Jalan-jalan saya ke Hainan kemarin memberi saya pelajaran tentang bagaimana sebuah negara mengelola turismenya. Hainan benar-benar telah membuat turismenya menjadi ladang investasi yang sangat menguntungkan bagi negara mau pun bagi para pengusahanya. Sanya sebagai kota kedua terbesar di Hainan sendiri telah menjadi kota yang luar biasa pesat kemajuannya. Walau penduduknya hanya 1 juta lebih tapi kota ini dipenuhi dengan gedung-gedung bertingkat megah. Rasanya tidak ada daerah yang kumuh di Sanya ini. Sanya bahkan punya hotel berkelas Bintang 7 menyaingi Dubai. Namanya Beauty Crown Grand-Tree Hotel yang terletak di Sembilan komplek dengan 6000 kamar. Bayangkan besarnya…!
Ketika baru pulang dari Xinjiang saya ditawari lagi oleh travel kami untuk ikut tur ke Hainan yang cukup murah dan waktunya hanya sebentar (5 jutaan untuk 5 hari). Saya dan istri tertarik dan mendaftar. Dan kami pun berangkat kemarin itu.
Ketika naik pesawat lion Air yang membawa kami ternyata isi pesawat yang muat sampai 180-an penumpang itu hampir semuanya adalah turis Indonesia. Saya tahunya ketika kami turun ternyata kami semua dijemput oleh bis yang sama, yaitu bis khusus turis yang tampaknya dimiliki oleh pemerintah lokal Hainan. Jadi bukan bis perusahaan travel swasta. Nama bisnya adalah “Hainan Tourism Passenger Transportation”. Mungkin ada sekitar 7 bis besar yang menjemput kami dan kami semua dibawa ke hotel (apartemen) yang sama yaitu di Sanya Yabulun Health Convalescent Center. Tampaknya semua bis yang beroperasi membawa turis adalah bis ini. Tidak ada jenis dan merk bis lain yang saya lihat. Ini benar-benar monopoli angkutan turis oleh perusahaan bis ini yang tampaknya merupakan bis resmi kota Sanya yang dimiliki oleh pemerintah kotanya. Mungkin semacam BUMD kota Sanya. Kami sendiri dalam satu bis yang dikomandoi oleh 2 TL, Hendrawan yang orang Indonesia dan Angela yang orang Hainan, terdiri atas 26 orang.
Semula saya pikir kami dari travel yang sama, ternyata bukan. Kami dari travel di Indonesia yang berbeda-beda dan biayanya juga berbeda. Dari travel kami sebelumnya hanya ada 4 orang, saya dan istri dan adik saya dengan suaminya. Yang lain dari travel yang berbeda-beda. Ada yang membayar lebih mahal daripada kami. Jadi biaya yang dikenakan oleh tiap travel tidak sama. Kedatangan kami ke Hainan ini dikelola oleh sebuah konsorsium, entah berpusat di Indonesia atau Hainan. Jadi para travel di Indonesia itu hanya mengumpulkan turis yang berminat untuk datang ke Hainan dengan itinerary yang sudah tersusun dan kemudian menyerahkan pengurusan selanjutnya pada masing-masing TL. Jadi tidak ada TL dari masing-masing travel di Indonesia.
Selama tiba di bandara Sanya sampai kami diantarkan balik ke bandara Sanya untuk pulang seluruhnya menjadi tugas TL di Sanya, Hainan. Jadi travel kami sebenarnya tidak mengurusi perjalanan kami selama di Hainan karena sudah menjadi tugas konsorsium di Hainan. Karena hari pertama dan hari terakhir hanyalah perjalanan di pesawat maka praktis kami hanya traveling di Sanya selama 4 hari, termasuk kepulangan kami.
Selama empat hari itulah kami dibawa keliling-keliling oleh TL dan sopir bis. Begitu juga dengan peserta tour lainnya. Mereka juga ada TL dan sopir khusus.
Apa yang menarik dari tour kami kali ini adalah bahwa tour ini dikelola oleh dua macam penyelenggara travel. Satu travel-travel di Indonesia yang bertugas untuk menjaring peminat untuk tour ke Hainan dan yang kedua adalah penyelenggara perjalanan selama turis berada di Hainan. Travel di Indonesia hanya menjaring peserta dan travel di Hainan yang mengatur segalanya selama perjalanan. Saya tidak pernah menjumpai hal seperti ini sebelumnya (atau mungkin saya tidak menyadarinya). Ini adalah hal yang sangat menarik dan semestinya bisa diikuti oleh para penyelenggara tour di Indonesia. Semestinya tour di tanah air bisa dikelola oleh Dinas Pariwisata setempat di mana mereka bekerja sama dengan berbagai travel di seluruh dunia. Jadi urusan menjaring turis adalah urusan travel dari negara masing-masing tapi begitu tiba di bandara sudah ditangani langsung oleh konsorsium di tempat wisata masing-masing. Jika Dinas Pariwisata mau punya BUMD dengan menyediakan bis-bis angkutannya saja maka jelas BUMD tersebut akan mendapatkan penghasilan yang sangat signifikan. Di Hainan hanya satu perusahaan bis yang beroperasi untuk turisme. Jumlahnya bisa ratusan bis dan di tiap tempat lokasi wisata bisa berkumpul puluhan bis yang sama.

‘SPONSORED’ TOUR
Satu hal menarik lainnya adalah bahwa tour kami ke Hainan ini seperti sebuah ‘sponsored’ tour alias tour yang sebenarnya disponsori oleh perusahaan-perusahaan yang wajib kami datangi. Tour leader kami selalu bilang bahwa kami harus datang ke perusahaan-perusahaan tersebut karena tour kami tersebut disubsidi. Itulah sebabnya biaya tour kami ini jadi murah. Tentu saja kami tidak tahu hal tersebut karena kami membayar sesuai dengan biaya yang ditawarkan. Pada saat kami ikut tour juga tidak disebutkan bahwa tour kami ini disubsidi sehingga kami wajib mendatangi perusahaan-perusahaan sponsor tersebut. Jadi perusahaan-perusahaan tersebutlah mungkin yang memberi subsidi
Dalam empat hari perjalanan tersebut kami harus mendatangi beberapa perusahaan sponsor yang menjual produk-produknya pada kami. Ini seperti ketika kami dulu tour ke Korea, Thailand, dan Turki di mana kami harus mendatangi perusahaan-perusahaan yang menjual produk-produk mereka dengan harga yang sangat mahal seperti, ginseng, permata, jaket kulit domba, dll.
Di Hainan ini kami mendatangi perusahaan TCM (Tradisional Chinese Medicine) dengan produk seaquelen, fish oil, dan latex. Dengan lihainya mereka membujuk kami dengan promosi mereka yang sangat canggih sehingga kami dengan sukarela atau bahkan ‘setengah terpaksa’ membeli produk mereka yang mahalnya luar biasa tersebut. Dalam setiap kunjungan paling tidak mereka menggaruk puluhan juta dari rombongan kami untuk setiap perusahaan. Minimal dari grup kami menggesek kartu kredit sebesar 50 juta. Bahkan ada satu keluarga yang mengeluarkan uang sebesar 120 juta untuk produk kesehatan anti-stroke yang populer dengan nama ‘angkung’. Padahal dari rombongan Indonesia pada hari itu saja ada sekitar 7 rombongan dalam bis yang datang. Luar biasa besar keuntungan mereka. Kalau mereka bisa mendapatkan minimal 50 juta saja dari setiap rombongan maka itu artinya setiap perusahaan yang didatangi akan mengantongi uang 350 – 500 juta dalam sehari. Luar biasa kan keuntungan mereka hanya dengan bekerjasama dengan travel dan tour leader. Tour leadernya tentu saja akan senang karena mendapatkan bonus atau prosentasi dari penjualan di tiap toko. Kalau setiap grup mengeluarkan uang 50 juta dan mereka dapat 5% saja maka TL-nya akan dapat 2,5 juta hanya dari satu toko.
TL-nya sendiri juga tidak mau kalah dalam mengeruk uang dari peserta tour. Mereka membuat paket tour sendiri yang kemudian ditawarkan ke pada kami dalam bentuk Paket 1 s/d 4. Tentu saja kami ‘sangat dianjurkan’ untuk mengikuti paket yang mereka jual terpisah dari itinerary yang disusun oleh travel kami masing-masing. Dalam 1 paket ada 4 tujuan yang ditawarkan dan kami harus memilih salah satu paketnya. Sebagai contoh Paket B yang grup kami pilih Adalah sbb: Package B isinya 1.Romantic show 350 yuan 2. Vigil Sightseeing on Sanya Bay by Yacht 250 yuan. 3.Night market 150 yuan. 4. Walking street 150 yuan Total:900 yuan. Paket ini bayarnya ke TL kami jadi bukan bagian dari itinerary yang ditawarkan oleh travel asal kami. Jadi untuk mengunjungi Night Market kami masing-masing harus bayar 150 yuan (360 rb) per orang padahal waktu kami ke Xinjiang kami mengunjungi Night Market yang jauh lebih bagus sudah termasuk dalam biaya tour.
Bagaimana kalau ada yang ngotot tidak mau ikut? Ya harus turun dari bis dan pulang ke hotel naik taxi sendiri. Piye, Jal…
Kerjasama yang lebih tersistem untuk tour semacam ini juga bisa dilakukan dengan maskapai penerbangan. Contohnya adalah Lion Air yang membawa kami dari Jakarta ke Sanya, Hainan. Pesawat Boeing yang membawa kami penuh dengan jumlah penumpang sekitar 180 orang yang merupakan turis dari Indonesia. Tampaknya pesawat ini dicarter khusus dengan biaya tertentu sehingga hanya memuat turis dari Jakarta ke Sanya. Tentu saja maskapainya senang jika pesawatnya penuh dan penjualan tiketnya dilakukan promosinya oleh travel-travel tadi. Karena harga tiket lebih murah maka travel juga bisa promosi bahwa tournya berbiaya murah dan mereka bisa menjaring lebih banyak peserta. Buktinya dalam satu pesawat kami kemarin tampaknya hanya turis dari Indonesia saja dari berbagai daerah. Mungkin ini sebabnya TL kami bilang bahwa tour kami ini disubsidi.
Selain tiga toko atau perusahaan yang wajib kami kunjungi dan dengarkan presentasinya ada juga kunjungan ke Taman Mawar yang sebenarnya juga adalah tempat untuk menjual berbagai produk hasil pengolahan mawar. Jadi ini semacam kunjungan ke perkebunan teh atau kopi dan nantinya kami akan digiring ke toko penjualan berbagai hasil pengolahan teh atau kopi dengan harga yang mahal. Jadi ini cara untuk mengeruk uang para turis juga. Sungguh cerdas dikau, Bro…!
Saya lalu bertanya-tanya mengapa Kementrian Pariwisata kita tidak melakukan hal yang sama agar negara atau pemda memperoleh pendapatan yang signifikan dari turisme juga. Apa sumbangsih Kementrian Pariwisata pada peningkatan jumlah turis dan peningkatan pendapatan daerah?
BERSIH-BERSIH PANTAI DAN LAUT ALA HAINAN
Ini juga pelajaran bagi saya. Pantai-pantai di Hainan yang kami datangi sangat bersih. Sebenarnya seluruh bagian kota di Sanya juga sangat bersih. Toilet-toilet yang kami datangi selama kami tour juga bersih. Berbeda dengan daerah-daerah di bagaian China yang lain yang masih saja ada yang kotor dan jorok. Jelas bahwa bukan hanya pemerintahnya peduli pada soal kebersihan tapi juga masyarakatnya sudah mampu berprilaku bersih. Hainan adalah wilayah pertama di Tiongkok yang berkomitmen untuk melarang produksi, penjualan, dan penggunaan semua plastik sekali pakai yang tidak dapat terurai secara hayati, dengan larangan penuh yang direncanakan untuk diterapkan pada tahun 2025. Mungkin ini sebabnya mengapa Hainan disebut sebagai ‘Pulau Panjang Umur Dunia’. Berkat kualitas udara dan airnya yang tinggi – dan mungkin juga gaya hidup pulaunya yang bebas stres – Hainan menjadi salah satu dari sedikit tempat di dunia yang dinyatakan sebagai Pulau Panjang Umur Dunia oleh Komite Pakar Internasional tentang Penuaan dan Umur Panjang Penduduk pada tahun 2014.
Lebih dari 1.500 centenarian tinggal di Hainan – dengan lebih dari 280.000 penduduk berusia di atas 80 tahun – menurut laporan tahun 2018 oleh Xinhua, kantor berita pemerintah Tiongkok. Jadi kalau kalian bisa mencapai usia 80 tahun maka sudah bisa disebut sebagai Centenarian.
Dinas-dinas pemerintah mengerahkan petugas untuk membersihkan pantai-pantai yang telah ditetapkan setiap hari, seringkali beberapa kali sehari. Tim pembersih keliling membantu dalam keadaan darurat, seperti setelah topan atau ketika sejumlah besar sampah laut muncul. Untuk pengumpulan sampah laut, Dinas Kelautan mengerahkan perahu untuk membersihkan sampah yang mengapung di perairan dekat pantai. Mereka juga melakukan Intersepsi sampah. Jadi ada Tim Penghadang Sampah. Fasilitas intersepsi dan pengumpulan sampah didirikan di sungai, parit, dan pintu air untuk mencegah sampah dari darat mencapai laut. Jadi laut dijaga agar tetap bersih.
Salah satu cara pemerintah Hainan dalam membentuk sikap dan prilaku bersih bagi warganya adalah dengan mengajak para siswa sekolah untuk turun ke pantai menyusurinya dan memunguti sampah-sampah yang mereka temui sepanjang jalan di pantai tersebut. Cara ini sangat efektif karena banyak siswa yang ikut terlibat sehingga cakupan daerah yang perlu dibersihkan cukup luas. Bandingkan dengan petugas kebersihan pantai yang mungkin hanya beberapa orang dibanding dengan puluhan siswa yang turun sekaligus. Cara ini juga efektif karena dengan demikian sekolah mendidik anak untuk turun langsung praktek melakukan bersih-bersih dan bukan sekedar berteori tentang pentingnya menjaga kebersihan tapi tanpa praktek nyata sama sekali. Jika siswa dilatih untuk melakukan pemungutan sampah secara langsung maka akan terbentuk sikap dan kebiasaan untuk berprilaku bersih di mana pun ia berada kelak.
Cara ini sebenarnya sangat sederhana dan mudah. Semua daerah bisa melakukannya dengan mengajak siswa sekolah turun ke daerah-daerah yang perlu dibersihkan. Tidak perlu biaya besar untuk membersihkan sebuah daerah jika siswa bisa diajak untuk melakukannya secara rutin.
Nah, apakah Dinas Pendidikan atau sekolah-sekolah di kota kita punya ide sederhana ini? Atau kita merasa sudah cukup dengan teori dan slogan saja?
Surabaya, 25 Nopember 2025
Satria Dharma