Beredar sebuah video tentang siswa yang katanya klas 12 lalu diuji dengan perkalian sederhana, sangat sederhana bahkan, yang ternyata banyak juga yang tidak bisa menjawab dengan benar. Tentu saja ini memprihatinkan… 🥹
Tapi bagi saya yang sejak umur 20 tahun sudah jadi guru dan pernah jadi guru TK, SD, SMP, SMA, dan perti sepanjang karir saya maka fenomena seperti ini sama sekali bukan hal baru. Bedanya adalah dulu tidak ada yang merekam hal-hal seperti ini dan mengedarkannya. Sekarang orang malah berlomba-lomba membuat video anak-anak yang tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana lalu disebarluaskan. Lha kalau mau membuat video siswa (atau bahkan mahasiswa) yang tidak bisa perkalian sederhana mulai Sabang sampai Merauke ya akan dapat sak klumbruk. Jangankan di Indonesia, di negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris saja banyak fenomena seperti ini. Tapi kebanyakan orang kan tidak tahu. Makanya heran seolah itu peristiwa yang ajaib dan langka. Bukan saudara-saudara….! Itu hal biasa saja di dunia bulbul ini. 😎
Sekedar info, pada tahun 2023, 27% anak lulusan SD di Inggris tidak memenuhi standar membaca yang diharapkan, menurut Departemen Pendidikan. Anak-anak di Wales yang sudah lulus SD hanya bisa membaca setara dengan anak berusia empat tahun. Usia empat tahun…! Jadi ini adalah contoh nyata dari kegagalan sistem pendidikan di Inggris. Sila tonton ini kalau mau : Youtube
Bagaimana dengan matematika? Sama saja. Lihat di AS negara yang sangat maju itu.
Lebih dari separuh siswa sekolah negeri di kota masih belum memiliki pemahaman dasar matematika dan bahasa Inggris. Padahal pembelajaran dilakukan dalam bahasa Inggris. Separoh lho itu… Apa nggak lebih parah tuh masalahnya. Berdasarkan placement test, secara mengejutkan 60 persen siswa AS yang masuk community college tidak memenuhi syarat untuk mengikuti pelajaran matematika di perguruan tinggi, meskipun mereka telah lulus sekolah menengah atas. Lebih dari separoh lho itu…
Sila baca ini kalau mau. Startling number of city public school students don’t understand basic math, English dan Why so many U.S. students aren’t learning math.
Jadi bagaimana…?! Masih merasa bahwa anak-anak Indonesia itu bego semua dan masa depan bangsa kita akan jadi suram? Lha wong video Tiktok kok dijadikan acuan. 😁
Ada banyak komentar-komentar konyol dari orang yang sok tahu soal video anak klas 12 yang tidak bisa perkalian sederhana tersebut. Salah satunya adalah mereka MENYALAHKAN Kurikulum Merdeka dan lalu mulai mencaci maki mantan Mendikbud Nadiem Makarim. Katanya ini karena kesalahan Nadiem yang bukan orang pendidikan itu dalam menerapkan Kurikulum Merdekanya yang akhirnya membuat anak-anak menjadi merdeka tidak belajar. Lho…! Piye toh iki… Mereka ini sendiri jelas tidak paham matematika tapi sok tahunya sundul langit. 😁
Maksud saya ini begini lho… Pelajaran perkalian itu biasanya diberikan di kelas 3 SD. Jadi kalau di tahun 2024 ini anak klas 12 tidak bisa perkalian sederhana maka itu jelas menunjukkan kegagalan pembelajaran perkalian semasa mereka di klas 3 dulu. Kalau di tahun 2024 ini mereka sudah kelas 12 maka ketika mereka kelas 3 dulu adalah 9 tahun yang lalu. Tahun berapa itu coba? Siapa Mendikbudnya waktu itu? Kurikulum Merdeka itu baru diluncurkan pada tahun 2022 dan itu pun belum semua ikut. Lha kalau yang mau dibahas adalah kegagalan mereka di kelas 3 SD maka jelas waktu itu kurikulumnya belum merdeka dan Nadiem Makarin entah masih di mana waktu itu dan kita masih naik gojek tawar menawar di pengkolan.
Selain komentar konyol tersebut ada lagi yang lebih konyol, yaitu mereka yang ingin kembali agar Ujian Nasional diterapkan lagi. Mereka berpendapat bahwa kegagalan pembelajaran perkalian tersebut karena sekolah sudah tidak ada UN lagi. Ini jauh lebih konyol. Mereka ini jelas tidak paham apa fungsi ujian. Mereka jelas tidak tahu apa dampak dan implikasi dari sebuah ujian yang diberlakukan secara nasional. Mereka itu asbun saja.
Semua jenis ujian, baik itu ujian sekolah, ujian lokal, atau pun nasional, ujian masuk perguruan tinggi, ujian masuk polisi, apa pun itu tujuannya adalah untuk PENGUKURAN. Yaitu untuk mengukur kemampuan siswa seberapa paham mereka dengan materi yang diujikan. Apakah sebuah ujian itu bisa dipakai untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam materi yang diujikan? Ya jelas tidak dong. Hal itu sama dengan bertanya apakah demamnya anak yang sakit bisa turun kalau panas tubuhnya dites dengan termometer? Ya jelas tidak. Termometer itu hanya untuk mengetahui seberapa panas tubuh orang yang dites. Termometer tidak bisa menyembuhkan sakit panas meski pun anak yang sakit itu diukur panas tubuhnya setiap lima menit. Lha wong itu cuma alat ukur dan bukan obat.
Saya jadi ingat Jusuf Kala dulu. Beliau ini adalah inisiator Ujian Nasional yang merusak bangsa selama belasan tahun. Alasan JK, Ujian Nasional merupakan sarana untuk membuat seluruh siswa di Indonesia sama pintarnya, karena memakai satu standar. “Siswa di Kendari, Ternate, maupun di mana saja di seluruh pelosok negeri di-set pengetahuannya sama dengan siswa di Jakarta maupun kota besar lainnya,” ujarnya. Tentu saja ini sangat mengherankan karena kacaunya cara berpikir beliau.
Bukan ujian yang membuat kualitas pendidikan meningkat tapi pelayanan pendidikan yang berkualitas yang bisa membuat kualitas pendidikan meningkat. UN itu hanya alat untuk MENGUKUR pencapaian materi siswa, dan bukan alat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ujian yang standar tidak akan membuat pengetahuan siswa menjadi sama atau jadi standar pengetahuannya. Tidak mungkin input dan proses yang berbeda TIBA-TIBA menjadi sama outputnya hanya karena diuji dengan pengukuran yang sama. Juga tidak ada bukti bahwa setelah mendapat UN maka anak-anak daerah BISA BERSAING dengan anak-anak P. Jawa. TIDAK ADA data yang bisa digunakan untuk menyatakan bahwa dengan mengikuti UN maka akan bisa membuat anak-anak daerah bisa bersaing dengan anak-anak di P. Jawa. Belum pernah ada penelitian semacam itu karena menggunakan logika yang salah. Ujian Nasional hanyalah alat ukur dan bukan obat atau solusi untuk peningkatan kualitas pendidikan. Hal itu sama saja artinya dengan menyatakan bahwa sejak digunakannya termometer maka penyakit demam bisa dikurangi, atau lebih ekstrim lagi dengan menyatakan ‘Sejak digunakannya termometer ini untuk mengukur panas anak-anak di Papua maka alhamdulillah kesehatan anak-anak Papua sudah sama baiknya dengan anak-anak P. Jawa!’ Tentu saja itu konyol. Jika anak-anak di daerah ingin bisa bersaing dengan anak-anak di P. Jawa maka KUALITAS PENDIDIKANNYA yang harus ditingkatkan (bukan standar ujiannya).
Kemarin ada wartawan yang bertanya pada saya bagaimana pendapat saya jika Ujian Nasional diberlakukan lagi. Saya menjawab bahwa itu akan sama dengan mengulangi KEBODOHAN NASIONAL lagi. Lalu saya menjawab dengan panjang dan lebar yang mungkin akan membuat wartawannya pusing untuk merangkumnya. 😁
Balikpapan, 3 Nopember 2024
Satria Dharma