Senin, 17 Februari 2020
Just another WordPress site
LAGU YANG ME’MUSYRIK’KAN BANGSA


Masih soal Taufik Ismail yang menganggap orang yang menyanyikan lagu “bagimu negeri jiwa raga kami” adalah musyrik.

Terus terang saya sangat penasaran dengan pemahaman beliau yang nyleneh ini karena beliau itu adalah justru seorang sastrawan besar Indonesia dan bukan seorang ulama yang biasa bicara tentang akidah. Selama ini belum pernah saya dengar ada seorang ulama pun yang pernah menyatakan bahwa menyanyikan lagu tersebut menjadi musyrik. Tidak mungkin para ulama tidak pernah mendengar atau menyadari adanya ‘potensi’ kemusyrikan dalam lagu tersebut. Jika mereka menganggap bahwa ada ‘potensi’ kemusyrikan yang akan membahayakan umat dalam lagu tersebut maka tentulah sejak awal diperkenalkannya lagu itu mereka sudah mengingatkan.

Kalau berdasarkan makna kata maka ‘musyrik’ adalah orang atau perbuatan yang mempersekutukan Allah, mengaku akan adanya Tuhan selain Allah atau menyamakan sesuatu dengan Allah. Orang musyrik disamping menyembah Allah juga menyembah atau mempertuhankan yang selain Allah. Tolong koreksi saya kalau salah.

Dengan makna tersebut maka jika Taufik Ismail menganggap orang yang menyanyikan lagu “Padamu Negeri’ menjadi musyrik maka itu berarti beliau menganggap orang yang menyanyikan lagu itu telah mempersekutukan Tuhan dengan Negara Indonesia, tentunya. Menurut Taufik Ismail orang yang menyanyikan lagu tersebut otomatis telah menganggap Negara Indonesia sebagai Tuhan yang disembahnya selain Allah. Pernahkah Anda mendengar istilah ‘menyembah negara’? Alangkah ganjilnya pemikiran semacam ini, apalagi jika ia datang dari seorang sastrawan besar.

Dengan konsep atau cara berpikir semacam itu maka pernyataan ‘wa iyaka nasta in’ (dan hanya kepadaMu aku memohon pertolongan) dalam setiap kali beliau membaca Al-Fatihah dalam salatnya tentulah akan membuatnya tidak akan bisa lagi meminta tolong kepada siapa pun jika ia butuh bantuan. Bukankah ia telah berjanji hanya akan memohon pertolongan pada Allah dalam setiap kali ia membaca Al-Fatihah dalam salatnya. Jika ia meminta pertolongan kepada siapa pun dalam hal apa pun maka tentulah ia otomatis menjadi musyrik karena telah mengingkari janji yang selalu ia sampaikan dalam salatnya. Bukankah ini mempunyai konsekuensi kemusyrikan yang sama, bahkan lebih besar, ketimbang menyanyikan lagu?

Baca juga:  CITA-CITA, KEINGINAN, DAN OBSESI

Saya tidak tahu apakah beliau ini dulunya pernah jadi pegawai negeri atau tidak. Tapi jika ‘ya’ maka itu berarti beliau telah pernah menjadi musyrik. Bukankah seorang PNS adalah seorang ‘abdi negara’? Jika menyanyikan lagu saja seseorang bisa menjadi musyrik bayangkan betapa tersesatnya seseorang yang mengabdikan dirinya bukan pada Tuhan tapi justru pada negara.

Saya paham bahwa banyak orang yang mengikuti cara berpikir Taufik Ismail yang kesulitan membedakan antara akidah dan nasionalisme. Terjadi konflik dalam pemahaman mereka yang hitam putih tersebut sehingga mereka membenturkannya dan akhirnya menganggap lagu tersebut adalah pernyataan penyekutuan Tuhan dengan negara.

Tentu saja Anda punya hak untuk berpandangan demikian. Sak karepmu sajalah…. Tapi jika Anda seorang PNS atau bekerja di BUMN maka itu artinya Anda adalah seorang musyrik setiap hari karena pada hakikatnya seorang PNS atau karyawan BUMN adalah seorang ‘abdi negara’. Mungkin ada baiknya jika Anda segera pensiun saja daripada jadi musyrik setiap hari. Bagaimana…?!

Apakah menurut Anda jika seseorang ikut menyanyikan lirik lagu “La ilaha illallah’ yang dilagukan oleh Rhoma Irama maka ia otomatis telah bertauhid? Apakah jika seorang non-muslim membaca kalimat syahadat “La ilaha illallah, Muhammad rasulullah” yang saya tuliskan ini pada posting saya ini maka ia akan otomatis menjadi muslim? Tentu saja tidak. Jangankan sekedar membaca, sedangkan mengucapkannya di depan Nabi Muhammad pun tidak otomatis membuat sseorang menjadi muslim (Baca Al-Baqarah 2:8 dan Al-Munafiqun 63:1).

Ada yang berargumen bahwa akad nikah bisa membuat sesuatu yang semula haram menjadi halal. Setelah mengucapkan akad nikah maka seorang suami bisa menggauli seorang istri. Jika belum maka tidak sah. Jadi kata dalam akad itulah yang mengubahnya. Tapi apakah jika Anda mengucapkan akad itu pada seorang perempuan maka otomatis perempuan tersebut bisa Anda gauli? Jangan berkhayallah. Tentu saja tidak. Akad itu baru bermakna jika diucapkan dalam sebuah upacara pernikahan. Seandainya pernyataan dalam akad nikah itu otomatis bisa membuat seorang laki-laki menggauli seorang perempuan maka akan banyak laki-laki yang berkeliaran mengucapkan akad itu pada wanita yang ia inginkan. Just joking…

Baca juga:  UNAS YANG MOKONG DAN NDABLEK

Tolong luruskan pikiran dan perasaan Anda. Saya tidak bermaksud untuk mendiskreditkan Pak Taufik Ismail. Beliau itu orang yang sangat saya hormati dan bahkan selalu saya kutip dalam materi presentasi literasi saya ke mana-mana. Saya hanya menggugat pemahaman beliau tentang akidah yang nyleneh tersebut dan membahasnya agar menjadi pembelajaran bagi kita semua. Jadi tolong jangan baper jika Anda ingin ikut berkomentar.

Surabaya, 31 Januari 2017
Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *