Jumat, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
Bali, Satu “STAR” dan Lima “CRYING”

Om Swasti Astu…

Seperti yg saya perkirakan saya bakal bosan mengikuti rakor di hotel Bali Beach ini. Belum sampai jam tiga sore kepala saya sudah jenuh serasa mau meledak mendengarkan berondongan presentasi. Kopi dan snack tidak menolong. Akhirnya saya terpaksa balik dulu ke kamar utk rebahan barang setengah jam agar bisa mengikuti sesi sampai selesai nanti.

Saya selalu bosan mendengarkan presentasi yg tidak menarik, apalagi mendengarkan laporan kerja setiap divisi yg mengikuti rakor ini. I feel like I have nothing to do with it. Lagipula memang tidak ada yg menarik dari paparan mereka. Beberapa divisi memang payah kinerjanya dan tidak memiliki greget lagi. Entah sudah berapa kali saya keluar ruangan utk mengusir rasa bosan.
Jangankan laporan dan matriks yg membosankan seperti ini, lha wong mendengarkan ceramah di pengajian saja saya bisa tertidur. Ancaman neraka wail dari penceramahnya pun tidak menggentarkan rasa kantuk saya. :-D. Kalau diserang rasa kantuk ya saya bisa tertidur sambil duduk bersila.

Istri saya tahu benar betapa bosannya saya mendengarkan orang berbicara sendiri termasuk di pengajian. Jadi kalau kami mengikuti ceramah agama pada acara-acara tertentu, istri saya akan membuat saya sibuk dengan mengirimi peringatan via BBM. “Ayo, jangan tidur…! Tuh matanya udah merah.”, dlsb. Tujuannya adalah agar saya tidak jatuh tertidur di tengah audiens yg asyik mendengarkan presentasi atau ceramah. Sometimes it works, sometimes it doesn’t. Sometimes I just fall asleep in the middle of the speech. Dan baru bangun ketika ceramah atau pidato selesai. Seolah otomatis saja.
Saya tidak tahu mengapa sy tidak punya stamina mendengarkan presentasi yg membosankan. Rasanya seperti mendengarkan omong kosong yg begitu melelahkan sehingga membuat saraf saya merasa ingin beristirahat dengan tertidur.

Rakor ini tentu lebih membosankan. Apalagi dilaksanakan mulai pagi sampai jam 7 petang. Saya harus mendengarkan laporan hasil kerja sekian lembaga di bawah management Stikom Bali dan rencana mereka di tahun 2013. Sulitnya saya merasa tidak punya kepentingan untuk mendengarkan mereka semua dan merasa hanya perlu mendengarkan apa yg disampaikan oleh Pak Dadang sebagai Direktur Utamanya. Kami memang ada sesi RUPS sendiri dimana Pak Dadang menjelaskan secara global kinerja PT dan yayasan serta rencana setahun ke depan. Pak Dadang paham bahwa we hate unnecessary details dan ia hanya menyampaikan hal-hal yg dianggap krusial dan perlu mendapat perhatian saja. Jadi RUPS kami memang tidak pernah lama dan kami seolah sepakat bahwa rapat lebih dari dua jam adalah siksaan yg tidak perlu. Mending kami ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa-ketiwi. Syukurlah besok tinggal ‘wrap-up’ dan penutupan (lagipula istri saya akan datang menyusul besok sore. Horeee….! Kami mau nonton ‘Devdan’ yg sudah lama pingin kami tonton).

Baca juga:  Dr. Lo dan Praktek Gratisnya

Program SMKTI yg kami tawarkan secara nasional ternyata mendapatkan tanggapan yg lumayan dan beberapa investor bahkan sudah teken kontrak. Beberapa prospek juga berdatangan dari berbagai daerah termasuk Medan dan Bone. Padahal sebetulnya saya pesimis dg program ini. Saya juga tidak berupaya utk menutupi keengganan saya ketika konsultannya memberikan presentasinya. Tapi Pak Dadang memang persisten dan program ini tetap jalan. Iklan program ini muncul di beberapa media nasional dengan foto saya mejeng disitu bersama semua anggota yayasan. Seorang teman lama mengirim SMS utk menyampaikan bahwa ia melihat senyum saya yg manis di Jawa Pos.

Tidak semua divisi di bawah Stikom Bali moncer kinerjanya, apalagi tahun ini. Bahkan beberapa begitu menyedihkannya sehingga saya bertanya-tanya mengapa lembaga itu masih dipertahankan. Mestinya mereka sudah dilikuidasi, dilipat habis saja. Hanya satu lembaga yg mendapat penilaian “STAR”. Itu untuk unjuk kinerja terbaik yg melampaui target. Satu lagi dapat status”SMILE”, satu “SAD” dan sisanya yang lima justru jatuh di status “CRYING”….! Tapi Pak Dadang memang seseorang yg sabar dan tabah menghadapi kegagalan. I don’t. Kalau saya berada di posisinya maka beberapa divisi sudah saya hapus dan coret dari daftar karena merugikan. Tapi kami tetap menghargai dan menghormati keputusannya. He’s the leader and we must trust the leader even if we disagree with some of his decisions. Mungkin ini yang membuat kami tetap solid sampai sebelas tahun dalam bisnis bersama. There will be no business without trust.
Satu hal yg saya pelajari dari ini adalah bahwa jika kita memberikan kepercayaan dan dukungan pada partner kita maka ia akan memegang kepercayaan tersebut dengan teguh. Kalau kita menaruh curiga pada mitra bisnis kita maka itu akan dengan cepat menjalar menjadi sikap saling tidak percaya satu sama lain. Ia akan memakan habis trust yg ada seperti api memakan kayu kering. Saya sendiri bahkan tidak membaca laporan keuangan yg diberikan secara berkala. Pertama, saya percaya sepenuhnya pada pembuat laporan tersebut. Kedua, saya juga tidak paham bagaimana menerjemahkan situasi dari laporan dan angka-angka tersebut. Ketiga, keuangan bukanlah interes saya. Saya langsung pusing lihat angka-angka. Jadi laporan keuangan yg dibuat oleh akuntan publik tersebut tidak pernah saya baca dan saya selisipkan di mana saja saya bisa menaruhnya.
Satu hal yg saya pelajari di manajemen Pak Dadang adalah bahwa it’s OK to tolerate some failures or mistakes when the big goal is still achieved. Tak apalah kita rugi di sana-sini asal secara global tetap menguntungkan. Ada keseimbangan yg perlu tetap dijaga. Harmoni terkadang jauh lebih berharga ketimbang sekedar keuntungan finansial. When we see unpleasant things sometimes it’s easier just to close our eyes. Tutup mata saja sementara dan mari berharap things will change eventually.
Pak Dadang memang pemimpin yg luar biasa sabarnya. Beliau memang sangat toleran dan hampir tidak pernah marah pada staf dan karyawannya. Kadang saya heran bagaimana ia bisa begitu sabar menghadapi staf dan karyawan yg berkinerja buruk dan menjengkelkan. Kalau saya pemimpinnya maka mungkin saya sudah melakukan operasi bersih-bersih personel berkinerja memble. :-).

Baca juga:  RAKOR STIKOM BALI : TAMBAH KAYA ALIAS TAMBAH BANYAK UTANG

Syukurlah bukan saya direktur utamanya…!

Bali Beach Hotel, Sanur, 30 Des 2012

Salam
Satria Dharma
https://satriadharma.com/

Satu tanggapan untuk “Bali, Satu “STAR” dan Lima “CRYING””

  1. dhwan berkata:

    Pengusaha ya pak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *