Sabtu, 22 Februari 2020
Just another WordPress site
SATU AGAMA ATAU BANYAK AGAMA?

“Pak Satria, di mana rujukannya sehingga kita bisa mengonfirmasi bahwa Tuhan menurunkan banyak agama? Sepemahaman saya, Allah hanya menurunkan satu agama : Islam. Yaitu agamanya Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW.”

Sebuah pertanyaan muncul dalam diskusi di sebuah milis dan saya tertarik untuk menanggapinya dalam sebuah tulisan yang agak panjang terpisah dari jawaban singkat saya pada si penanya.
Si penanya ini protes pada pernyataan saya bahwa Allah mengakui agama-agama lain sebagai agama yang diturunkanNya, selain Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad. Sedangkan menurutnya agama Islam itu hanya satu yaitu agama yang disampaikan pada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad, meski ia tidak menyebutkan tentang perbedaan ‘versi’ agama Islam dari masing-masing nabi.
Jawaban singkat saya adalah : “Lha yang disebut Ahli Kitab itu siapa Kang ? Apa suku-suku terpencil di seluruh dunia ini tidak mendapatkan petunjuk (agama) dari Tuhan? Lantas Anda sebut apa petunjuk tersebut? Apa sih konsep ‘Agama’ dalam benak Anda?”
Tentu saja ini jawaban yang jauh dari memuaskan dan memang tidak menjelaskan tentang apa itu ‘agama’ dan apa itu ‘Islam’.

Bagaimana menurut Anda, apakah menurut Anda agama Islam itu hanya bisa disematkan pada agama yang disampaikan pada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad saja (dan agama-agama lain adalah agama ‘non-Islam’ dalam kriteria ini)?
Bagaimana menurut Anda, apakah Tuhan hanya menurunkan SATU ‘agama’ (jalan. Maksudnya jalan hidup atau jalan yang harus ditempuh oleh manusia sepanjang hidupnya atau jalan yang menghubungkan antara sumber dan tujuan hidup manusia, atau jalan yang menunjukkan darimana, bagaimana dan hendak kemana hidup manusia di dunia ini,http://diaz2000.multiply.com/journal/item/86/Pengertian_Agama)
saja atau menurunkan BANYAK ‘agama’ (jalan hidup) di dunia ini sejak adanya manusia di bumi sampai sekarang?

Mari kita bedah dulu pernyataan si penanya. Menurutnya Allah hanya menurunkan satu agama :Islam, yaitu agamanya Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan Muhammad SAW.” Mungkin maksudnya adalah bahwa semua agama yang diturunkan oleh Allah kepada semua nabinya (jadi tidak terbatas pada ke empat nabi yang disebutkan oleh si penanya) disebut agama Islam, yang artinya adalah jalan keselamatan. Yaitu sebuah petunjuk dan tuntunan agar manusia bisa mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat.


Karena Allah adalah Maha Adil maka tentu saja Ia tidak akan mengazab siapa pun sebelum diutus rasul kepada mereka yang menjelaskan kebenaran yang harus mereka ikuti dan kebatilan yang mesti mereka hindari. Oleh karenanya untuk setiap umat telah diutus pemberi peringatan kepada mereka yang menjelaskan ajaran tauhid dan syariat yang diturunkan untuk mereka.
Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. (Yunus: 47)
Jika kita membatasi ‘Islam’ hanya pada ke empat nabi tersebut maka itu artinya kita tidak mengakui bahwa agama yang diturunkan pada nabi-nabi lain, baik yang disebut di AlQur’an atau pun tidak, adalah agama Islam juga. Tentu saja ini tidak benar. Tentunya semua agama yang dibawa oleh semua nabi dan rasul yang diutus oleh Tuhan masuk dalam kategori agama ‘Islam’ dalam versi yang berbeda-beda.

Mari kita lakukan flash-back dulu.
Sampai sekarang masih banyak umat Islam yang menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama di dunia. http://www.inibuku.com/8241/nabi-adam-manusia-pertama-di-dunia.html Tentu saja ini tidak benar. Adam bahkan bukan nabi pertama di dunia. Sebelum Nabi Adam ada telah hidup manusia-manusia dalam berbagai komunitas di belahan dunia ini. Adam bukanlah manusia pertama di dunia sehingga otomatis bukan juga nabi pertama di dunia. Lha kalau ada manusia sebelum Adam apakah mereka tidak diberi petunjuk agama oleh Allah agar selamat? Tentu saja setiap umat di dunia ini diberi petunjuk oleh Allah melalui perantaraan orang alim dan bijak yang kita kenal sebagai nabi dan rasul. Dengan demikian berarti telah ada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum nabi Adam.

Baca juga:  TERJEREMBAB DAN TERJERAT

Bagaimana mengetahui bahwa Adam bukanlah manusia pertama? Jika kita belajar tentang antropologi, geologi, pertanian atau peternakan maka dengan mudah kita mengetahui bahwa Adam tidak mungkin merupakan manusia pertama di dunia ini.
Dalam kisahnya Adam dan anak-anaknya sudah mengenal dan melaksanakan pertanian dan peternakan. Ketika Habil dan Qabil (Abel and Cain) diminta untuk memberikan sesaji, qurban, atau persembahan kepada Tuhan, mereka diminta untuk memberikan hasil kerja mereka yang terbaik. Seperti yang kita baca kisahnya, Habil memberikan domba paling gemuk yang merupakan hasil ternaknya sedangkan Qabil memberikan gandum hasil pertaniannya yang kurang baik kualitasnya. Baca ceritanya di (QS.Al-Maidah:27-31)
Dari cerita ini jelas sekali bahwa mereka hidup di jaman ketika pertanian dan peternakan telah dilakukan dengan baik dan mereka tidak lagi bercocok tanam secara berpindah seperti pada awal pertanian di kenal. Mereka tidak berburu atau memunguti buah-buahan untuk hidup sebagaimana semestinya manusia awal prasejarah hidup. Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di daerah “bulan sabit yang subur” di Timur Tengah, yang meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania sekarang.http://kreasihati.wordpress.com/2008/07/31/sejarah-singkat-pertanian-dunia/
Hewan ternak yang pertama kali didomestikasi adalah kambing/domba (7000 tahun SM) serta babi (6000 tahun SM), bersama-sama dengan domestikasi kucing. Sapi, kuda, kerbau, yak mulai dikembangkan antara 6000 hingga 3000 tahun SM.http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian. Sedangkan manusia pertama di dunia diperkirakan berusia puluhan ribu tahun lebih tua dari masa hidup Adam.
Jadi jelas bahwa tidak mungkin Adam adalah manusia pertama. Tentu saja karena untuk bisa menguasai ilmu pertanian dan peternakan manusia membutuhkan waktu ribuan tahun sejak dari manusia mulai memungut buah dan membunuh binatang untuk dimakan. Manusia tidak tiba-tiba menguasai ilmu pertanian dan peternakan. Manusia yang sudah mengenal ilmu pertanian dan peternakan telah melintasi sejarah selama ribuan tahun. Saat ini bahkan masih ada manusia yang hidup dengan cara manusia prasejarah di berbagai pelosok terpencil dunia.

Jadi jika sebelum Adam telah ada komunitas manusia yang diciptakan oleh Tuhan dan kelak di akhirat para manusia tersebut juga akan dimintai pertanggung-jawabannya atas kehidupannya di dunia maka tidak bisa tidak pastilah Tuhan telah memberikan petunjuk (agama) kepada komunitas manusia tersebut agar dapat mengenal Tuhan, percaya akan adanya hari akhir, dan beramal saleh selama hidupnya. Tidak mungkin Allah tidak memberikan petunjuk hidup kepada manusia ciptaannya meski dalam bentuk peraturan yang paling sederhana sekali pun.
Pada jaman Adam kita bisa melihat aturan yang ditetapkan oleh Tuhan adalah agar mereka tidak berzina (melainkan kawin dengan pasangannya) dan tidak membunuh sesama manusia. Qabil membunuh Habil dan itu membuatnya menyesal karena itu adalah perbuatan yang melanggar larangan Tuhan. Dari kisah tersebut kita juga melihat bahwa ritual persembahan bagi Tuhan telah ada sejak jaman Adam yang sampai saat ini berevolusi dan kita langgengkan dengan berqurban. Jadi kalau ada sekelompok orang yang melarung sesaji ke Laut Selatan di pulau Jawa maka sebenarnya itu punya akar yang jauh ke masa peradaban awal manusia.

