Sabtu, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
WHY MEN DIE FIRST

Akhirnya saya putuskan untuk membaca buku ini lebih dahulu. Buku “Menolak Wahabi” tampaknya berisi adu argumentasi ideologis yang cukup berat secara psikologis untuk dibaca. Saya butuh persiapan mental untuk membacanya. Kali lain saja saya baca. Saya mau baca yang tidak terlalu membebani secara psikologis dan mental. *:) happy
Seperti yang saya duga buku ini memang menarik. Buku ini ditulis oleh Dr. Marianne J. Legato, seorang dokter yang professor di Columbia University. Ia juga seorang penulis yang banyak melahirkan karya bestseller, di antaranya adalah “Why Men Never Remember and Women Never Forgot”. Judulnya cukup ‘ngeri’ kan? (Hati-hatilah jika berbuat kesalahan pada istrimu karena ia akan tetap mengingatnya walau pun kamu bersumpah bahwa kamu tidak ingat pernah melakukannya). *:) happy

Berdasarkan hasil penelitian ternyata kaum perempuan mampu bertahan hidup sepuluh tahun lebih lama daripada laki-laki (mungkin ini sebabnya mengapa janda itu selalu lebih banyak daripada duda). Mengapa demikian? Ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkannya. Salah satunya adalah kondisi biologis bawaan yang ada dalam diri laki-laki membuat mereka menjadi kaum yang lemah (ini juga mungkin alasan mengapa obat kuat itu hanya diciptakan untuk laki-laki dan tidak pernah terdengar ada obat kuat untuk wanita). Daya tahan laki-laki memang lebih rendah sejak dalam rahim. Perkembangan mereka lebih lambat enam minggu ketimbang kaum perempuan. Laki-laki mengalami kemungkinan gangguan perkembangan empat kali lebih banyak. Dari sepuluh infeksi yang secara umum dialami oleh manusia, tujuh diantaranya dialami oleh laki-laki. Laki-laki memiliki kemungkinan terserang penyakit jantung koroner pada pertengahan usia tiga puluhan, 15 sampai 20 tahun lebih awal daripada perempuan. Intinya laki-laki memang lebih lebih rentan daripada wanita.

Baca juga:  KARYA EMAS GURU BERPRESTASI NASIONAL

Sekarang saya tahu mengapa istri saya punya fisik yang luar biasa tangguh, utamanya ia ketika sedang berbelanja…!

Selain kondisi fisiologis, tuntutan sosial terhadap laki-laki semakin memperparah keadaan laki-laki. Laki-laki memang sering ingin tampak kuat dan jagoan. Mereka ingin tampak tegar, kokoh, mampu menghadapi kenyataan sepahit apa pun, pantang mengeluarkan air mata sesedih apa pun. Itu sebabnya kita tidak pernah melihat Superman, Spiderman, Gundala, Deni Si Manusia Ikan, Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, dan para jagoan lain menangis padahal kehidupan mereka sebenarnya menderita. Si Buta dari Gua Hantu sampai akhir hayatnya gak punya istri. Pacar aja gak punya. Mungkin karena ia sulit move on dari Marni, mantan pacarnya yang direbut oleh si Botak jelek bersenjatakan durian besi dengan rantai panjang itu. Anak laki-laki memang dituntut untuk belajar ‘menelan’ perasaanmereka saat menghadapi luka dan kekecewaan yang mereka rasakan. Kebanyakan laki-laki tidak meminta bantuan (dan juga tidak memberikan bantuan) saat mereka berjuang untuk meningkatkan karier, mengayomi keluarga, dan mencari nafkah untuk mempertahankan hidup. Jika Anda menemui laki-laki yang sedikit-sedikit mengeluh dan curhat karena dimarahi bosnya, target penjualannya gak tercapai, gajinya banyak potongan, makannya dijatah sama istrinya, gak dibuatin kopi pagi ini, dlsbnya maka mungkin laki-laki tersebut kelebihan kromosom X. Meratap adalah bagian kaum perempuan, tidak untuk para pria sejati. Begitu katanya.

Padahal sikap sok jagoan itu sebenarnya tidak baik bagi kesehatan laki-laki. Begitu kata Dr. Marianne J. Legato. Saya tentu tidak berani membantah. Pertama karena dia seorang ahli. Kedua karena dia yang menulis buku ini, dan ketiga, karena saya sering juga melihat buktinya. Beberapa orang yang sok jagoan memang biasanya mati duluan. Kalau ada perebutan cewek atau cowok maka resiko kematian biasanya lebih tinggi pada laki-laki. Sangat jarang ada wanita yang mau mengajak saingannya untuk carok demi laki-laki. Kalau ada berarti dia kebanyakan kromosom Y.

Baca juga:  LEBARAN

Ada hal yang tidak kita sadari tapi telah dan terus berlangsung sejak 150 tahun terakhir ini, yaitu perubahan peran laki-laki dan perempuan akibat revolusi teknologi. Revolusi teknologi telah membuat kekuatan fisik dan agresifitas laki-laki menjadi tidak relevan. Manusia tidak lagi bergantung pada kekuatan serta ketahanan fisik untuk mencari makan atau bahkan dalam membangun kota. Komputer dan internet membebaskan kita dari pekerjaan berat dan komputer tidak mensyaratkan gender sebagai operatornya. Sekarang semakin banyak aktivitas yang netral gender. Lha wong pertandingan tinju dan gulat aja sudah dimasuki oleh wanita je…! Artinya peran laki-laki dalam masyarakat semakin terpinggirkan. Tubuh yang tinggi dan kekuatan fisik yang besar tidak lagi penting untuk memenuhi banyak tuntutan peran baru dalam masyarakat. Anak laki-laki sudah tidak ngangsu air lagi dari sumur seperti di jaman saya. Perempuan sekarang bisa apa saja. Coba lihat betapa perkasanya Bu Susi dan Bu Sri Mulyani…! Punya tato bukan lagi simbol kejantanan saat ini. Perempuan juga sudah banyak yang pakai tato. Bu Susi aja punya.

Jadi bagaimana nih nasib laki-laki menurut buku ini…?! Mohon maaf, saya belum tahu. Soalnya saya baru baca satu bab. Masih ada 10 bab lagi ditambah Penutup dan Catatan Kaki. Mudah-mudahan buku ini memberikan ‘happy ending’ bagi para laki-laki pembacanya. Jika tidak maka saya akan menangis. Biar saja kalau dibilang cengeng.

Surabaya, 15 Maret 2017

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *