Sabtu, 23 Agustus 2019
Just another WordPress site
“YOUR TENSION, PLEASE…!”

Saya baru saja menyeruput cappuchino hangat di lounge bandara Sekarno-Hatta ketika saya mendengar pengumuman itu diucapkan berulang-ulang. “Yourtension, please….! Your tension, please….!”  Saya sudah mendengar pengumuman ini ratusan kali karena saya selalu riwa-riwi di bandara dalam tugas dan perjalanan saya. Meski pun demikian pengumuman ‘your tension, please…’ ini masih juga membuat telinga saya gatal.  Akhirnya saya tidak tahan lagi dan saya segera menuju ke counter tempat pengumuman tersebut disampaikan.

“Yang membaca pengumuman tadi siapa ya?” tanya saya pada petugas yang berada di counter tersebut.

“ Saya Pak. Kenapa…?!” jawab seseorang petugasnya. Matanya bertanya-tanya.

“ Apa kabar…?!” sapa saya sambil berupaya untuk tersenyum se manis mungkin. Saya tentu tidak ingin nampak sebagai seorang supervisor yang menemukan kesalahan anak-buahnya.

“ Kamu belajar bahasa Inggris di mana?” tanya saya lebih lanjut.

“ Kenapa Pak? Ada yang salah ya…?!” ia langsung merasa bahwa ada yang salah begitu saya bertanya. Entah karena memang tampang saya yang ‘guru banget’ atau pada pertanyaannya yang langsung menjurus.

“ Ya, Mbak. Artinya ‘your tension’ itu apa, Mbak?” saya langsung ke inti permasalahan.

“Kenapa Pak? Salah ya…?!” ia tertawa kecil dan mulai merasakan bahwa saya hendak mengoreksinya.

“Ya, Mbak. ‘Your tension’ itu artinya ‘tegangan Anda’. Mungkin maksudnya Mbak ‘your attention’ ya…?! Jawab saya.

“Oh…iya ya…?!” jawabnya sambil tertawa kecil dan merasa malu.

“Nggak apa-apa, Mbak. Yang salah bukan hanya Anda tapi hampir semua yang membaca pengumuman ini di semua bandara di Indonesia yang saya ketahui juga salah membacanya. Tahu nggak Mbak dari mana asalnya ucapan ‘your attention, please…’ itu?”

Dan saya pun akhirnya  menjelaskan bahwa hampir semua pembaca pengumuman di bandara selalu salah mengucapkan ‘your attention’ dengan ‘yourtension’. Dan bagi saya yang puluhan tahun jadi guru bahasa Inggris tidak bisa tidak selalu merasa gatal mendengar kesalahan pengucapan yang fatal seperti ini.  Saya tahu benar bahwa kekeliruan itu dimulai ketika kalimat lengkap untuk meminta perhatian yang aslinya berbunyi “We/I would like to ask foryour attention please…” disingkat menjadi “Your attention, please….”. Penyingkatan ini tidak salah. Ini demi efisiensi dan agar tidak bertele-tele. Yang salah adalah ketika kata ‘your attention’ ini kemudian diucapakn menjadi ‘your tension’. Rupanya si pembaca pengumuman tidak paham bahwa ada beda arti antara ‘atttention’ dan ‘tension’ sehingga ia tidak merasakan kesalahan ketika mengucapkan ‘your attention’ menjadi ‘your tension’. Dan kesalahan itu dibawa terus tanpa pernah ada yang mencoba untuk memperbaikinya.

Baca juga:  JEJAK-JEJAK PENGUBAH DUNIA

Kesalahan lebih banyak akan kita dengar ketika berada di dalam pesawat dan mendengarkan pramugarinya menjelaskan beberapa pengumuman dalam bahasa Inggris yang kadang-kadang membuat saya ragu apakah mereka membaca teks bahasa Inggris atau sedang berkumur-kumur. J  Lha wong membaca kata ‘position’ aja hampir tak ada yang bisa membacanya dengan tepat baik pengucapan mau pun tekanannya. ‘Position’ dibacanya dengan ‘po-si-sen’…! Berdenging rasanya telinga saya setiap kali mendengar mereka membacanya seperti itu. Sungguh berbeda dengan pengucapan pengumuman bahasa Inggris yang dilakukan oleh penutur asli yang berupa rekaman. Pengucapannya begitu tepat dengan tekanan yang pas. Sungguh indah dan ‘mak nyes’ didengar oleh telinga saya yang ‘rodok nglondo’ ini.

Biasanya saya mengacuhkan saja kesalahan pengucapan ini meski saya selalu merasa ‘nelongso’ mendengarnya. ‘Tak adakah supervisor atau manager yang pernah mendengar dan mengetahui kesalahan pengucapan ini dan kemudian berupaya memperbaikinya?’ keluh saya dalam hati. Memang benar bahwa kesalahan pengucapan ini tidak ada konsekuensi langsungnya. Tidak dicatat oleh malaikat sebagai perbuatan berdosa juga tidak merugikan siapa-siapa. Orang juga tetap paham maksudnya. (Tapi kalau ikut ulangan bahasa Inggris sama saya pasti akan saya coret pakai tinta merah). J Tapi kesalahan adalah kesalahan dan kita semestinya wajib untuk memperbaikinya. Saya sudah menunggu bertahun-tahun seseorang yang berwenang di bandara untuk memperbaiki kesalahan pengucapan ini tapi nampaknya tak ada yang berwenang sehingga akhirnya saya pagi ini merasa harus ‘turun tangan’. Minimal saya lakukan di lounge bandaranya. Saya merasa ada kewajiban moral bagi saya sebagai mantan guru bahasa Inggris yang paham bagaimana pengucapan bahasa Inggris yang benar untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh petugas. Biarlah saya dianggap usil. Yang penting saya sudah melakukan kewajiban moral saya.

Baca juga:  HOT, FLAT, and CROWDED (Part 3)

(“Your tension, please…!”

                “What’s the matter with my tension…?”

                “Your tension, please…!”

                “Why…? Is my tension bothering you…?!”)

 

Lion Air, Jakarta – Solo, 14 Februari 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *