Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat meninjau siswa SMP yang mengikuti pendidikan penguatan karakter di Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Batalyon Artileri Medan 9, Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (3/5/2025) siang.(KOMPAS.COM/FARIDA)
Seorang wartawan bertanya pada saya soal wacana barak militer ala Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang berpotensi jadi program nasional:
Barak Militer ala Dedi Mulyadi
Dia bertanya apakah menurut saya barak militer bisa memperbaiki siswa nakal menjadi berperilaku yang baik
Jadi saya jawab begini :
Saya menyambut positif gagasan dari KDM untuk memasukkan anak-anak bermasalah ini ke barak militer. Ingat bahwa yang dikirim ini bukan anak-anak yang baik-baik saja atau nakal sewajarnya tapi anak-anak yang sangat bermasalah dan TIDAK BISA ditangani lagi oleh sekolah mau pun orang tuanya. Jadi ini adalah SPECIAL CASE yang membutuhkan SPECIAL TREATMENT.
Saya baca bahwa yang dimasukkan ke pendidikan ala militer ini adalah anak-anak yang kecanduan minuman keras, game online, paling banyak ML, kecanduan merokok, ada yang terlibat geng motor, dll yang sudah tidak bisa ditangani oleh guru dan orang tua mereka karena keterbatasan mereka. Mereka yang dimasukkan itu juga katanya secara umum punya kesadaran bahwa ingin berubah dan di rumah mereka tidak bisa lagi berubah.
Saya juga mendapat info bahwa para siswa yang didatangkan ke barak militer mendapat pendidikan seputar bela negara, wawasan kebangsaan, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), kedisiplinan, anti narkoba, pendidikan keagamaan, dan lain-lain. Dan itu mungkin tidak ada di sekolah mereka, apalagi dari rumah dan lingkungan mereka.
Mereka pertama kali akan diajarkan tentang kedisiplinan dan membangun disiplin diri. Makan, mandi, solat tepat waktu. Jadi mereka akan diajarkan untuk hidup disiplin waktu. Kendati digembleng ala militer, para siswa yang masih duduk di bangku sekolah tersebut tetap mendapatkan pembelajaran seperti di sekolah.
Tentu saja ada saja pakar pendidikan atau pengamat yang mengritik program ini. Itu wajar saja. Tapi saya berharap agar para pakar pendidikan yang mengritik dan tidak setuju dengan ide ini BERSEDIA datang sendiri dan melihat apa yang terjadi di barak tersebut. Dengan demikian mereka bisa menilai sendiri seperti apa pola pendidikan yang mereka kritik tersebut dan mereka mungkin bisa memberi masukan yang berharga untuk membuat program ini menjadi lebih efektif dan bisa dijadikan contoh secara nasional.
Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa anak-anak nakal yang dimasukkan ke barak militer oleh KDM itu BUKAN DIHUKUM tapi dididik dengan cara yang berbeda dengan yang mereka terima selama ini baik di rumah mau pun di sekolah. Jadi intinya tetaplah PENDIDIKAN dan BUKAN HUKUMAN. Mereka juga tidak dididik menjadi militer dengan porsi latihan fisik yang sama dengan militer. Fokus pendidikan mereka di barak tersebut adalah pembentukan sikap disiplin diri dan pembangkitan kesadaran diri.
Oleh sebab itu marilah kita berhenti dari sikap skeptis, curiga, sinis dan mulai bersikap terbuka dan kolaboratif demi anak-anak bangsa yang sudah tidak bisa lagi ditangani oleh sekolah dan ortu mereka selama ini. Jika ternyata program pendidikan kerjasama dengan militer ini ternyata bisa mengubah anak-anak nakal menjadi anak yang sadar dan kemudian punya tujuan hidup maka kita sekarang memiliki alternatif lain dalam mendidik anak yang mungkin tidak dimiliki oleh sekolah regular atau keluarga.
Mari kita bersinergi dan berkolaborasi bersama membangun bangsa ini. 🙏
Surabaya, 8 Mei 2025
Satria Dharma