dengan suamimu kamu yang akan saya bela sepenuhnya.” sambil memeluknya dengan erat. Tentu saja saya yang ada di dekatnya tertawa sambil terharu mendengarnya. Itu semacam warning dari tante saya tersebut agar saya memperlakukan istri saya sebaik-baiknya. “Don’t mess with your wife or else…”. 🙄
Istri saya bukan hanya dicintai oleh keluarga dekat saya, ia juga dicintai oleh keluarga besar saya di Sulawesi. Istri saya itu bahkan lebih hafal nama-nama keluarga besar saya ketimbang saya sendiri. Pertemanannya dengan mereka lebih akrab ketimbang saya sendiri. Istri saya tidak pernah menunjukkan sikap tinggi hati atau merasa lebih dari siapa pun di keluarga saya.
Tentu saja ayah, ibu, dan tante saya sangat menyayangi istri saya karena istri saya juga menyayangi mereka seperti orang tuanya sendiri. Istri saya menyayangi dan menghormati mereka dengan sepenuh hati dan dengan tulus tanpa sedikit pun ada tendensi untuk sekedar mengambil hatinya atau ingin mendapat balasan sesuatu. Istri saya menyayangi mereka dengan cara yang saya sendiri tidak bisa melakukannya.

Apa yang dilakukan oleh istri saya pada mereka?
Istri saya selalu mengingat para ortu dengan selalu membawakan mereka oleh-oleh jika ia pergi ke sesuatu tempat. Oleh-olehnya sih tidak seberapa tapi tentu saja ayah-ibu dan para ortu tersebut sangat terkesan dengan perhatian istri saya yang tulus tersebut. Istri saya juga sering menyempatkan diri untuk datang pada mereka untuk ngobrol dan mendengarkan kisah-kisah mereka. Something which I couldn’t do. I have no time for such things. 😎
Apa yang lebih istimewa? Istri saya adalah anak dan keponakan yang secara rutin datang untuk memotong kuku para oldies tersebut. Di usia tua dan sakit-sakitan memotong kuku tangan, dan apalagi kuku kaki, itu kadang sulit untuk dilakukan oleh para orang tua. Istri saya tahu itu dan itulah sebabnya ia menyediakan dirinya untuk melakukan hal tersebut secara rutin. Jadi ia mendatangi mereka dan menawarkan untuk memotong kuku mereka. Tentu saja mereka sangat senang ada nail technician yang mau melakukan manicure dan pedicure gratis pada mereka. Sambil memotong kuku-kuku tangan dan kaki mereka yang sudah panjang istri saya akan ngobrol dan mendengarkan kisah-kisah mereka dengan senang hati. Mengapa istri saya tahu bahwa hal tersebut menyenangkan bagi mereka? Mungkin karena ia sendiri suka melakukan manicure-pedicure di salon langganannya. 😁
Apa yang dilakukan oleh istri saya tersebut membuat saya jadi belajar untuk menjadi sosok yang disayangi dan dicintai oleh keluarga pihak istri saya juga. Saya akhirnya juga mengembangkan sikap ramah dan menyayangi kepada keluarga istri saya juga. Tentu saja dengan cara yang lebih mudah bagi saya, salah satunya yaitu sering-sering bagi angpao pada ipar dan keponakan. Saya tentu tidak akan bisa jadi nail technician seperti istri saya. Tapi paling tidak keponakan istri saya akan mengingat saya sebagai seorang pakde yang suka wahweh. Dan orang yang suka wahweh biasanya selalu disukai. Nggih nopo mboten…?! 😁
Balikpapan, 27 Juni 2025
Satria Dharma