Senin, 23 Oktober 2018
Just another WordPress site
Guilin Tur (bagian 4) : Culture Shock dan Jualan Produk

Chinese Culture Shock
Ada beberapa hal yg bisa membuat kita terkaget-kaget di China. Pertama, org Indonesia dianggap kurang tertib dalam antrian tapi orang China ternyata lebih tidak tertib. Mereka dengan seenaknya akan menyerobot antrian dengan menyibakkan orang-orang di depannya. Hampir saja saya mendorong balik mereka secara refleks dan mengeluarkan lwekang ketika mereka dengan kasar menyerobot saya yg antri dg tertib di bandara Nanning. Kedua, toilet di China lebih parah kotor dan baunya daripada toilet umum di terminal kita. Bahkan toilet di hotel pun bau pesingnya menyengat. Rupanya ada kebiasaan buruk org China yaitu setelah BAK (mau pun BAB) tidak disiram dan ‘peninggalannya’ itu diwariskan kepada ‘penerus’nya utk dikelola lebih lanjut. Tentu saja toilet jadi bau pesing sampai di luar dan membuat kita pingin muntah saja rasanya. Celakanya, bahkan di hotel pun kebiasaan buruk ini dipertahankan dan tidak ada petugas kebersihan khusus yg menanganinya. Aneh…! Toilet hotel kok bau pesing…! Meski demikian, toilet adalah ‘most favorite place to visit’ bagi rombongan kami. Setiap berhenti di mana pun toilet adalah tempat pertama yg diserbu oleh para rombongan. Jadi meski harus menahan napas, toilet tetap menjadi dambaan bagi rombongan kami. Biar pesing asal bisa dipakai utk melepas hajat. Yang lebih parah ternyata adalah ada kebiasaan anak balita berak di sembarang tempat dan dibiarkan oleh ortunya. Saya sempat melihat ini di jalanan menuju Merryland di kota Xing An. Nampaknya untuk soal kebersihan pemerintah China masih harus bekerja keras utk mencapai standar internasional. Itu sebabnya kota Beijing mempopulerkan ‘Toilet Bintang Lima’ utk umum yg bersih, harum, dan ada TV dan musiknya. Tapi mungkin ada baiknya mereka meniru Indonesia yaitu WC-nya berbayar. Jadi uang iurannya bisa dipakai utk membayar petugas kebersihan. Ketiga, orang China kalau makan ribut. Bukan hanya ribut ngobrol dan ketawa-ketawa tapi kalau makan mulutnya mengecap-ngecap. Utk ukuran kita cara makan berbunyi seperti ini termasuk tidak sopan. Tapi menurut orang China makan dengan berbunyi mengecap-ngecap seperti itu justru baik karena menunjukkan bahwa mereka menikmatinya. Makan ala terminalan ini juga dilakukan untuk menghargai tuan rumah jika kita diundang makan. It means you enjoy the food.
Di China semua makanan dimakan pakai sumpit. Jadi jangan berharap dapat sendok dan garpu, meski pun di hotel bintang lima. Selain itu, semua makanan cenderung hambar semua karena orang China menghindari makanan yg bergula, asin dan pedas. Untungnya istri saya sudah mengantisipasinya dengan membawa sendok, garpu, dan sambal botol dari rumah. Ternyata makan pakai sumpit itu ada kisahnya. Dulu rakyat China sangat melarat. Tapi ada adat di mana kepala kampung atau kepala keluarga harus mengadakan pesta makan-makan dengan mengundang semua orang setahun sekali. Nah, agar makanan tidak langsung habis dalam sekejap maka mereka bikin aturan agar setiap orang mengambil makanan pakai sumpit. Tentu saja kalau kita ambil makanan pakai sumpit tidak bisa banyak. Untunglah kita tidak pernah mengalami kondisi paceklik parah. Bisa-bisa ada aturan harus makan pakai tusuk gigi. Hehehe…! Hotel-hotel di China juga pelit. Bahkan lebih pelit daripada hotel di Singapura yg semuanya mesti beli. Kalau kita menginap di hotel di Indonesia maka banyak yg bisa kita bawa sebagai suvenir baik itu sabun, shampoo, sewing kit, sandal, dll. Tapi di China kita akan dikenai bayaran utk membawa ‘oleh-oleh’ itu. Untung saja kami sudah diingatkan oleh pemandu wisata kami. Kalau tidak mungkin saya tertarik utk membawa pulang bathtubnya sebagai oleh-oleh. Hehehe…!

Baca juga:  JALAN-JALAN KE VIETNAM DAN KAMBOJA

Jualan Produk

Salah satu tujuan wisata kalau kita ikut tur adalah kunjungan ke berbagai pabrik atau showroom yg sudah menjadi bagian dari kerjasama antara pabrik atau toko tersebut dg travel. Pabrik-pabrik tsb selalu menyiapkan demo-demo produk utk menarik perhatian turis utk membeli produknya. Beberapa tempat bahkan menyediakan penerjemah yg bisa berbahasa Indonesia agar komunikasi menjadi lancar dan tentu saja agar jualan juga lebih laku. Beberapa tempat yg kami kunjungi selama ke Propinsi Guang Xi adalah : 1. Pabrik Teh 2. Istana Giok (Jade Palace) 3. Pabrik Obat Tradisional Baoshutang Pharmaceutical 4. Pabrik produk kain sutra 5. Bamboo Store. Produk berbagai barang yg terbuat dari bambu. Ternyata serat bambu bisa dipakai utk puluhan macam produk termasuk jadi celana dalam, sikat gigi, handuk, makanan camilan, dan berbagai macam peralatan terapi kesehatan. Tentu saja barang-barang yg dijual mahal-mahal harganya karena bermutu tinggi. Mereka juga sangat ahli dalam merayu dan memaksa kita utk membeli produk-produk tersebut. Kalau Anda lemah pendirian dan tidak tahan menghadapi paksaan dan rayuan maka kartu kredit Anda bisa gosong karena digesek terus mencapai limit. Hampir saja istri saya dipaksa membeli obat-obatan seharga 6 juta rupiah. Untunglah saya datang menyelamatkannya dari upacara penggesekan kartu kredit dg diplomasi tingkat tinggi. Lha kami baru kena pelet di Korea dua bulan lalu dan keluar belasan juta utk beli ginseng Korea je…!

Untuk produk fashion nampaknya China sangat tertinggal dibandingkan Thailand, Korea, bahkan Surabaya. Pakaian-pakaiannya nampak kuno dan ketinggalan jaman. Mutu produk yg dijual juga tidak sebagus produk yg ditawarkan khusus tersebut. Selama ini juga ada kesan bhw produk China bermutu rendah dan mudah rusak. Tapi sekarang pemerintah China berupaya setengah mati utk menghentikan produk-produk mereka yg bermutu rendah karena ternyata pada akhirnya merugikan mereka sendiri. Produk China dilecehkan dan dicekal dimana-mana karena dianggap bermutu rendah dan juga merugikan kesehatan. Dan tentu saja itu merugikan pemerintah dan masyarakat China sendiri pada akhirnya. Sekarang ini hampir sudah tidak ada orang Indonesia yg mau beli mocin alias motor China karena cepat rusak dan tidak laku dijual kembali. Akhirnya semua produk bermotor dari China dianggap sama mutunya dengan motor Jialing. Repot kan…?!

Baca juga:  Branding

Syahdan… Seorang mahasiswa Indonesia yg kuliah di Beijing kecantol cewek China teman kuliahnya. Ketika kuliahnya usai ia ingin melamar ceweknya tersebut, menikahinya dan membawanya pulang ke tanah air. Tapi kedua orang tuanya tidak setuju dan berupaya utk melarang anaknya menyunting gadis China tersebut. Mereka ingin agar anaknya tersebut menikahi gadis Indonesia saja. Tapi karena cinta sudah melekat maka tai kucing pun terasa coklat, demikian kata Gombloh. Si anak ngotot dan ‘putaw’ alias membangkang terhadap ortunya. Si ortu terpaksa mengalah dan dikawinkanlah mereka. Setelah kawin si istri dibawa pulang ke tanah air. Si suami sangat menyayangi dan mencintai istrinya tersebut. Sayangnya si istri nampaknya tidak tahan dengan cuaca dan kondisi di Jakarta. Tiga bulan kemudian si istri jatuh sakit yg makin lama makin parah. Meski di bawa ke dokter mana pun tetap tidak bisa sembuh. Bahkan para dokter tidak bisa mendiagnosa apa penyakitnya. Seminggu kemudian gadis itu sakit semakin parah dan akhirnya meninggal di pelukan sang suami. Suaminya tentu sangat sedih kehilangan istri tercinta. Kedua orang tuanya mencoba menghibur si anak dan berkata, ” Inilah sebenarnya yg kami kuatirkan selama ini, Nak. Sebetulnya ada hal yg kami tidak sampai hati untuk sampaikan padamu, Nak. Tahukah kamu mengapa kami melarangmu dulu menikah dengan istrimu?” Si anak menggelengkan kepala dengan sedih. “Apa alasan Mama dan Papa melarang aku kawin dengannya sebenarnya? Apa Mama dan Papa mengetahui sebuah rahasia tidak ku ketahui?” Kedua orang tuanya saling pandang dan kemudian dengan menghela napas ayahnya berkata, “Sebetulnya ini bukan rahasia. Ini bahkan sudah diketahui oleh umum. Papa dan Mama heran mengapa kamu tidak tahu hal ini.” “Apa itu, Pa?” tanya si anak dengan penasaran. Sambil menghela napas si ayah menjawab, “Haiyya…! Masak lu gak tau sih kalau ‘Made in China’ itu memang mutunya rendah dan gampang rusak. Makanya Papa dan Mama melarang waktu lu mau merit sama gadis China. Ya beginilah akhirnya… ”

Baca juga:  JALAN-JALAN KE JEPANG (BAGIAN 1) : NIHON E YOKOSO

Please jangan keqi membaca kisah ‘Made in China’ ini soalnya kami juga dikerjain sama pemandu wisata kami yg bikin cerita konyol ini. Hahaha…!

Sekian kisah saya selama jalan-jalan ke Propinsi Guang Xi. Semoga Anda menikmatinya. Kesan kami adalah puas…puas…dan puas…! Semoga Anda semua diberi rejeki berlimpah, kesempatan dan kesehatan agar bisa mengunjungi Propinsi Guangxi juga suatu saat.

Yangshuo, 1 Nopember 2013

Salam

Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *