26 September 2025
Pagi ini kami menuju ke Benteng Jiuquan (Jiuquan Fortress) di kota Jiuquan yang berjarak 3 jam perjalanan dari Zhangye. Jiuquan, sebelumnya dikenal sebagai Suzhou, adalah kota prefektur di bagian barat laut provinsi Gansu. Lebar dari timur ke barat lebih dari 600 km, total luas wilayahnya 191.342 km², meskipun sebagian besar daerah yang dihuni terletak di distrik Suzhou. Jumlah penduduknya tidak banyak, yaitu hanya 962.000 jiwa menurut statistik tahun 2002.
Celah Jiayuguan telah menjadi daerah paling barat Tembok Besar pada masa Dinasti Ming. Daerah ini dijuluki “celah terluas Tiongkok di bawah langit”, dan berfungsi sebagai jalur bagi tentara, pedagang, dan utusan di masa lampau. Jadi daerah ini ramai jadi tempat keluar masuk berbagai orang dari mana-mana. Pada masa Dinasti Ming, Tembok Besar semakin menyempurnakan gaya bangunan dan metode pertahanannya, mencapai puncaknya dengan pembangunan Celah Jiangyuguan ini. Celah ini merupakan sistem pertahanan militer terbesar dan terlengkap dengan lanskap terindah di antara situs-situs bersejarah Tembok Besar Tiongkok.
Ada legenda yang mencengangkan tentang kisah perencanaan yang cermat dalam pembangunan celah tersebut. Menurut legenda, ketika Jiayuguan sedang direncanakan, pejabat yang bertanggung jawab meminta perancang untuk memperkirakan jumlah pasti batu bata yang dibutuhkan dan perancang memberinya angka 99.999 buah. Pejabat tersebut mempertanyakan penilaiannya dan bertanya apakah itu cukup. Perancangnya akhirnya menambahkan satu batu bata menjadi 100.000 baru bata. Ketika Jiayuguan selesai ternyata tersisa satu batu bata, yang diletakkan secara terpisah di salah satu gerbang dan masih berdiri hingga saat ini. Keren banget kan…! 😁
SON OF EARTH
Dari sini kami meneruskan perjalanan sekitar 5 jam menuju Gurun Gobi. Gurun Gobi ini bukan daerah baru bagi saya. Dulu waktu masih SMP saya sering sekali berkunjung ke daerah ini melalui ‘guru silat’ saya yang bernama Kho Ping Ho. Dari buku cersil KPH itulah saya mengenal ‘dunia persilatan’ dan negara Tiongkok. Dari cersil KPH inilah saya mengenal tokoh silat Pendekar Bongkok dari Gurun Gobi. Jadi sudah lama saya berkelana sampai ke Gurun Gobi. Bedanya dulu cuma dalam imajinasi dan kini dalam kenyataan. Tentu saja Pendekar Bongkok dari Gurun Gobi sudah almarhum. Kalau masih ada ya saya tentu ingin berkunjung dan salim cium tangan pada beliau. 😂
Di hamparan Gurun Gobi yang luas, dekat kota Jiuquan di Tiongkok, terdapat sebuah patung bayi raksasa yang sedang tidur.
āPutra Bumiā diciptakan oleh Profesor Dong Shubing dari Universitas Tsinghua di Gurun Gobi di Hongshanpo, Kabupaten Guazhou, Provinsi Gansu. Patung ini memiliki panjang 15 meter, tinggi 4,3 meter, dan lebar 9 meter. Judul karya ini bermakna bahwa kita semua adalah anak-anak bumi. Desain dan pembangunannya diorganisir oleh Profesor Dong Shubing, yang juga menggalang dana yang dibutuhkan. Setelah pembangunan selesai, patung tersebut diberikan kepada penduduk setempat secara gratis. Profesor Dong Shubing mengatakan bahwa alasan pembangunan ābayi raksasaā ini adalah untuk melindungi lingkungan hidup setempat. Kemudian, patung ini menjadi bangunan bersejarah di tanah terpencil Guazhou.
Menurut China Today, karya seni ini dikunjungi 375.000 wisatawan dari Januari hingga Mei 2023, dengan rata-rata kunjungan wisatawan harian lebih dari 2.500 orang. Bayangkan banyaknya orang yang tilik bayi raksasa di gurun ini sehingga menghidupkan perekonomian petani buah di Gurun Gobi
Kira-kira ada nggak orang Indonesia seperti Prof Dong yang mau membuat karya seperti ini yang akan memberikan berkah bagi rakyat di desa di mana ia mampu mempersembahkan karya monumentalnya bagi warga desa? Profesor Amien Rais barangkali…?! 😁
Selain patung bocah tidur ada juga patungnya Kaisar Wu dari Dinasti Han. Kaisar Wu dari Han (Han Wudi, 156ā87 SM) merupakan tokoh kunci dalam Dinasti Han, yang dikenal karena reformasi militer dan ekspansinya ke wilayah seperti Gurun Gobi untuk mengalahkan Xiongnu. Kaisar Wu dianggap sebagai salah satu kaisar terhebat dalam sejarah Tiongkok karena kepemimpinannya yang kuat dan pemerintahan yang efektif, yang menjadikan Dinasti Han salah satu negara terkuat di dunia. Patungnya ada di mana-mana termasuk di daerah gurun ini.
SHAZOU NIGHT MARKET
Acara terakhir kami adalah ke Shazou Night Market. Pasar Malam Shazhou
Terletak di Jalan Yangguan Timur, Pasar Malam Shazhou adalah salah satu pasar malam paling menarik di Tiongkok. Tempatnya sangat luas dan berbagai makanan dan souvenir dijual. Saat malam tiba, semua lampu menyala membuat pasar ini jadi begitu meriah. Wisatawan dari berbagai tempat berkumpul di sini berkeliling di antara para pengunjung untuk menemukan sesuatu yang memuaskan selera mereka. Semakin hari semakin banyak wisatawan menjadikannya sebagai tempat wajib dikunjungi di Dunhuang yang kaya budaya ini. Waktu 2 jam tidak terasa kalau berada di sini. Ibu-ibu langsung kalap belanja apa saja. 😁
Pasar utamanya sebagian besar berisi deretan kios makanan ringan, sementara jalan luar dipenuhi pedagang suvenir. Beberapa pedagang Uighur dari Xinjiang juga menawarkan kerajinan tangan daerah mereka untuk dijual. Jalan luar juga memiliki banyak kafe kecil untuk wisatawan dan kios barbekyu luar ruangan di mana kita dapat duduk dan bersantai sambil menikmati daging kambing yang lezat dan jus aprikot lokal. Tapi kami tidak ikut karena sudah kenyang waktu makan malam di resto tadi.
Sekian dulu dan sampai besok lagi… 🙏
Dunhuang, 26 September 2025
Satria Dharma
















