Sudah lama saya punya keinginan mendatangi semua negara bagian di Malaysia, tetangga dekat kita itu. Malaysia memiliki 3 Wilayah Persekutuan, yaitu : Kuala Lumpur, Putrajaya, Labuan. Negara bagiannya ada 13, yaitu : Johor, Kedah, Kelantan, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, Perak, Perlis, Pulau Pinang, Sabah, Sarawak, Selangor, Terengganu. Daerah yang sudah pernah saya datangi adalah : Kuala Lumpur, Putrajaya , Pahang, Selangor (Genting Highlands), Pulau Pinang, Sabah, dan Sarawak. Hari ini saya berkesempatan mendatangi satu lagi daerah di Malaysia, yaitu Melaka. Jalan-jalan ke Melaka ini tidak saya rencanakan sama sekali karena sebenarnya minggu depan saya akan ke Inggris dan Skotlandia. Tapi tiba-tiba adik saya Elly perlu periksa kesehatan ke Melaka. Dia sakit lambung dan sudah pernah periksa ke RS Mahkota di Melaka. Kemarin penyakitnya kambuh kembali dan tampaknya ia perlu datang lagi ke Melaka. Tiba-tiba ada usulan dari adik saya Mulia Hayati dan Agung untuk menemani Elly ke Melaka sekalian periksa kesehatan general check-up. Periksa kesehatannya sih saya tidak tertarik. Tapi karena janjinya nanti dibayari full baik transportasi, akomodasi, biaya general check-up maka saya langsung tertarik. Oke gas…! 😁
Melaka, atau juga dikenal sebagai Malacca, adalah sebuah kota di pantai barat laut Semenanjung Malaysia. Kota ini terletak di tepi Sungai Melaka dan merupakan salah satu daerah perbatasan penting di Semenanjung Malaysia, karena letaknya di jalur lalu lintas antarbenua yang penting. Melaka adalah negara bagian Malaysia yang sebenarnya punya bandara yang bernama Bandar Udara Internasional Melaka dan sebelumnya dikenal sebagai Bandar Udara Batu Berendam. Tapi pada bulan September 2023, semua operasi komersial telah dihentikan karena kurangnya permintaan dan tingginya biaya operasional bandara tersebut. Ini karena para pelancong yang datang ke kota ini lebih suka datang via Kuala Lumpur atau via pelabuhan laut yang dekat dengan Indonesia dan tentunya lebih murah. Ya sudah ditidurkan saja dulu bandaranya entah sampai kapan.
Jadi kalau kita mau ke Melaka mesti lewat darat dari Kuala Lumpur. Jarak dari Kuala Lumpur ke Melaka ialah 149 kilometer. Perjalanan darat dibutuhkan waktu 1,5 jam lewat jalan tol yang sangat lancar. Melaka ini dulu pernah punya Monorail, namun sekarang monorail tersebut juga sudah berhenti beroperasi.
SEJARAH
Kota ini dahulu merupakan ibu kota Kesultanan Malaka dan pusat peradaban Melayu pada abad ke-15 dan 16. Bangsa Portugis menaklukkan Melaka pada tahun 1511. Antara tahun 1641-1795, Melaka dikuasai Belanda. Lumayan lama. Makanya banyak jejaknya juga. Kemudian Melaka dikuasai Inggris pada tahun 1820-an sampai kemerdekaan Malaysia pada tahun 1957. Hampir sama lamanya dengan Belanda. Inggris menyerahkan Bencoolen kepada Belanda dan sebagai gantinya mereka mendapatkan Melaka.
Pada tahun 2008 Melaka dan George Town, dinobatkan oleh UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage).[2]
Melaka adalah kota pantai dan cuaca di Malaka panas dan lembab sepanjang tahun dengan curah hujan yang intensitasnya tergantung musim. Kota ini merupakan salah satu kota terkering di Malaysia, namun, Malaka tidak memiliki musim kemarau karena curah hujan rata-rata lebih dari 100 mm (3,9 in) setiap bulannya. Cuaca yang relatif stabil memungkinkan Malaka dikunjungi sepanjang tahun.
Ada banyak tempat rekreasi di Melaka. Bahkan sebenarnya kota kecil ini sangat nyaman untuk dijadikan tempat wisata. Ada banyak tempat wisata di Melaka Malaysia yang bisa kita kunjungi. Beberapa diantaranya adalah : 1. Stadthuys AKA Bangunan Merah, Jonker, Street, St. Paul Hill Dan Gereja St. Paul, Melaka River, Christ Church Melaka, Museum Maritim Melaka, Reruntuhan Benteng A Famosa, Tower Taming Sari, dll. Enaknya adalah bahwa semua tempat ini sebenarnya ada dalam satu tempat saja. Jadi kita bisa datangi semua dengan berjalan kaki.