Jadi jelas bahwa Tuhan menurunkan petunjuk dan bimbingan yang kita kenal dengan nama agama sejak menciptakan manusia.
Nah! Kira-kira apakah nama agama yang diturunkan oleh Tuhan kepada manusia sebelum Adam tersebut? Ya, benar! Kita menamakannya agama Islam, atau ‘berserah diri kepada Tuhan’. Sedangkan pemeluknya disebut sebagai ‘muslim’ atau ‘orang yang berserah diri’. Petunjuk hidup atau agama yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Adam juga kita sebut agama Islam. Begitu juga kepada semua nabi baik yang kita kenal dan disebut namanya dalam AlQur’an maupun yang tidak kita kenal dan juga tidak disebut dalam AlQur’an, semuanya mendapatkan petunjuk dan bimbingan yang kita sebut sebagai ‘agama Islam’. Tentu saja komunitas-komunitas dan umat-umat tersebut tidak menyebutnya sebagai ‘Islam’. Bahkan umat Nabi Musa dan Nabi Isa tidak menyebut diri mereka sebagai umat Islam atau ‘muslim’. Kita, umat Islamlah, yang menyebut mereka seabgai umat ‘islam’ dan ‘muslim’.

Baca juga:  Islam dan Kekerasan

Jadi menurut umat Islam sebetulnya semua agama yang diturunkan oleh Tuhan adalah agama Islam dan pengikut nabi-nabi tersebut disebut ‘muslim’ atau orang yang berserah diri. Hal tersebut dapat kita lihat pada beberapa ayat sbb :
Ali Imran [3:67] Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus201 lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.

AlMaidah [5:111] Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut ‘Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu) (bi-annanaa muslimuuna)”.
Ali Imran [3:52] Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (bi-annaa muslimuuna).

Adz-Dzariat [51:35-36] Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman (minal mukminin) yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri (minal muslimiin).
Jadi kalau kita merujuk kepada sebuah tuntunan atau aturan hidup yang kita sebut sebagai agama yang diturunkan oleh Tuhan maka nama generik dari agama tersebut adalah agama Islam. Ini kalau kita merujuk kepada sebuah nama generik dari petunjuk dan tuntunan agama dari Tuhan lho! Jadi baik itu penganut agama yang dibawakan oleh Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Sulaiman, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Muhammad semuanya disebut sebagai ‘muslim’. Sila periksa Ali Imran 3:52 dan 67, Al-Maidah 5:111, dan Adz-Dzariat 51:36. Umat-umat nabi terdahulu disebut ‘muslim’ dalam ayat tersebut.
Tapi kalau kita merujuk kepada tuntunan atau aturan hidup (agama) yang dibawa oleh para nabi atau kelompok umat manusia berdasarkan pembawa syariatnya maka kita akan mendapatkan berbagai ‘merk’ agama atau kelompok. Ada agama /umat Nasrani, ada agama/umat Yahudi, ada Shabiin, ada Hindu, dan berbagai macam agama baik yang disebut dalam AlQur’an maupun yang tidak.
Jadi meski sama-sama disebut muslim tapi mereka juga disebut berdasarkan panutan(nabi)nya. Dan berbeda panutan atau nabi berbeda juga sebutan kaumnya. Disinilah kita melihat mereka disebut sebagai Kaum Luth, Kaum Yahudi, Nasrani dan penganut Nabi Muhammad tetap disebut sebagai Islam. Kenapa bisa berbeda? Jangankan berbeda nabi, sedangkan yang nabinya sama pun bisa berbeda-beda kelompok dan sebutannya. Ada Islam Syi’ah, Sunni, Ahmadiyah, Kristen, Katolik, Mormon, Mahayana, Hinayana, dll.
Jadi sebetulnya hanya ada satu agama dong (dan bukan banyak agama)!
Ya kalau kita bicara tentang nama agama yang diturunkan oleh Tuhan maka hanya ada satu yaitu Islam. Tapi versinya banyak, ada Islam versi sebelum nabi Adam, Islam versi masa Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Selain mereka tentu ada juga agama Islam versi nabi-nabi yang tidak disebutkan dalam AlQuran. Tapi begitu kita bicara tentang Islam ‘versi’ apa maka kita akan merujuk pada umat dari nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan seperti agama Yahudi, Nasrani, Shabiin, dll. Karena nabinya berbeda maka versinya juga berbeda dan ritualnya juga berbeda. Yang saya maksud dengan ritual disini adalah tatacara peribadatannya meski disebut dengan nama sama. Ritual ‘sholat’, ‘zakat’, ‘dzikir’, sebenarnya tidak eksklusif untuk peribadatan umat nabi Muhammad saja. Umat nabi lain juga melakukan sholat, zakat, shaum, dan bahkan berhaji. Tentu saja aturannya berbeda dari satu nabi ke nabi yang lain. Puasa yang dilakukan oleh umat Nabi Daud mestinya berbeda dengan yang dilakukan oleh umat Nabi Isa.
Hud [11:87] Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu (ashalatuka) menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal735.”

Baca juga:  100+ Nasihat Terbaik

Al-Anfal [8:35] Sembahyang mereka (shalaatuhum) di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
Periksa juga Al-Baqarah 2:43 dan Ibrahim (14:37 dan 40). Ritual haji juga sudah dilakukan jauh sebelum Nabi Muhammad.

Tapi ritual ini meski disebut dengan istilah yang sama (shalat, zakat, haji, puasa) tapi berbeda-beda bentuknya dan tatacaranya. Jadi kita bisa katakan bahwa shalat, zakat dan puasanya umat Nasrani itu berbeda dengan yang diajarkan oleh nabi-nabi sebelum dan sesudahnya. Ritual ini bisa diselewengkan sehingga tidak sesuai dengan aslinya oleh orang yang bukan nabi (bukan utusan Tuhan). Contohnya ya shalat yang cuma siulan tepukan tangan tersebut. Penyelewengan ini dikecam oleh Allah.

Jadi berbagai ‘versi’ Islam itulah yang kita sebut sebagai ‘agama’ sekarang. Islam versi Musa kita sebut Yahudi dan Islam versi Nabi Isa kita sebut Nasrani, dst.
Apakah kita bisa menyebut ‘Shabi’in’ sebagai sebuah versi agama Islam? Tentunya demikian, karena Allah sendiri menyatakan bahwa kaum Shabi’in yang beriman dan beramal saleh juga akan mendapakan balasan surga kelak.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqoroh : 62)

Jadi SIAPA SAJA (penganut Islam versi apa saja) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, akan dijamin memperoleh pahalanya kelak dari Tuhan, versi apa pun Islam mereka. Dan itu adalah janji dari Tuhan sendiri.

Jadi bagaimana menurut Anda, apakah Allah menurunkan hanya SATU agama saja atau Allah justru menurunkan BANYAK SEKALI agama yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi umat manusia pada lokasi dan waktu tertentu?

Satria Dharma
Balikpapan, 17 Januari 2010

Disclaimer : Tulisan ini adalah pernyataan pribadi saya berdasarkan pemahaman saya. Tentu ada diantara Anda yang tidak setuju dengan sebagian atau bahkan seluruh isi tulisan saya ini. Anda punya hak untuk itu.

0 tanggapan untuk “SATU AGAMA ATAU BANYAK AGAMA?”

  1. Nur berkata:

    Pandangan anda terlalu episentris ke Islam, anda jatuh ke dalam prejudice tanpa pemahaman yang mendalam mengenai agama-agama lain. Pandangan Islam anda dibatasi oleh pandangan umum yang dipahami kebanyakan muslim. Ada baiknya berpikir outside the box agar dapat keluar dari dogma yang sudah lama itu.

  2. Diva Ardie berkata:

    Yg paling benar sdh pasti adalah ajaran yg di sampaikan oleh Bible krn sebelumnya belum ada kitab lainya.Dan isinya lengkap berurutan secara teratur dari awal kejadian hingga akhir zaman (kiamat). Dan umatNya yg telah mendominasi berbagai bidang kehidupai dgn jumblah umat yg terbanyak di banding dgn semua agama2 yg ada .Islam mungkin sbg agama yg ke dua namun ajarannya justeru menjiplak dari Bible .

  3. htysite berkata:

    Agama adalah cara pandang dari sudut pandang tertentu tertentu terhadap Zat yang Maha yang disebut Tuhan – God – Tuhan Yang Maha Esa – Sang Yang Widi dll.
    Mengapa ada banyak agama karena cara pandang atau sudut pandangnya yang berbeda. Semisil 100 orang disuruh melihat gunung atau benda yang besar dari sudut yang berbeda maka akan ada 100 pendapat yang berbeda.

    Alasan yang masuk akal adalah mari kita perhatikan sebuah gunung yang besar atau kepal laut yang besar. Ketika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda maka pandangan kita terhadap benda yang sama juga berbeda. Dari atas bentuk benda akan berbeda jika dilihat dari depan atau belakang atau dari samping. Tidak hanya itu melihat benda yang sama pada sudut pandang yang sama saja terkadang mempunyai penilaian yang berbeda pula. Misalnya saja 100 orang disuruh melihat sebuah gunung dari sudut pandang yang bebeda maka ketika 100 orang ini ditanya maka jawabannya juga ada 100 pendapat. Mengapa karena kemampuan manusia terbatas, sering kali manusia melihat apa yang membuat dia paling tertarik menurut dirinya sendiri. Dalam kasus 100 orang melihat gunung maka ada 100 pendapat berbeda terjadi karena melihat dari cara pandangnya sendiri. Seorang mebih tertarik melihat puncak gunung, orang lain tertarik melihat punggung gunung, orang lainnya lagi tertarik melihat lembahnya yang curam. Orang yang sama sama tertarik melihat puncak punung juga cara penilaiannya berbeda ada orang yang tertarik kepada puncak sebelah kanan dan lain tertarik pada puncak sebelah kiri dan lainnya lagi tertarik pada bagian puncak lainnya lagi.

    Ilustrasi diatas mudah mudahan menambah pemahaman anda. Yang menjadi pertanyaan adalah objek pengamatannya sama ( satu ) tetapi cara pandangnya yang berbeda. Demikian juga dengan agama agama yang begitu banyak di dunia ini, mereka memiliki cara pandang yang berbeda beda dan tidak jarang antara satu dan lainnya saling berseberangan padahal yang diamati adalah objek yang sama.

    Lalu mana yang paling benar ? dari ilustrasi di atas pasti anda bisa menjawabnya. Semoga bermanfaat.

  4. Aoen berkata:

    Konsep agama adalah konsep menyama-ratakan persepsi tentang Tuhan. Hal berbeda dengan persepsi utama yang dianut dianggap menyimpang dan menurut umat Islam disebut sebagai “Kafir”. Karena takut dengan sebutan tersebut, tidak ada orang yang berani mengutamakan persepsinya yang berbeda. Jadi pandangan anda harus keluar dari kotak (out of the box) bila anda mempertanyakan tentang konsep agama yang sudah baku selama 1600 tahun. Bila anda dilahirkan dan tumbuh di dalam keluarga yang menganut agama lain, tentunya anda akan berbicara lain. Justru konsep agama yang menyama-ratakan persepsi tentang Tuhan itu terasa aneh bila bersinggungan dengan agama lain, dan kemudian menyalahkan agama lain tersebut hanya karena tidak sepaham. Kebenaran Tuhan itu tidak hanya dimiliki secara ekslusif oleh sebuah umat saja. Kebenaran Tuhan itu sangat beragam, tidak absolut terus menerus dan terus berubah sepanjang waktu.

  5. uzo berkata:

    pada kebanyakan nagadu emengan yeng gek penteng brooo. Bhineka tunggak ika. Knapa sbab presiden qt yg pertama yg agama beliau ISLAM engga so fanatik, ya kaya lo smua gk usah bnyak ngemeng yg aneh so berwawasan out box outside apalah ahir ahir ot tottt. tonk kosong nyaring bunyinya hahahaha lu yg islam gx usah so lu jga yg ahli bible apalah gk usah so yg terbanyak n terbaik. orang udah punya jln masing” gk ada yg jiplak or ngikut maslah ky gtu udah basi lu jga yg bible tau berak ngikutin orang jaman purba,ha

  6. Elang Perkasa berkata:

    Ada yg salah dengan pola pikir anda sdr satria dharma. Di satu sisi anda mengutip ayat-ayat suci Al-Quran, di sisi lain anda menentangnya.
    Jika anda memang benar2 konsisten dengan pemikiran anda, anda tidak akan mengatakan bahwa semua agama itu sama.

    QS. Al-Baqarah ayat 30 mengisahkan tentang penciptaan Adam sbg manusia pertama di muka bumi. Tetapi dengan pola pikir dan logika anda yg tidak konsisten itu anda membantahnya dengan mengatakan hal itu tidaklah mungkin karena utk mencapai peradaban di mana bercocok tanam dan berternak membutuhkan waktu ribuan tahun untuk mencapai peradaban setinggi itu, dan anda juga mendasarkan argumen anda berdasarkan ilmu antropologi, geologi, ilmu prasejarah dsb yg berpendapat bahwa jauh sebelum nabi adam muncul telah ada yg namanya manusia dan peradaban. Apakah dg mengutip pendapat2 yg demikian, anda menjadi yakin bahwa memang benar nabi adam bukanlah orang yg pertama di muka bumi? Lalu bagaimana dengan kebenaran ayat suci Al-Quran yg jelas2 mengatakan bahwa nabi Adam adalah benar2 manusia yg pertama kali diciptakan dimuka bumi?

    QS. Al-Maidah ayat 3: “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamaMu… Lalu kenapa anda bisa berpikir bahwa Allah telah menurunkan banyak agama dengan membuat logika berlandaskan ayat2 suci Al-Quran yg lain yg anda kutip secara serampangan untuk memperkuat logika dan pola pikir anda yg tidak konsisten itu? Bukankah hal itu akan membuat kebenaran Al-Quran menjadi saling bertentangan?

    Saya berterimakasih kpd sdr karena melalui website ini saya bisa melihat dan menjadi saksi kebenaran firman Tuhan dlm Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 85 tentang keberadaan orang2 yg beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kpd bagian yg lain… Dan saya khawatir anda termasuk kpd orang2 yg menjual dirinya dg mengingkari apa yg diturunkan Allah sebagaimana dijelaskan dlm surat Al-Baqarah ayat 90.

    Ada yang salah dg otak dan pikiranmu sdr Satriadharma. Sepertinya anda butuh istirahat, dan saya sarankan utk sementara waktu supaya anda menghentikan mengutip ayat2 suci Al-Quran sebagai landasan anda berpikir utk memperkuat argumen2 anda yg semakin ngawur itu. Kalau tidak demikian, saya khawatir pola pikir dan logikamu akan semakin kacau yg pd akhirnya, yg paling saya takutkan, membuat anda menjadi gila..

  7. maung panjalu berkata:

    Tidak ada yg salah isi artikel sdr satriadarma, hanya org yg tertutup hatinya yg langsung menilai pendapat org lain salah. Kanjeng nabi adam memang bukan manusia pertama di planet bumi ini. Beliau hanya bpk manusia pertama yg memegang keyakinan tauhid utk diikuti oleh peradaban manusia sampai saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *