Ilustrasi: penipu
Pagi itu seorang teman WAG bernama ‘D’ yang lama tidak bertemu tiba-tiba mengirim WA forward seperti ini:
“Istri saya namanya meme sama anggota saya namanya apin.”
“Naik mobil honda jazz warna merah iya bapak.”
Saya tentu saja bingung ini maksudnya apa. Tidak pernah ia menghubungi saya tapi kok mengirim forward semacam itu. Saya duga ia salah kirim. Saya lalu bertanya apa ia tidak salah kirim.
Ia lalu mengirim jawaban
“Iya Pak Satria. Itu nama- orang yang bersama Pak Chandra ke kejaksaan. Istri Pak Chandra namanya Meme dan anggotanya bernama Apin.”
Saya lalu bertanya:
“Pak Chandra siapa yang dimaksud dan masalah apa ya?”
Tapi kemudian tidak dijawab.
Saya lalu menduga something must be wrong.
Sekitar 1,5 jam kemudian istri teman saya tadi menelpon dan bertanya apakah saya punya dua nomor telpon. Saya jawab tidak. Ia lalu bilang, “Berarti kami kena tipu.” Weladalah…! Mereka ternyata baru saja kena tipu dengan mengirim uang sebesar 10 juta ke orang yang mengaku sebagai saya. 🥺
Jadi ceritanya katanya teman saya tadi ditelpon oleh orang yang mengaku sebagai saya dan sedang berada di Kejaksaan. ‘Saya’ sedang berupaya membeli Ferrari (atau sejenisnya) dari Kejaksaan yang mau dilepaskan ke saya 110 juta. Sudah ada teman ‘saya’ bernama Chandra yang mau beli 180 juta tapi mau lihat dulu barangnya di Kejaksaan. Kebetulan uang ‘saya’ sisa 90 juta jadi kurang 20 juta. Makanya ‘saya’ mengajak teman saya ‘D’ untuk kongsian beli Ferrari itu dan nanti kalau untung bisa bagi-bagi.
Untuk meyakinkan ‘D’ maka Chandra ini menghubungi ‘D’ bahwa ia sedang menuju ke Kejaksaan.
Intinya teman saya ‘D’ percaya dan kemudian mengirim uang ke rekening entah milik siapa sebesar 10 juta. Itu pun karena ia memaksa anaknya sampai membentak-bentaknya untuk mengirim uang tersebut. Mestinya ia kena 20 juta tapi anaknya hanya bisa mengirim 10 juta. Setelah uang terkirim maka semua kontak yang tadi menghubunginya langsung putus dan tidak bisa dihubungi. Barulah setelah itu mereka menyadari bahwa ini kemungkinan besar adalah penipuan. Mereka kemudian menghubungi saya dan menceritakan kasus ini. Tentu saja saya sangat sedih mendengar hal ini. 😥
Teman saya ‘D’ ini bukanlah orang bodoh. Ia adalah teman kuliah saya. Bacaan mau pun pergaulannya luas. Tapi toh ia bisa tertipu dengan pola penipuan yang sebenarnya sederhana.
Apa sebabnya orang sepintar dan berpengalaman seperti ‘D’ ini bisa kena tipu dengan bentuk penipuan yang sebenarnya tidak terlalu canggih?
Saya melihat ada dua faktor mengapa ia bisa kena tipu. Pertama adalah ia sangat percaya pada sosok saya. Teman saya ini sangat percaya pada saya tapi ia tidak benar-benar mengecek apakah nomor yang menghubunginya itu benar-benar saya atau bukan. Padahal ia punya nomor HP saya tapi ketika dihubungi oleh nomor lain yang mengaku sebagai saya ia tidak curiga. Ketika diajak ‘berbisnis’ padahal tidak pernah ketemu ia juga tidak curiga.
Kedua, mungkin ia merasa sedang didatangi oleh rejeki yang tak diduga. Saya temannya yang ia percaya ini tiba-tiba menawarinya sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan yang mudah. Dengan modal 20 juta bisa dapat keuntungan cepat 35 juta sehingga menjadi 55 juta adalah sebuah rejeki yang tak terduga. Sebuah durian runtuh. Sayangnya ternyata yang terjadi adalah kulit durian yang jatuh mengenai kepala.
Saya sedih bahwa orang bisa dengan mudah tertipu oleh tawaran yang sebenarnya kalau dipikir tidak masuk akal. Tapi kita memang seringkali memarkir otak kita karena sudah terlanjur mengira bahwa orang yang menghubungi kita adalah orang yang kita kenal dan kita percayai. Meski ada kecurigaan tapi kecurigaan itu kita tepis karena faktor lain, yaitu adanya harapan akan keuntungan atau rejeki nomplok yang dijanjikan oleh orang yang kita anggap sebagai teman yang kita percayai tersebut. Teman saya tadi sebenarnya juga sudah curiga mosok saya yang dianggapnya bonafide itu kok butuh uang 20 juta darinya. Padahal kami tidak pernah berhubungan bisnis. Mestinya itu menjadi alarm baginya. Tapi mungkin bayangan akan dapat keuntungan besar secara tak terduga itu yang membuatnya kehilangan kewaspadaan. Maka musibah itu pun terjadilah… 😔
Saya berharap agar kita semua selalu waspada. Penipu dan orang jahat semakin hari semakin banyak dan mereka juga mengembangkan berbagai jenis penipuan yang baru sehingga mampu mengelabui orang-orang yang pintar dan berpengalaman sekali pun. Saya sendiri belum tentu bisa lepas dari jenis penipuan yang jauh lebih canggih dan rumit. Itu sebabnya saya selalu berdoa pada Tuhan agar dijauhkan dari para penipu dan orang jahat. 🙏
Jakarta, 13 Mei 2025
Satria Dharma