Minggu, 24 Februari 2020
Just another WordPress site
SEBERAPA KAYA ANDA INGINKAN…?!

Seberapa kaya atau banyak harta yang Anda inginkan dalam hidup Anda? CUKUP KAYA atau SANGAT KAYA? Perbedaan dari kedua situasi ini bukan dari jumlah atau nilai kekayaannya tapi dari IMPLIKASINYA pada kehidupan Anda.

Seorang konglomerat yang sangat kaya raya sebelum meninggal telah membuat wasiat tentang hartanya. Berdasarkan wasiatnya itu ternyata ia hanya mewariskan sedikit dari kekayaannya kepada anaknya. Sangat sedikit dari jumlah hartanya yang begitu berlimpah tersebut. Tapi tentunya sedikit bagian itu pun sudah sangat banyak bagi kita. Bagi Sandiaga Uno mengeluarkan dana 1 trilyun untuk nyapres itu sedikit tapi bagi Cak Nanang ketiban uang sepersepuluhnya saja bisa bikin dia klagep-klagep saking kagetnya.😀 Kalau Anda tidak bisa membayangkan seberapa banyak sepersepuluh dari dana nyapresnya Sandiaga Uno berarti Anda perlu ikut Gernastastakanya Cak Nanang. 😎

Bagian terbesar dari kekayaan konglomerat tersebut ia bagi-bagikan kepada berbagai lembaga dan yayasan sosial. Ketika ditanya mengapa ia tidak mewariskan semua hartanya pada anaknya ia menjawab bahwa sedikit harta yang ia berikan pada anaknya tersebut sudah cukup besar bagi anaknya untuk melakukan apa saja yang ia inginkan tapi tidak terlalu besar sehingga membuatnya tidak melakukan apa-apa. Maksudnya, si konglomerat ini memberikan harta yang cukup bagi anaknya sebagai modal untuk mewujudkan cita-cita hidupnya sendiri tapi ia tidak ingin memberikan terlalu banyak bagi anaknya sehingga membuat anaknya berpikir untuk tidak melakukan apa-apa karena sudah memiliki segalanya tanpa ia harus melakukan apa pun.

Saya pikir konglomerat ini cerdas sekali. Sayang saya lupa siapa namanya. Uang itu kalau sedikit maka ia akan menjadi alat tapi kalau terlalu banyak maka ia akan menjadi mainan yang akan membuat kita terlena dengan bermain-main dengan harta yang sangat berlimpah tersebut. The wealth we have should become tools and not become toys (sengaja menyelipkan bahasa Inggris ben ketok pinter). 😎 Kalau pakai istilah pebisnis maka harta harus menjadi ‘assets’ dan bukan ‘liabilities’ (beban). Kalau Anda tidak tahu bedanya maka itu artinya Anda tidak punya bakat sugih. 😀 Saya sendiri sampai sekarang berusaha keras untuk menjadikan beberapa properti yang saya miliki berubah dari ‘liabilities’ menjadi ‘assets’ dan masih kesulitan karena memang tidak pintar berbisnis.

Baca juga:  Kiriman Buku yg Luar Biasa

Bagi konglomerat ini harta kekayaannya bukanlah tujuan melainkan alat untuk mencapai tujuan. Dengan alat tersebut ia mewujudkan cita-citanya dan melakukan berbagai hal untuk mencapai visi hidupnya. Karena baginya harta adalah alat maka ia juga tidak ingin agar hartanya tersebut ia wariskan terlalu banyak bagi anaknya sehingga tidak lagi menjadi alat dan justru menjadi mainan yang melenakan anaknya sehingga tidak melakukan apa pun untuk mencapai visi hidupnya dengan kekayaan yang ia warisi tersebut.

Oleh sebab itu coba pikirkan lagi ketika kita ingin memberi sesuatu pada anak-anak kita. Apakah kita ingin memberi mereka ALAT untuk kehidupan mereka atau kita justru memberi MAINAN yang membuat mereka terlena dan bersenang-senang dengannya. Ini memang gampang diucapkan tapi angel dilakoni. 😀 Soalnya kita itu cenderung untuk memanjakan anak. Lha wong istri saya itu kalau dimintai uang sama anak lalu tidak diberi kemudian diskak sama anak, “Lha kalau punya uang terus bukan untuk anak lalu untuk siapa…?!” Istri saya langsung speechless alias blangkemen. Tentu saja anak saya hanya berani ngomong begitu sama emaknya. Sama bapaknya gak bakal berani ngomong begitu. Istri saya juga gak berani ngomong begitu sama saya karena bisa-bisa saya tergoda untuk menjawab, “Gawe mbok nom.”. Tapi itu pun beraninya hanya dalam hati. Lha wong saya ini suami yang istikomah… 😂

Surabaya, 13 Juli 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *