Mei 16, 2022

0 thoughts on “TANYA JAWAB TENTANG UJIAN NASIONAL

  1. Saya sangat tertarik dgn artikel Pak Dharma. Kebetulan sy sedang melakukan penelitian ttg akses anak miskin terhadap sekolah negeri di Jakarta dan Jawa Barat. Bisakah bapak menyediakan sedikit waktu agar saya dapat konsultasi. Salam, Firdaus

  2. Walau aga telat mbacanya, tapi saya setuju banget dengan artikel tanya jawab ini, terimakasih atas pencerahannya Pa

  3. kenyataannya banyak murid dan guru yang berbuat curang hanya karena ujian nasional jauh dari harapan dengan yang namanya KARAKTER

  4. Ping-balik: HARDIKNAS 2011
  5. Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional sudah memasuki tahun ke 5(lima) sejak tahun 2007,Awalnya tidak banyak kritikan mengenai program ini,kalaupun ada mungkin hanya sebatas pada diskusi,dan relative sangat sedikit yang naik ke media cetak maupun elektronik.

    Pada menjelang penerimaan murid baru tahun 2011, berbagai pendapat miring terhadap program ini bagaikan air bah yang siap menggusur sebuah kampung yang namanya RSBI . semua tokoh yang bicara atau menulis di media cetak hampir mengambil sisi kurang, seolah-olah RSBI tidak ada yang baik.

    Bagi saya praktisi pendidikan, Program RSBI adalah salah satu langkah positive dalam inovasi pemikiran peningkatam mutu pendidikan.
    Semua orang tahu bahwa investasi di bidang pendidikan jangan mengkonotasikan seperti makan cabe, hari ini makan langsung rasa pedas dapat di rasakan, jadi jangan buru-buru mengambil kesimpulan RSBI pasti akan ditinggalkan oleh Masyarakat, Allah Swt yang memiliki segala kepastian itu.

    Kita tidak bisa pungkiri dan tidak bisa di bantah bahwa inovasi ini membutuhkan support baik dari pemerintah,pemerintah daerah maupun masyarakat. Jika pemerintah, dan pemerintah daerah meningkatkan komitmen terhadap standar-standar yang ditetapkandi barengi koordinasi yang iklas, saya pikir sekolah tidak perlu lagi bersusah payah minta bantuan masyarakat ( Orang Tua).

    kalau kita ingin mencari tikus perusak tanaman padi, jangan dibakar sawahnya, cari tikusnya sampai ketemu artinya bagian mana yang harus di perbaiki tidak programnya di hentikan. dan yakin hakulyakin program ini jika semua pihak ikut nimbrung untuk memperbaiki akan sangat bermamfaat untuk bangsa ini.
    di DKI jakarta saja peminat orang tua untuk mendaftarkan siswanya di sekolah RSBI semakin meningkat dan tidak seheboh di media tentang RSBI kastanisasi,tidak ada peluang siswa yang miskin, biaya tinggi.

    mari kita amati efek sejak diberlakukan sekolah gratis untuk seolah negeri,mesium yang sepatutnya di kunjungi siswa SD dan SMP sekarang tidak lagi ada yang berkunjung kenapa dananya tidak ada bagaimana 10 tahun sampai 15 tahun kedepan, sekarang saja sudah terasa ada yang hilang dari hasil pendidikan, kharakter bangsa, bangsa Indonesia.

  6. Assalamua’laikum
    apa solusinya kalau ijaza tidak memenuhi syarat UAN 2012?
    harap jawab secepatnya terima kasih
    wassalamua’laikum

  7. Berikut ini dari Pak Edi Subchan yg saya ambil dari
    http://pendidikankritis.wordpress.com/2011/05/25/makna-ujian-nasional-bagi-kehidupan-siswa/

    Kalau tidak dengan UN, lalu dengan apa capaian praktik pembelajaran dilihat? Jawab: dengan melihat penilaian evaluatif sejak masuk sekolah sampai masa akhir kurikulum yang diambilnya habis, bentuk instrumennya adalah track record dalam rapor siswa sejak awal masuk. Dengan melihat hasil evaluasi tersebut, maka proses pembelajaran selanjutnya dapat diperbaiki, yang nilainya jelek boleh mengulang seperti dalam sistem perkuliahan pada semester lain.
    Kalau tidak dengan menaikkan standar UN, lalu dengan apa kualitas pendidikan dapat naik? Jawab: pendidikan dapat naik kualitasnya dengan memberikan fasilitas pembelajaran yang bagus, membuka akses informasi dan pengetahuan bagi guru dan siswa, membangun manajemen pendidikan yang kuat, demokratis dan dapat merawat iklim intelektual. Menaikkan standar UN atau standar kelulusan hanya membuat beban, teror, bias tujuan pendidikan, dan mendorong praksis pendidikan jadi pragmatis dengan model belajar ala Bimbel, yakni drill & practice serta try out berkali-kali.
    Kalau tidak ada standar kelulusan melalui standar nilai minimal UN dan standar kelulusan, lalu apa acuan pendidikan? Jawab: acuan desain dan praksis pendidikan bukan UN, melainkan visi dan tujuan pendidikan. Acuan visi dan tujuan pendidikan tersebut terdapat dalam kurikulum, jadi ya tinggal mengikuti kurikulum saja. Dengan begitu proses pendidikan tidak mengejar standar lulus UN, melainkan mengejar tujuan visioner pendidikan yang lebih substansial.
    Kalau pendidikan persekolahan tujuannya bukan untuk lulus UN (lulus sekolah), lalu untuk apa pendidikan persekolahan? Jawab: tujuan pendidikan persekolahan (schooling) adalah optimalisasi potensi dan bakat siswa agar kualitas berkehidupannya bagus di masyarakat, sedangkan UN sama sekali tidak menunjukkan derajat optimalisasi potensi dan bakat siswa secara komprehensif, melainkan hanya penanda kualitas kognitif tingkat rendah saja. Istilah lulus dan tidak lulus itu digunakan kalau sebuah konsep dan praksis pendidikan menggunakan standar baku dalam arti standar seleksi, tapi kalau tidak, maka tidak ada istilah lulus dan tidak lulus, semuanya lulus, hanya kualitasnya berbeda antara satu dan lainnya.
    Kalau tidak tidak ada UN dan semua siswa diluluskan, lalu buat apa belajar, toh semuanya lulus? Jawab: tidak ada UN dan semua siswa lulus bukan berarti tidak ada visi dan tujuan pendidikan serta “standar” kualitas, sekali lagi visi dan tujuannya dapat dilihat dalam kurkulum, sedangkan “standar” kualitasnya ditentukan oleh realitas kehidupan yang lebih luas, yakni dunia kerja (bagi yang ingin langsung kerja) dan kampus (bagi yang ingin studi lanjut). Justru dengan begitu, kalau siswa sejak awal tidak belajar serius untuk menguasai materi pelajaran, maka ketika materi kurikulumnya habis (sudah semester 5 dan 6) dan siswa lulus, maka ia tidak akan memenuhi “standar” dunia kerja dan kampus. Dengan begitu justru lagi-lagi sejak awal siswa sudah didorong untuk serius belajar menguasai materi pelajaran.(Saya kira kita mesti juga curiga istilah lulus tidak lulus ini akarnya apa, di mana, untuk apa, dasarnya apa dan seterusnya)
    UN juga mengajarkan ranah afektif, yakni kejujuran dalam mengerjakan UN, tidak hanya kognitif tingkat rendah, jadi UN tetap diperlukan. Jawab: ya memang diajarkan, tapi fakta banyak ketidakjujuran dan kebohongan juga diajarkan melalui UN. Lagipula tidak ada metodologi penilaian afektif yang dijalankan dalam praktik UN, tidak adanya laporan kecurangan bukan berarti di sekolah tersebut tidak ada kecurangan, dengan kata lain: tidak tahu terjadi kecurangan dan kebocoran soal bukan berarti tidak terjadi kecurangan dan kebocoran soal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.