Selasa, 23 Juli 2019
Just another WordPress site
Thanks God for A Very Happy Life One Man Can Get

Tiba-tiba Nopember telah berada di pertengahan. Dan itu berarti bahwa saya harus mulai mempersiapkan penerbitan buku tahunan saya, Buku Tahun 2013. Pertama, saya harus menghubungi Mas Rohman sebagai editor sekaligus penerbit buku tahunan saya. Begitu kuhubungi via SMS Mas Rohman langsung menyatakan kesiapannya. Materinya tentu saja sudah ada semua dan tinggal dikumpulkan dari artikel-artikel yang saya tulis selama setahun periode Desember 2012 sampai dengan Nopember 2013. Dan itu tinggal dibuka di website saya www.satriadharma.com. It’s all there. No problem

Kedua, saya harus memikirkan sebuah judul bagi buku tahun 2013 ini. Saya bisa saja mengambil judul salah satu artikel yg saya tulis setahun ini utk menjadi judul buku ini. Tapi saya tidak ‘sreg’. Judul tersebut semestinya mewakili peristiwa, atau tepatnya gambaran umum dari apa yang saya tulis selama 2013. Dan itu berarti saya perlu membaca ulang semua artikel untuk mendapatkan kembali suasananya. Tapi saya sedang tidak ‘mood’ untuk membaca ulang tulisan saya. Lagipula tulisan saya sungguh bervariasi temanya. Judul buku saya tahun lalu adalah “Twenty Years of Joy and Happiness” menggambarkan dua puluh tahun kehidupan perkawinan saya yang penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan. Tahun ini berarti sudah 21 tahun. Selintas saya tergoda untuk memberi judul “Twenty One Years of Joy and Happiness” tapi tentu judul ini akan menunjukkan betapa tidak kreatifnya saya. 🙂
Akhirnya setelah menimbang-nimbang saya tetapkan untuk memberi judul “Thanks God for A Very Happy Life One Man Can Get” untuk menunjukkan betapa berbahagianya saya dalam hidup.

Mengapa demikian?

Memasuki usia 55 tahun (artinya sejak tahun lalu) saya sudah benar-benar tidak perlu lagi bekerja untuk mencari nafkah. Saya sudah pensiun dini atas keinginan saya sendiri. Sejak pindah ke Surabaya saya benar-benar menikmati kebebasan finansial seperti yang diimpi-impikan oleh semua orang. Tanpa perlu bekerja saya sudah bisa memperoleh penghasilan rutin yang lumayan dan cukup untuk hidup bergaya. Selain itu istri saya juga memiliki penghasilan sendiri yang juga lumayan jika dibandingkan dengan gaji karyawan kantoran. Kami samasekali tidak punya utang atau pun kewajiban kreditan yang harus kami bayar setiap bulan. Meski kami punya kartu kredit beberapa bank tapi sebisa-bisanya semua barang kami beli dengan tunai. Kartu kredit itu hanya kami pakai untuk masuk ke lounge bandara dengan gratis atau kalau ada promo diskon makan di resto-resto tertentu. Sangat sedikit teman saya yang memiliki kebebasan finansial seperti saya di masa pensiunnya. Saya tidak perlu mengubah gaya hidup seperti sebagian besar teman-teman saya yang memasuki masa pensiunnya. Ketika mereka memasuki masa pensiun mereka harus membatasi gaya hidup mereka karena menurunnya penghasilan mereka. Sedangkan saya justru sedang menikmati kebebasan finansial. Ini adalah berkah dan karunia yg dilimpahkan oleh Allah pada saya.

Baca juga:  Resensi Buku : Cara Menikmati Buku dan Mengikat Ilmu

Kedua, saya dan keluarga semuanya dalam kondisi sehat dan bugar. Kalau pun Yufi masuk RS kemarin itu hanya sakit alergi yang ringan dan dua hari kemudian sudah pulih dan keluar dengan fit. Beberapa waktu yang lalu saya mengalami gangguan nyeri pada lutut sehingga mengganggu posisi saya kalau sholat. Tapi dengan terapi sederhana, minum obat suplemen, dan olahraga jalan kaki nyeri di lutut saya akhirnya hilang. Beberapa waktu yang lalu kami ke Bromo naik ratusan anak tangga dan saya tidak merasakan kelelahan yang berat sesudahnya. I’m really fit at my age now.

Ketiga, saya punya banyak waktu luang sehingga saya bisa banyak jalan-jalan atau melakukan apa pun yg saya inginkan. Ini adalah nikmat lain yg sangat didambakan oleh banyak orang, utamanya yg hidup dikejar tenggat waktu. Saya bisa saja seharian cuma membaca saja di kamar sambil menikmati hari. Saya juga bisa nongkrong di toko buku sebanyak yg saya suka. Tapi tentu saja saya paling suka bepergian. Kalau biasanya saya bepergian kemana-mana adalah dalam rangka bekerja atau sambil dinas maka tahun ini saya bepergian hampir seluruhnya untuk jalan-jalan. Untuk tahun ini saja saya sudah jalan-jalan ke LN sebanyak 5 (lima) kali, yaitu ke Bangkok Thailand pada bulan Maret, Singapura pada bulan April, Seoul Korea pada bulan Juli, Guilin China pada bulan Oktober, dan ke Turki pada pertengahan bulan Nopember ini. Catatan perjalanan saya ke masing-masing bisa dibaca di buku ini. Kalau perjalanan ke LN sebelumnya hampir selalu ‘bau-bau’ tugas atau dinas maka perjalanan saya tahun ini lebih banyak rekreasinya. Siapa pensiunan yang rekreasi (dan tugas dinas) ke luar negeri lima kali dalam setahun…?! 🙂

Baca juga:  How to Read a Book

Keempat, kehidupan keluarga kami juga sangat bahagia dan harmonis. Sesekali saya agak jealous pada istri saya yang semakin hari kok semakin cantik dan modis saja rasanya sedangkan saya kok tidak ikut ‘mlungsungi’. Rasanya kok istri saya selalu diliriki sama laki-laki lain tapi kok gak ada wanita yang nglirik saya ya..?! Hehehe…! My wife always looks young, fresh, and beautiful dan saya serasa punya istri muda tanpa harus cari istri baru.Kami berdua memang selalu romantis dan merasa seperti dua orang yang masih pengantin baru saja layaknya. We still adore each other. Berapa banyak manula usia 56 tahun yang merasakan punya istri muda tanpa harus punya (dan bahkan akhirnya menelantarkan) istri tuanya…?! 🙂

Anak-anak saya juga baik dan happy belaka. Saya selalu mengatakan bahwa anak-anak saya itu cakep, pintar, dan menyenangkan. Yubi memiliki wajah yg ganteng dan imut. Semua orang selalu memuji ketampanannya. Yufi adalah anak yg pintar dan serius dg sekolahnya. Ia seolah sudah merancang masa depannya saat ini melalui studinya (something which I never did). Sedangkan Tara adalah anak yang selalu ceria, ramah dan sangat menyenangkan bagi siapa pun yg mengenalnya. Matanya yg bulat bercahaya, senyumnya yg selalu terkembang, dan sikapnya yg ceria mampu membuat kita merasa bahagia bersamanya. Itu membuatnya populer di sekolahnya. Mereka benar-benar ‘qurrota a’yun’ atau ‘penyejuk jiwa’ bagi kami orang tuanya.

Kelima, semua usaha yang saya miliki (tepatnya saya ikut memilikinya) sedang dalam kondisi bagus dan mendapatkan kemajuan perkembangan dan keuntungan yang baik. Meski tidak semua target dalam tahun ini bisa tercapai (dan ada yang menunjukkan penurunan) tapi secara keseluruhan mencatatkan perkembangan yang mengagumkan. Kami saat ini sedang membangun kampus baik di Balikpapan, Samarinda, Denpasar, mau pun di Bandung. Isn’t it spectacular…?! 🙂

Baca juga:  "Muslim Kok Nyebelin"

Satu lagi bonus bagi kebahagiaan saya di akhir tahun ini adalah bahwa kumpulan tulisan saya tentang agama ternyata menarik perhatian penerbit Bentang Pustaka dan mereka ingin menerbitkannya. Insya Allah Desember ini akan terbit dengan judul yg agak ngepop. Kemungkinan judulnya adalah “Jadi Muslim kok Nyebelin?” dan sasarannya adalah anak-anak muda yg kritis dan tidak suka pada pemahaman agama yg ortodok.

Jadi saya mesti mengatakan bahwa di usia ke 56 tahun ini saya sedang menikmati puncak kebahagiaan hidup saya sebagai manusia. Ketika orang lain hanya bisa mengimpi-impikan apa yang saya miliki saya justru sedang menikmati semua berkah dan karunia Tuhan ini. Terima kasih ya Tuhan atas semua nikmat yang Kau limpahkan padaku dan keluargaku. Masukkanlah hamba dan keluarga hamba ke dalam golongan orang-orang yg selalu bersyukur kepadaMu. Buku ini adalah salah sebuah bentuk dari rasa syukurku atas semua nikmat yang Kau limpahkan padaku dan keluargaku.

Surabaya, 10 Nopember 2013

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *