Ketika keluarga Cak Mukhlis almarhum datang ke rumah kemarin mereka bercerita tentang kesan-kesan dan pengalaman mereka bersama ayah mereka semasa hidup dulu. Ada kisah yang lucu, mengharukan, dan ada yang ‘nggregetno’. 😁
Dony, anak pertamanya, bercerita bahwa dulu ketika diajak salat Jum’at bersama ayahnya ia selalu diminta untuk berkeliling di sekitar masjid untuk mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar masjid. Nanti sesudah salat Jum’at baru sampah-sampah itu dibuang. Jadi setiap salat Jum’at maka ritual awal Dony adalah mengumpulkan sampah dulu di sekitar masjid yang nantinya akan dibuang setelah salat jum’at selesai. Hal ini meski pun menjengkelkan bagi Dony pada awalnya tapi sampai sekarang masih berkesan baginya. Dony masih melakukan ritual itu sampai sekarang. Satu kebiasaan baik yang ditanamkan oleh ayahnya yang terus dibawanya sampai sekarang.
Dedy, anak bungsu Cak Muchlis, bercerita tentang masa dia ketika kelas 3 SMA dan akan menghadapi Ujian Nasional. Waktu itu semua sekolah merasa tercekam dan tegang dengan Ujian Nasional dan akan melakukan apa saja untuk bisa melewatinya dengan sebaik-baiknya. Salah satu ide brilyan yang diperoleh umat Islam yang soleh-soleh adalah dengan mengadakan doa istighosah bersama sebelum UN. Umat Islam tentu sangat percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan doa umatnya yang memohon dengan sangat, apalagi kalau dilakukan dengan khusyuk secara berjamaah. Kalau mendoakan agar Israel hancur dan Palestina merdeka saja bisa dikabulkan oleh Tuhan apalah artinya kalau hanya memohon agar bisa lulus UN dengan gemilang. Tentulah itu hal yang sangat sepele bin cemen bagi Tuhan yang Mahakuasa.
Jadi demikianlah akhirnya yang mereka lakukan. Mereka mengadakan doa istighosah berdoa berjamaah di sekolah dengan mengundang semua siswa dan orang tuanya dengan dipimpin oleh seorang ustad atau ulama yang dianggap memiliki kedekatan dengan Tuhan atau paling tidak adalah pimpinan sebuah pondok pesantren yang terkenal kemasyhurannya dalam soal doa-doaan. Nantinya siswa akan diminta untuk menyerahkan pensil yang akan mereka pakai untuk ujian UN dan pensil itu akan dikumpulkan di sebuah wadah dan akan ‘disuwuk’ dalam acara istighosah tersebut. Bayangkan betapa khidmatnya suasana saat itu. Semua siswa yang akan UN, orang tua mereka, para guru, dan kepala sekolah akan dipimpin untuk berdoa bersama-sama oleh seorang ustad ‘dukdeng’ dengan sangat khidmat. Tentu saja akan banyak air mata yang akan tumpah dalam acara yang dirancang demikian khusuk dan menghiba itu. Malaikat yang lewat mau tidak mau pasti akan berhenti melihat betapa khusyuknya mereka melantunkan puja-puji dan doa-doa agar lulus UN dengan gemilang tersebut. 😎
Mengapa pensil para siswa harus dikumpulkan? Ya kan pensil itu yang akan dipakai untuk menjawab soal UN besoknya. Dengan doa istighosah mereka yang begitu khusyuk maka diharapkan tuah dan karomahnya doa mereka akan merasuk ke pensil tersebut. Pensil tersebut akan menjadi pensil berkaromah dan bertuah yang akan menuntun para siswa dalam menjawab soal-soal UN. Pensil tersebutlah yang akan diharapkan memberikan jawaban-jawaban yang tepat dari semua soal ujian nasional yang akan mereka hadapi besoknya. Para siswa tidak perlu lagi cemas atau kuatir tidak bisa menjawab soal ujian. Pensil berkaromah dan bertuah itulah yang akan bertugas untuk menyelesaikan tugas menjawab soal ujian dengan sebaik-baiknya. The pencil will be dancing doing its job to do the answers. Kalau sekedar menghitamkan bulatan jawaban UN tentulah hal cemen bagi pensil berkaromah tersebut. Tapi apakah itu jawaban yang benar atau tidak itu adalah masalah lain.
Teman saya Muchlis adalah orang yang rasional. Hal semacam ini jelas tidak masuk dalam ideologinya. Maka ia menolak acara tersebut dan tidak bersedia datang. Meski anaknya diancam bahwa orang tua harus datang or else Muchlis tetap tidak bersedia. Maka jadilah Dedy satu-satunya anak yang tidak ditemani oleh ayahnya dalam acara doa istighosah tersebut.
Saya tertawa ngakak mendengar cerita dari Dedy tersebut. Hal semacam ini memang menjadi olok-olok saya dan Muchlis kalau kami bertemu. Lha wong kita ini hidup di Abad 21 tapi hal-hal semacam ini masih juga dipercaya. Tapi memang begitulah faktanya. Ini juga salah satu alasan saya menolak Ujian Nasional dengan keras karena memang membuat masyarakat menjadi tidak rasional dalam menghadapinya. Padahal ini di dunia pendidikan lho….! 😁
Surabaya, 10 Februari 2025
Satria Dharma
NB: Sila baca berita ini untuk mengetahui betapa istighosah dilakukan secara massal di hampir seluruh daerah.
[1] https://ntb.kemenag.go.id/baca/1551413220/sambut-ujian-nasional-para-pelajar-istighosah-dan-dzikir-bersama
[2] https://bali.kemenag.go.id/jembrana/berita/346/istighosah-jelang-hadapi-ujian-nasional-un-tahun-pelajaran-20122013
[3] https://web.mojokertokota.go.id/berita/Istighosah-Persiapan-Ujian-Nasional-
[4] https://infopublik.id/kategori/nusantara/338423/sd-di-bojonegoro-gelar-istighosah-jelang-ujian-nasional?video