MELAKA RIVER CRUISE
Melaka River Cruise adalah cara untuk menikmati keindahan kota Melaka melalui sungai. Kita akan menaiki kapal wisata sekitar 45 menit , dan melihat-lihat pemandangan sekeliling sungai Melaka. Biayanya Dewasa (12 tahun ke atas): RM25 tapi bagi Warga Emas (60 tahun ke atas): RM20 sedangkan Super Gold Warga Emas (70 tahun ke atas): RM10. Tampaknya orang tua sangat dihormati di Melaka ini. Sungguh seronok jadi warga emas seperti saya ini.
Kapal berangkat dari dermaga Museum Maritim. Katanya orang-orang lebih suka naik pada sore atau malam hari. Jika beruntung bisa menaiki Melaka River Cruise di sore hari saat menjelang senja, lampu-lampu kota mulai dinyalakan dan kota akan tampak sangat semarak. Perahu motor yang digunakan berukuran kurang lebih berisikan 30 orang. Tapi waktu kami naik kapal tidak penuh karena kami naik siang hari. Dari perahu tersebut, ada banyak panorama menarik untuk kita saksikan. Mulai dari kampung-kampung tradisional, perhotelan di pinggir sungai, kincir air seperti yang Belanda punya, kafe-kafe kecil dan unik berwarna-warni yang sengaja dihadapkan ke sungai menambah semarak tepian sungai.
Sungai Melaka panjangnya mencapai 40 Km dan dulunya adalah penggerak ekonomi kota Melaka pada masa keemasannya. Menyusuri sungai Melaka sama dengan menelusuri sejarah kehidupan masa lalu di Melaka. Ini sangat menarik untuk ditiru oleh kota-kota yang punya sungai di Indonesia, Surabaya umpamanya. Selama perjalanan kita akan ditemani alunan musik Melayu dan narasi tentang sejarah kampung-kampung yang dilewati. Turis Amerika yang ikut cruise bilang dia suka dengan lagu-lagu melayu karena unik.
Menyusuri Sungai Melaka sangat menyenangkan. Satu berpikir suatu kali jika ada waktu adalah kembali lagi menyusuri sungai Melaka dengan cara berjalan kaki menelusuri tepian sungai. Bagusnya adalah sepanjang sungai sudah dibuatkan walking trail yang nyaman untuk pejalan kaki.
MENARA TAMING SARI
Menara Taming Sari adalah menara gyro 24 lantai setinggi 110 meter di Kota Malaka, Malaka, Malaysia. Ini adalah menara gyro pertama dan tertinggi di Malaysia. Menara ini dibuka untuk umum pada tanggal 18 April 2008 dan diresmikan oleh Ketua Menteri Malaka, Mohd Ali Rustam pada tanggal 17 Mei 2008. Desainnya diambil dari eponymous keris legendaris milik Hang Tuah. Menara ini menawarkan panorama 360 derajat Kota Malaka dan sekitarnya, serta mampu menampung 80 orang per sesi menonton, yang berlangsung sekitar 7 menit. Biayanya untuk orang asing sebesar 26 RM tapi bagi warga emas. Pemandangan kota Melaka dari ketinggian 110 meter di malam hari sungguh indah dan semarak. Jelas sekali bahwa kota ini tertata sangat bagus sejak dijajah oleh Belanda mau pun Inggris dan warga Melaka mewarisi kemegahan, kekayaan, dan budaya teratur dari penguasa Melaka lalu. Tak ada daerah yang tampak kumuh dan rumah-rumah yang semrawut berdesakan seperti yang biasa kita lihat di kota-kota besar di negara kita
1. STADTHUYS
Stadthuys (ejaan Belanda kuno, yang berarti balai kota) adalah sebuah bangunan merah yang dibina oleh Belanda pada tahun 1650. Ia telah digunakan sebagai bagunan pentadbiran (administrasi) Belanda pada abad ke-17. Bangunan ini kini menjadi musium yang memamerkan sejarah dan budaya Melaka. Stadthuys adalah sebuah bangunan bersejarah yang terletak di jantung Kota Malaka, di tempat yang dikenal sebagai Lapangan Merah. Stadthuys terkenal dengan eksteriornya yang berwarna merah dan menara jam merah di dekatnya. Dibangun oleh Belanda pada tahun 1650 sebagai kantor gubernur dan wakil gubernur Belanda. Jadi usia bangunan ini sudah hampir 400 tahun. Tempat ini terus digunakan sebagai Perbendaharaan, Kantor Pos, Kantor Pemerintah, dan rangkaian apartemen bagi pejabat tinggi setelah pengambilalihan oleh Inggris. Ketika Malaka diserahkan kepada Inggris pada abad ke-19, Sekolah Gratis Malaka dibuka di sekitar Stadthuys pada tanggal 7 Desember 1826, oleh para misionaris yang tinggal di negara bagian tersebut, sebagai tanggapan atas surat tertanggal 19 April 1825, yang ditandatangani oleh J. Humprey, J. W. Overee dan A. W. Baumgarten yang menyerukan dibangunnya lembaga pendidikan bahasa Inggris di Malaka. Sekolah yang diberikan pendidikan gratis oleh Inggris kepada penduduknya akhirnya berganti nama menjadi Sekolah Menengah Malaka pada tahun 1871 setelah diambil alih oleh pemerintah Inggris, dan dipindahkan ke lokasinya yang sekarang di Jalan Chan Koon Cheng pada tahun 1931. Jadi sekolah gratis itu sudah ada di Melaka sejak hampir 200 tahun yang lalu. Makanya orang Malaysia itu lebih fasih berbahasa Inggris ketimbang orang Tegal, eh…!
BECAK HIAS (Malacca Trishaw Service)
Saat berkunjung ke Melaka, yang tidak boleh dilewatkan adalah menaiki sepeda hias. Sepeda-sepeda yang dihias sedemikian rupa dengan tokoh-tokoh kartun ini dapat kita sewa seharga RM25. Katanya boleh ditawar tapi ternyata mereka tidak mau turun harga.
Dengan becak hias ini, si abang becak Melaka akan membawa kita keliling Red Square, mulai dari kawasan alun-alun yang terdapat tulisan “I Love Melaka” hingga ke Porta de Santiago. Becak dayung hias ini menjadi salah satu atraksi menarik di kota wisata Melaka. Selain karena hiasan dan lampu-lampunya yang gemerlap, musik yang diputar juga menarik perhatian kita orang Indonesia. Lagu-lagu dangdut yang sedang hits, seperti Lagi Syantik, Goyang Nasi Padang dan lainnya. Satu becak muat dua orang dewasa. Setelah kita naik dan becak hendak didayung, si abang memutar musik terlebih dahulu. Kebetulan becak si abang becak kami memutar lagu Lagi Syantik yang dinyanyikan Siti Badriah. Tampaknya lagu-lagu Indonesia benar-benar menguasai dunia permuzikan Malaysia.
MEDICAL CHECK UP
Kami mengadakan medical check up di Rumah Sakit Mahkota Melaka ke esokan harinya. Sebenarnya rumah sakit ini tidak terlalu besar dan hanya berlantai 5 tapi sangat ramai pasiennya. Ternyata banyak juga orang Indonesia yang berobat atau melakukan GCU di rumah sakit ini. Biayanya per orang 498 RM untuk yang basic. Pemeriksaan fisik lengkapnya adalah : Pemerikaaan mata, Pemeriksaan pendengaran, Pemeriksaan paru-paru, Pemeriksaan darah lengkap, Analisa air seni, Pemeriksaan Radiologi, Pemeriksaan jantung. Hasilnya sama dengan medical check up yang saya lakukan beberapa bulan yang lalu di Surabaya, yaitu Kolesterol tinggi, trigliserid, tinggi, tekanan darah tinggi. Lain-lainnya bagus saja. Jantung baik, pendengaran baik, penglihatan baik (masih bisa membedakan mana wanita cantik dan mana yang kurang elok). Bagaimana gak tinggi lha wong sebelum berangkat ke Melaka kami mampir di Muara Angke Jakarta untuk makan seafood dan begitu sampai di Melaka kami juga ngembat udang, sotong, dan kawan-kawannya. Kami juga kekurangan tidur karena pesawat kami berangkat dari Jakarta tengah malam. Semestinya berangkat jam 21:15 tapi diundur hingga jam 00:30. Perjalanan dari Jakarta ke KL 2 jam lebih dan kami sulit tidur di pesawat. Kami sampai di bandara KLIA sudah menjelang Subuh dan masih harus naik mobil lagi ke Melaka selama 1,5 jam. Subuh kami baru sampai di Melaka dengan situasi kurang tidur. Paginya kami sudah jalan untuk rekreasi. Jadi kalau pemeriksaan kesehatan kami agak kurang ideal ya bisa dimaklumilah…
Apakah hasil pemeriksaan ini membuat kami lantas menjadi cemas atau ketakutan dengan kesehatan kami? Ternyata tidak berpengaruh. Faktanya sore ini kami tetap memutuskan untuk menikmati kuliner seafood Melaka di resto Ikan Bakar Muara Sungai Duyung yang legendaris itu. Saya pikir kami hanya akan menyantap ikan bakar saja. Ternyata kami masih juga memesan kepiting mayonnaise dan menyantapnya dengan khusyuk tanpa mengingat hasil pemeriksaan kesehatan kami tadi pagi. Nanti di tanah air aja kami bertobat. Itu pun kalau sangat diperlukan.
Pagi ini kami akan kembali ke kota masing-masing. Adik-adik saya ke Balikpapan dan saya ke Surabaya. Karena jadwal penerbangan kami dari Kuala Lumpur ke Jakarta masih sore hari maka kami putuskan untuk jalan-jalan dulu ke Central Market di Kuala Lumpur. Tampaknya masih ada uang ringgit kami yang meronta-ronta minta dibelanjakan oleh-oleh khas Malaysia. Ya baiklah kalau begitu…! 😁
Melaka, 25 September 2024
Satria Dharma
Foto-foto
