Seorang teman alumni saya, seorang janda mantan istri pejabat, kena tipu kemarin. Tapi uang saya yang melayang ke penipunya…
Jadi begini ceritanya….
Kemarin kami teman-teman alumni SMP mengadakan acara halal bihalal di sebuah hotel di Surabaya. Acaranya jam 10:00 pagi. Tapi satu jam sebelumnya tiba-tiba teman alumni yang mantan istri pejabat tersebut menghubungi saya dan ketika saya angkat ternyata ia bilang bahwa ia sedang butuh uang banget pagi itu. Dia mau pinjam 20 juta untuk anaknya. Dia telpon sambil nangis-nangis. What the heck…! 🥴
Saya lalu bilang bahwa sebaiknya kita ketemuan di tempat acara saja. Sebenarnya dia ngotot butuhnya jam 09:00 pagi itu tapi saya tetap bilang sebaiknya kita ketemu di tempat acara. Toh tidak lama lagi dan saya juga harus memastikan bahwa ia memang butuh uang tersebut.
Ketika saya bertemu dengannya di acara halbil tersebut ia segera mendesak saya untuk transfer ke rekeningnya. Ia berjanji akan membayar segera setelah mobilnya laku. Ia memang bilang bahwa saat itu ia sedang menawarkan mobilnya untuk dijual dengan harga miring yang penting segera laku. Ia bilang bahwa mobil tersebut akan dijualkan oleh seorang teman alumni lain. Teman alumni ini juga mendatangi saya dan menyatakan bahwa benar bahwa ia yang akan menjualkan mobilnya. Tanpa bertanya lebih lanjut saya segera menransfer uang 20 juta yang ia minta ke banknya di BCA.
Tak lama kemudian ketika acara halbil sedang berlangsung teman ini datang lagi ke saya dan bilang bahwa uang yang ia kirim ke temannya itu ternyata belum masuk dan ia perlu pinjam uang lagi pada saya sebesar 35 juta. Lho….kok berubah cerita? Kok tiba-tiba skenarionya menjadi uang itu ditransfer ke temannya dan kata temannya uangnya belum diterima. Bagaimana dengan skenario uang untuk anaknya sambil nangis-nangis tadi? Saya sudah curiga bahwa ini pasti penipuan.
Teman saya tadi lalu menunjukkan dari HP-nya bahwa temannya tidak bisa mengecek masuknya dananya karena m-banking di HP-nya error. Yang aneh adalah dia bilang via BCA tapi foto di HP-nya adalah bank BNI. Saya hafal karena aplikasi Wondr adalah milik BNI karena saya juga punya rekening di situ. Jadi saya bilang itu hanya alasan temannya saja karena saat ini aplikasi Wondr BNI sedang baik-baik saja dan saya tunjukkan di HP saya. Aplikasinya memang tidak ada masalah. Lagipula kalau aplikasinya bermasalah kan dia bisa ngecek ke ATM dengan kartu BNI-nya.
Tak lama kemudian teman saya tadi kembali lalu bilang bahwa temannya ternyata tidak punya ATM BNI karena baru buka rekening via online dan belum ambil ATM di bank. Saya semakin yakin bahwa teman saya ini kena tipu.
“Kamu kayaknya kena tipu…” kata saya.
“Tidak kok…! Teman-teman saya yang lain sudah dapat. Ini buktinya…” katanya sambil membuka HP-nya menunjukkan bukti transferan pada teman-temannya yang tidak jelas dari bank mana. Pokoknya teman saya ini ngotot bahwa ini bukan penipuan karena teman-temannya sudah pada dapat transferan.
Yang jelas ia telah menipu saya dengan mengatakan bahwa uang pinjaman ke saya itu adalah untuk keperluan anaknya yang sedang emergency… Dan saya juga yakin bahwa ia pasti telah kena tipu…
Sampai acara selesai kami pulang dan tidak ada berita soal teman saya tersebut.
Pagi ini saya tiba-tiba di-WA oleh sebuah nomor yang menyatakan bahwa dia adalah anak dari teman saya tersebut. Ia ingin bicara pada saya. Saya lantas merasa bahwa anaknya tersebut pasti akan bilang bahwa ibunya kena tipu…
Tebakan saya ternyata tidak salah…. 😎
Anaknya bercerita bahwa ibunya kena tipu dan ia diminta untuk membayar pinjaman saya kepadanya. Jadi anaknya ingin memastikan bahwa saya benar-benar telah meminjami ibunya uang sebesar 20 juta.
Anaknya sangat prihatin bahwa ibunya kena tipu lagi… Artinya ini bukan yang pertama kali. Padahal ibunya bukanlah orang yang kekurangan uang. Tentu saja. Kan ia mantan istri seorang bupati. Lagipula tiga anaknya semua telah bekerja. Tapi ia selalu tertarik dengan keuntungan instan sehingga mudah ditipu.
Anaknya meyakinkan saya bahwa uang pinjaman saya akan dibayar begitu mobil telah terjual. Ia bahkan minta nomor teman yang akan menjualkan mobil tersebut. Anaknya ini tinggal di Jogya sedangkan mobil ada di Surabaya. Jadi ia ingin memastikan bahwa yang menjual mobil ibunya benar-benar bisa dipercaya.
Saya sungguh merasa prihatin bahwa masih saja ada orang-orang yang mudah ditipu dengan janji keuntungan cepat dan besar. Seorang teman baik saya dulu hidupnya hancur gara-gara penipuan macam ini juga. Modusnya semacam investasi Pohon Mas pada tahun 2000-an yang lalu. Mula-mula keuntungannya lancar tapi begitu semakin besar modal yang disetorkan maka tiba-tiba bisnis macet dan uang investasi amblas. Namanya juga Skema Ponzi. Teman saya bahkan menjual rumahnya karena begitu yakin pada investasi bodong tersebut. Setelah itu kehidupan keluarganya menjadi berantakan padahal sebelumnya teman saya ini orang yang paling optimis dan penuh percaya diri. Ia tidak pernah lagi kembali menjadi dirinya yang lama. Kehidupannya semakin terpuruk sampai ia meninggal beberapa waktu yang lalu.
Saya sendiri tidak pernah percaya pada model investasi yang menjanjikan keuntungan cepat dalam jangka waktu singkat. Sudah terlalu banyak contoh penipuan macam begini.
Tapi itu tidak berarti bahwa saya tidak pernah tertipu dalam bisnis… Saya pernah tertipu bisnis batubara yang ternyata juga bodong. Padahal saya sudah sampai ke Jakarta untuk bertemu dengan investor asing yang katanya akan membeli lahan kami. Saya bahkan sudah membawa sekantong besar contoh batubara dari lahan kami untuk kami tunjukkan pada investor asing tersebut. Tapi ternyata kami dikerjain sama preman-preman Jakarta. Tidak ada investor asing. Yang ada cuma para preman yang mau numpang makan di restoran tempat kami bertemu di mana saya yang harus membayar termasuk biaya datang ke Jakarta.
Apakah setelah itu saya bangkit lagi dan terus berusaha untuk bisnis batubara? Nggak deh….! Not my type of business. Saya kembali ke dunia pendidikan saja. Lebih banyak berkahnya…. 😁
Madigondo, 14 April 2026
Satria Dharma