Sabtu, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
Tiada Hari Tanpa Belajar : No Learning No Day

Anda boleh tertawa. Anda boleh mengernyitkan kening. Anda mungkin mengira ini lelucon Srimulatan terbaru. Tapi ini adalah tulisan di sebuah poster besar yang terpampang di sebuah sekolah di Indonesia. Beberapa teman telah mencoba untuk menganalisis kemungkinan apakah ini hanyalah trik photoshop untuk sekedar ‘jokes’ dan tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada trik pada foto poster tersebut. It’s no joke at all. It’s real. Sebuah sekolah di Indonesia yang ingin memberikan motivasi kepada siswa-siswanya untuk menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari berinisiatif untuk membuat poster besar di sekolahnya dengan kata-kata mutiara yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris seperti itu. Selain ‘No Learning No Day’ masih ada kata mutiara yang lain seperti
– Sekolah Tempat Menuntut Ilmu Perpustakaan adalah Tempat Membacaku
“School Place of Studying, Library of Place of Reading Me”
– Capailah Cita-citamu Setinggi Langit
“Reachs you aspiration is sky high.”
– Aku Malu Datang Terlambat
“I am ashamed come is overdue”
– Malu dong Tidak Mengerjakan PR
“Shame doesn’t do homework”
– Sopan Santun Ciri Orang Berilmu
“Bookins people characteristic manner.”
http://mail.google.com/a/igi.or.id/#inbox/12aeae526de589cf

Mungkin kita tertawa membaca bahasa Inggris seperti ini tapi kemudian tentu kita akan bertanya-tanya dalam hati mengapa hal ini bisa terjadi. Sebagai seorang mantan guru bahasa Inggris terus terang saya sangat terpukul dengan fakta semacam ini. Sebegitu parahkah pengetahuan dan ketrampilan berbahasa Inggris kita sehingga bahkan sebuah sekolah yang berada di kota besar yang semestinya para gurunya pernah belajar bahasa Inggris sampai tingkat minimal D-1 (untuk SD), yang berarti telah belajar bahasa Inggris selama minimal 7 tahun, toh membuat terjemahan dalam bahasa Inggris yang bikin perut kita mulas.

Baca juga:  Seminar Pendidikan Karakter di Bintuni

Ini adalah masalah serius. Terutama karena pemerintah sedang gencar-gencarnya menyebarkan virus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) yang mewajibkan para guru di sekolah RSBI ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas. Guru-guru di sekolah RSBI mesti menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar dalam mengajarkan pelajaran Matematika dan IPA agar Kita tidak pernah tahu seperti apa praktek ‘nginggris’nya para guru kita di kelas-kelas tapi poster tersebut memberikan peringatan keras betapa parahnya sebenarnya kondisi guru kita dalam berbahasa Inggris. And yet we believe we can force our teachers to teach in English. Padahal tak pernah ada studi atau minimal tes kecil-kecilan untuk mengetahui seberapa cakapkah sebenarnya para guru kita dalam berbahasa Inggris sehingga kita minta mereka untuk menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar mereka dalam mengajar di kelas.

Sejak awal program RSBI ini sudah dikecam habis-habisan karena menggunakan asumsi yang bukan hanya salah tapi memang tidak masuk akal. Tapi toh dipaksakan. Kami di IGI (Ikatan Guru Indonesia) bahkan telah membuat Petisi untuk Menghentikan Program RSBI ini.

Jika sebuah sekolah (anggap saja tingkat SD) mampu melakukan kesalahan sefatal itu maka itu menunjukkan bahwa tak satupun guru (termasuk kepala sekolahnya) yang mampu mendeteksi kesalahan dalam penggunaan bahasa Inggris sampai tingkat paling kacau seperti itu. Jangankan lagi menggunakan bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari, bahkan untuk mendeteksi kesalahan berbahasa Inggris yang paling kacau pun saja pun mereka tak mampu. Padahal untuk mengajar di kelas dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris adalah sebuah ketrampilan yang sangat tinggi dan hanya bisa dilakukan dengan baik oleh guru-guru yang benar-benar terlatih untuk itu. Bahkan guru-guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah kita tidak memiliki kecakapan setinggi itu. Bayangkan kalau para guru bidang studi lain mesti mengajarkan materinya dalam bahasa Inggris! Maka tak salah jika yang kita peroleh adalah bahasa Inggris ‘No Learning No Day’ seperti itu dan ini yang hendak kita taburkan dan semaikan kepada siswa-siswa kita di seluruh Indonesia demi internasionalisasi pendidikan.

Baca juga:  Berpikir "Gek Ngene Gek Ngono"

Melihat kondisi sekolahnya tak mungkin ini sekolah di pedalaman atau di tempat terpencil karena poster itu sendiri pun dibuat dengan menggunakan papan yang didesain dengan bagus. Jika ini adalah sekolah SD di kota dengan kepala sekolah yang tidak mungkin hanya berpendidikan D-1 tapi mampu membuat kesalahan berbahasa Inggris sefatal ini maka silakan membuat kesimpulan seberapa besar kemungkinan program RSBI dijalankan di SELURUH INDONESIA. Ingat bahwa tidak ada studi atau test bagi para guru dari sekolah RSBI tersebut. Mereka dipilih berdasarkan penilaian apakah sekolah tersebut sekolah favorit atau bukan. Hampir seluruh sekolah RSBI adalah sekolah-sekolah favorit di setiap daerah. Sekolah favorit diasumsikan sebagai sekolah terbaik di setiap daerah dan sekolah favorit mestinya punya guru-guru paling berkualitas di antara yang lain. Asumsi di atas asumsi dan tak ada satu pun yang mencoba untuk benar-benar menguji asumsi tersebut.

Dan kini kita disodori oleh poster-poster berbahasa Inggris tersebut!
Kalau ini tidak membuat kita merasa perlu untuk merasa cemas maka sungguh dunia pendidikan kita sudah berada di ujung tanduk.

Balikpapan, 8 September 2010
Satria Dharma

7 tanggapan untuk “Tiada Hari Tanpa Belajar : No Learning No Day”

  1. Satria berkata:

    Tanggapan dr seorang teman di milis.

    Ya pak Satria, semula sy mengira foto-foto di album fb teman itu hasil olah foto kreatif sj.sangat memprihatinkan jika nyata adanya.
    Beberapa hari lalu saya diminta menguji kualifikasi bhs inggris calon pelamar guru rsbi di sekolah kami.Saya terkaget-kaget saat membaca tulisan sarjana sastra inggris lulusan PTN ternama tentang alasan dia melamar jadi guru SD. I would like to apply because I am really like children.I am enjoy teach.. Dan lain-lain kesalahan fatal bagi seorang sarjana sastra inggris.
    Skill guru memang harus diperhatikan peningkatannya pak, tapi rasanya tidak perlu sampai menghentikan program RSBI.teknis PBMnya sj yang perlu direvisi.Sehingga kelas RSBI lebih pada pembiasaan bhs inggris dalam komunikasi kelas /classroom language dengan topik science or math. Bukan semata-mata translating kurikulum nasional mat dan ipa dlm bhs.Inggris.Gurunya lbh baik tim teaching: guru bhs inggris dengan guru mipa yang bersinergi pada penyampaian materi dan pengendali konsep.Kami sedang ujicoba ini di RSDBI mandiri sekolah kami.Mohon doanya ya pak. Saya akan infokan progressnya jika bapak berkenan.’Kebetulan sy koordinator program PBMnya.see U!

  2. Mudin Em berkata:

    pak Satria, sungguh prihatin membacanya…
    saya setuju, tidak perlulah rintisan RSBI itu, ratakan dulu saja kualitas pendidikan di Indonesia ini

  3. maswakid berkata:

    Memprihatinkan memang, tapi tidak dapat dijadikan alasan untuk menghentikan program RSBI.

    Dengan adanya program RSBI diharapkan sekolah yang RSBI semuany personelnya belajar lagi Bahasa Internasional, kalau masih ada kesalahan ya wajar kalau dibenarkan, bukannya malah dihentikan jangan belajar lagi hapus saja RSBI..

    Maaf kalau mungkin kalimat saya gak beraturan, karena saya belajar dari SD sampai sekarang pun kalimat bahasa Indonesia saya masih jauh dari EYD yang disempurnakan..

    Tapi saya berharap pak satria jangan menghentikan belajar saya berbahasa indonesia yang baik dan benar..

    Kalau setiap yang salah dikomentari dan dihina, tanpa ada solusi yang benar, maka orang akan males belajar..

    Dulu waktu masih sekolah… guru menyuruh berani ngomong casciscus.. urusan aturan bahasa nanti dulu.. yang jelas sama tahunya dan maksudnya.

    Saya dulu sampai sekarang juga takut mau bicara karena takut salah…. jadi kalah sebelum mencoba..

  4. Wirawan Yogi berkata:

    Harusnya pemerintah bikin SBIUG
    Sekolah Bahasa Inggris untuk Guru…

    😀

  5. Achmad Riwayadi berkata:

    Pak Satria, selama ini saya selalu sepakat dengan ide, visi, dan komentar-komentar Anda. Saya berkhusnudhon bahwa penggagas RSBI memiliki tujuan mulia yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia . Hanya saja untuk mencapai tujuan tersebut kurang sabar dan ingin segera melihat hasilnya, maka dibuatlah proyek-proyek mercusuar seperti itu. Dengan biaya yang sangat besar RSBI sasarannya hanya untuk sekelompok siswa/i kalangan menengah ke atas secara intelegensi dan ekonomi. Program dan biaya untuk RSBI mungkin tidak perlu dihentikan tetapi kita alihkan untuk program yang lebih rasional dan untuk orang banyak. Begitu juga isitilahnya bukan RSBI lagi tapi kita ganti RSSI (Revitalisasi Sekolah Seluruh Indonesia) dengan melakukan perbaikan dan peningkatan di segala aspek pendidikan maupun pengajaran. Bagaimana?

  6. indah yuliani berkata:

    ditransletin pake transtool kali pak….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *