Banyak orang yang terus menerus menghembuskan narasi sesat bahwa utang negara itu sama dengan utang rakyat. Pada akhirnya rakyat juga yang harus menanggung utang tersebut. Kata mereka jika utang pemerintah per Agustus 2023 mencapai Rp7.870,35 triliun. Maka, jumlah utang pemerintah sebesar itu dibagi dengan jumlah penduduk sebanyak 217.349.889 orang. Hasilnya, masing-masing orang menanggung utang sebesar Rp36,2 juta. Jadi katanya setiap warga Indonesia akan menanggung utang pemerintah sebesar itu. 😳
Tentu saja itu narasi yang bodoh dan menyesatkan. Coba dipikir sedikit…
Negara kita ini sejak merdeka sudah berutang. Indonesia memiliki warisan utang pemerintah kolonial sebesar US$1,13 miliar usai mendapat pengakuan kemerdekaan oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949. Utang itu berasal dari kekayaan yang rusak akibat perang serta seluruh investasi sebelumnya yang dibekukan oleh pemerintah Belanda. Belitan utang tersebut tentu sangat berat bagi sebuah negara yang baru berdaulat. Apalagi, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada saat itu masih sangat kecil. Sudah miskin utangnya banyak pula… Tapi apakah pembayaran utang itu dibebankan pada rakyat? Tidak kan… Tidak pernah kita dengar bahwa rakyat dikenai iuran untuk membayar utang pemerintah.
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, pemerintah juga menghimpun utang. Selama memimpin sejak Maret 1967 sampai Mei 1998, utang yang dihimpun pemerintah mencapai Rp 551,4 triliun, setara 57,7% dari PDB. Apakah dengan demikian rakyat dibebani membayar utang negara lebih tinggi dari sebelumnya? Tentu saja tidak. Itu urusan negara. Negara sudah punya kementrian yang mengurusi itu semua. Rakyat biar bekerja dan mendapat penghasilan bagi keluarganya saja. Tidak usah mengurusi utang negara.
Ambruknya ekonomi pada 1997-1998 di masa Soeharto membuat pemerintahan Presiden BJ Habibie harus menarik utang dalam jumlah besar. Hal itu dilakukan karena situasi ekonomi, sosial, dan politik dalam negeri yang jauh dari stabil. Kita kena krisis ekonomi. Utang di masa pemerintahan Habibie mencapai Rp938,8 triliun. Padahal PDB nasional saat itu sebesar Rp1.099 triliun. Artinya, rasio utang saat itu mencapai 85,4 persen. Sangat tinggi. Andai saja UU nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara saat itu sudah berlaku, maka rasio utang di era Habibie menyalahi batas rasio utang terhadap PDB, yakni maksimal 60 persen. Tapi apakah kemudian rakyat diminta urunan untuk membayar utang yang melonjak tersebut? Tentu saja tidak. Olaopo… Ben negoro ae sing repot mikiri utang tersebut. 😎
Di era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gusdur, rasio utang sedikit membaik ke level 77,2 persen. Nilai utang pemerintah saat itu sebesar Rp1.271 triliun, sementara PDB-nya sebesar Rp1.491 triliun. Berlanjut, di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, perekonomian Indonesia mulai pulih dari krisis. Rasio utang juga mulai menurun. Nilai utang saat itu sebesar Rp1.298 triliun, sementara PDB sebesar Rp2.303. Artinya rasio utang mencapai 56,5 persen dari PDB. Kemudian di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), 2004-2014, nilai utang Indonesia mencapai Rp2.608 triliun. Kabar baiknya, PDB Indonesia juga terus tumbuh menjadi Rp10.542 triliun. Artinya, rasio utang di era SBY sebesar 24,7 persen terhadap PDB. Harga minyak, batu bara dan CPO (minyak sawit mentah) dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan di zaman SBY. Minyak yang semula USD 29,32/barel di 2004 dihargai USD 142,03/barel di 2008, begitu juga batu bara, yang tadinya USD 56,68/metrik ton di 2004 menjadi USD 192,86/metrik ton di 2008. Lalu CPO yang semula RM 1411 di 2006 naik menjadi RM 4298 di 2008. Pokoknya ekonomi Indonesia mengalami booming pada saat itu.
Utang Indonesia memang selalu meningkat setiap tahunnya sejak zaman Presiden Soeharto hingga saat ini di zaman Presiden Jokowi. Tapi pendapatan negara juga terus meningkat. Saat ini size ekonomi kita, GDP kita TERTINGGI SEJAK MERDEKA. Sehingga meski pun utang meningkat, namun kemampuan ekonomi Indonesia juga meningkat. Negara kita SEMAKIN KAYA. Pun jika bicara masalah bahaya atau tidaknya, Indonesia tidak punya sejarah mengalami gagal bayar. Saya ulangi lagi Indonesia TIDAK PERNAH mengalami gagal bayar. Artinya, utang Indonesia selalu dalam kondisi aman dan masih bisa terus dibayar oleh pemerintah. Biar pun kepepet dan menggos-menggos kita tetap bisa bayar utang.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI sendiri menegaskan pengelolaan utang pemerintah tidak ditanggung pelunasannya oleh per kepala setiap penduduk Indonesia dengan nominal tertentu. Itu hanya hitung-hitungan yang digunakan oleh orang tertentu untuk membuat rakyat cemas dan tidak percaya pada pemerintah. Jadi jelas niatnya buruk. Mengapa niatnya buruk? Karena kalau mereka sekedar mau bermain-main dengan angka mestinya mereka juga harus jujur dan juga memasukkan jumlah kekayaan negara yang juga dibagi dengan jumlah penduduk. Mengapa hanya utang pemerintah yang dibagi kepada jumlah rakyat? Mengapa kekayaan negara tidak dibagi untuk rakyat juga? Kok jahat banget niatnya. Utang pemerintah dibagi kepada rakyat tapi kekayaan negara tidak dibagi kepada rakyat. Lha maksudnya apa kok mau menakut-nakuti rakyat dengan jumlah utang pemerintah dibagi pada setiap warga itu? Mengapa bukan kekayaan pemerintah yang dibagi-bagikan kepada setiap warga agar warga senang bahwa ternyata mereka kaya raya.
Tahukah Anda berapa kekayaan pemerintah sekarang dengan utang sebesar itu? Ternyata pemerintah pusat memiliki nilai aset mencapai Rp13 ribu triliun dan belum termasuk aset pemerintah daerah. Aset negara hingga 31 Desember 2023 telah mencapai Rp 13.072,8 triliun. Jadi jika kekayaan pemerintah sekarang dibagikan kepada setiap rakyat Indonesia maka setiap warga Indonesia akan mendapat Rp. 60 juta lebih. Jadi kalau seandainya rakyat harus menanggung utang sebesar Rp 36,2 juta per orang maka dengan pembagian kekayaan pemerintah yang sebesar Rp. 60,1 juta itu per orang maka setiap warga Indonesia masih memegang uang sebesar 23,8 juta. Masih lebih banyak sisanya. 😁
Tapi mereka yang selalu mengompori rakyat dengan jumlah utang pemerintah kan tidak pernah mau bicara soal kekayaan pemerintah sekarang. Utang negara saja yang mereka bagikan kepada rakyat tapi kekayaan negara mereka simpan dan tidak pernah mau mereka bicarakan. Mereka selalu mengompori rakyat bahwa jumlah utang Pemerintah saat ini sudah mengkhawatirkan dan meragukan kemampuan Pemerintah untuk membayarnya. Jelas mereka itu punya niat buruk. Mengapa demikian? Kan sudah disampaikan bahwa SELAMA INI Indonesia TIDAK PERNAH mengalami gagal bayar. Artinya, utang Indonesia selalu dalam kondisi aman dan masih bisa terus dibayar oleh pemerintah. Bahkan pada saat negara kita kantongnya bolong dan kena krisis ekonomi yang parah pun kita tetap bisa membayar utang kita. Apalagi sekarang negara kita sedang kaya-kayanya. Jadi mengapa mereka selalu bicara soal kekhawatiran tidak bisa membayar utang kalau bukan punya niat buruk?
Untuk pengelolaan utang pemerintah mengalokasikannya melalui APBN di antaranya untuk pembayaran bunga surat berharga negara (SBN). Utang pemerintah Indonesia per Agustus 2023 mencapai Rp7.870,35 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak 89 persen atau Rp6.995,18 triliun di antaranya bersumber dari Surat Berharga Negara (SBN) dan 11 persen lainnya adalah pinjaman atau sebesar Rp875,16 triliun. Jadi hampir 90% utang pemerintah adalah melalui SBN yang artinya utang kepada rakyat sendiri.
Komposisi SBN itu sebanyak Rp5.663,94 triliun dibeli oleh investor dalam negeri atau 72,3 persen dengan mata uang rupiah, sedangkan sisanya mencapai Rp1.331.24 triliun adalah valuta asing (27,7 persen). Sedangkan Rp875,16 triliun pinjaman itu terdiri dari pinjaman dalam negeri sebesar Rp25,11 triliun dan luar negeri Rp850,05 triliun. Sungguh sangat aman. Jadi mengapa terus mengompori rakyat dengan utang negara? 🙄
Sudahlah, tidak perlu ikut-ikutan mikir utang negara. Sudah ada Ibu Sri Mulyani dan satu kementrian yang dibawahinya yang terdiri dari orang-orang pintar dan berpengalaman semua yang menanganinya. Mereka digaji tinggi untuk ngurusi soal utang ini. Mereka sangat kapabel menangani harta, utang, dan kekayaan negara. Ngapain sampeyan sok mau mikir utang negara segala. Koyok yok-yok’o saja sampeyan itu, Mbok ya pikirkan bayar utang sampeyan sendiri saja. 😁
Balikpapan, 1 Nopember 2024
Satria Dharma
Sumber Bacaan:
Memahami Utang Pemerintah
Satu Warga RI Menanggung Rp23 Juta Utang Pemerintah
Sri Mulyani Cerita Sejarah Utang dari Zaman Merdeka
Fakta Utang RI: Terjadi Sejak Era Soeharto & Masih Aman
Anak Buah Sri Mulyani: Indonesia Tak Pernah Gagal Bayar Utang