Mei 16, 2022

2 thoughts on “Rukyat atau Hisab…?!

  1. Berawal dari gugling mengenai polemik PNS nyambi di luar, saya akhirnya “tersesat” di blog Pak Satria Dharma dan membaca postingan demi postingan. Menarik. he3.

    Sebenarnya saya lebih tertarik untuk membaca tulisan-tulisan Bapak mengenai pendidikan. Terlihat jelas bahwa Bapak sudah lama malang melintang di dunia pendidikan, dan Bapak pinter nulis, jadilah tulisannya bagus-bagus. #lho lha komen postingane ndi iki?

    Terkait postingan ini, saya jadi bertanya-tanya, apakah memang benar jaman dulu belum ada hisab? Sebab dari beberapa artikel yang saya baca, jaman dulu sudah ada hisab namun Rasulullah tidak menggunakannya. Ini referensi artikel yang saya maksud (mudah-mudahan ndak jadi sepam):
    – muslimah.or.id/fikih/saudariku-inilah-cara-menentukan-awal-bulan-ramadhan.html
    – asysyariah.com/meneropong-ilmu-hisab/

    Mohon bila ada keluangan waktu Bapak, untuk mengecek artikel tersebut. Dan mudah-mudahan, pilih hisab atau pun ru’yah, tidak menjadikan rasa saling menghormati di antara masyarakat kita berkurang.

  2. Jika memang ilmu hisab sudah berkembang pada jaman Rasulullah maka tentunya jadwal sholat sudah menggunakan ilmu hisab. Faktanya jadwal sholat pada jaman Rasulullah masih menggunakan melihat langsung pergeseran matahari.

    “Sesungguhnya solat itu diwajibkan atas orang-orang yang beriman menurut waktu-waktu yang tertentu” ( Q.S. An-Nisa’ :103 )

    “Dirikanlah solat ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam dan dirikanlah solat subuh sesungguhnya solat subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya)”.
    ( Q.S. Al-Isra’ : 78 )

    Saat ini semua umat Islam sudah menggunakan jadwal sholat berdasarkan perhitungan ilmu hisab dan tidak lagi melihat pergeseran matahari. Lantas mengapa soal awal bulan Ramadhan masih tetap menggunakan cara melihat langsung hilal?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.