Saya berdebat dengan seorang anggota FB di FB Diskusi Dengan Babo (DDB) soal Esemka. Dia mengejek Jokowi dengan gambar Jokowi di depan mobil Esemka dengan nomor plat T 1 PU. Jadi saya menjelaskan bahwa itu adalah kesalahan dan hanya merupakan ungkapan sakit hati orang pada Jokowi. Kami berdebat dan saya menjelaskan kesalahannya. Ketika saya ingin menjawab komentarnya lagi tiba-tiba komentar saya hilang. Ketika saya cari ternyata semua percakapan kami di FB itu hilang. Setelah saya telusuri ternyata saya diblok di FB group DDB. Saya tidak bisa lagi masuk ke FB group tersebut.
Saya diblok karena membela Jokowi. 😳
Sungguh cemen admin FB DDB ini. Saya pikir mereka orang yang terpelajar dan bisa menerima perbedaan. 🥺
Kenapa ada orang yang mengecam, mengejek, dan menghina Jokowi soal Esemka? Ya entah karena mereka bodoh atau sakit hati. Orang yang tidak paham persoalan tapi mengecam dan menghina Jokowi soal Esemka adalah orang bodoh. Tapi kalau sudah tahu permasalahan dan masih tetap mengecam Jokowi berarti dia kelompok orang sakit hati.
Sebelum ada Esemka kita sudah pernah mengalami kemunculan mobil nasional bernama Timor. Waktu mobnas Timor muncul sebagian besar rakyat Indonesia masih culun-culun dan tidak punya nyali. Mereka manut saja apa kata Soeharto sebagai presiden waktu itu, betapa pun salah dan ngawurnya.
Timor lahir melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 1996 dari Presiden Soeharto. Jadi lahirnya Timor itu artinya didukung sepenuhnya oleh pemerintah dan akan didukung pembiayaannya oleh negara. Pemilik PT Timor Putra Nasional adalah Hutomo Mandala Putra, alias Tommy, putra bungsu Presiden Soeharto sendiri. Jadi ini berdasarkan keputusan presiden dan perusahaan yang ditunjuk untuk membangun adalah anaknya sendiri. Sangat indah dan sempurna kolusinya tentu saja. Tapi rakyat Indonesia waktu itu mana ada yang berani menentang atau mengritisi keputusan presiden yang main tunjuk saja itu. Mereka waktu itu masih punya sopan santun, culun, dan tidak macam-macam. Sampai sekarang pun tak ada yang berani mengecam Soeharto dengan tindakan kolusifnya itu. Bayangkan kalau Jokowi melakukan hal yang sama dan menunjuk Gibran atau Kaesang sebagai pemilik perusahaan otomotif yang akan dibiayai oleh pemerintah. Gunung Semeru bisa meletus lagi dan tsunami bakal menerjang pantai-pantai…
Lahirnya mobil Timor sebagai mobil nasional menimbulkan polemik dan implikasi hukum yang sangat besar, khususnya di bidang perdagangan antar negara. Timor memperoleh banyak kemudahan dan perlakuan khusus/istimewa. Pemerintah memaksakan untuk mengeluarkan berbagai peraturan dan kebijakan yang jelas merusak tatanan mekanisme pasar. Akhirnya PT TPN digugat di WTO.
Apakah mobil nasional Timor ini diproduksi oleh pabrik di Indonesia? Tidak sama sekali. Selama beroperasi, TPN mengimpor mobil-mobil buatan Kia Motors dari Korea Selatan, baik melalui jalur impor utuh maupun impor kit. Antara Juni 1996 dan Juli 1997, sebanyak 39.715 unit mobil diimpor oleh TPN dari Kia Motors. Jadi mobil nasional Timor itu bukan buatan pabrik Indonesia tapi impor utuh atau tinggal dirakit di Indonesia. Walau lahir dari rahimnya negara asing tapi rakyat Indonesia patuh saja jika dibilang bahwa itu mobil nasional. Tidak ada satu pun yang berani protes saat itu. Bahkan Rocky Gerung, Refly Harun, Faisal Assegaf, dll entah di mana waktu itu. Mungkin belum lahir…
Karena harga mobil Timor jauh dibawah pesaingnya, penjualan Timor mendominasi pasar namun merugikan penjualan dan pangsa pasar pesaing. Timor harganya sekitar Rp 35 juta, sekitar setengah dari harga pesaingnya di segmen yang sama. Sebagai perbandingan, Toyota Corolla berukuran serupa dihargai sekitar Rp 70 jutaan. Tentu saja Timor laris manis. Pada akhir semester pertama 1997, mobil Timor telah menguasai 26% pangsa pasar mobil sedan. Luar biasa kan…! Akibatnya Ford dan Chrysler kelimpungan dan ingin menarik investasi mereka dari Indonesia, karena merasa produk mereka tidak akan mampu bersaing dengan Timor yang disubsidi pemerintah. Pada saat itu, Ford berencana untuk merakit Ford Escort secara lokal, sementara Chrysler berencana untuk memproduksi Chrysler Neon. Sementara itu, General Motors yang telah mengoperasikan pabrik di Indonesia mengumumkan pada Juni 1996 bahwa mereka akan menunda rencana investasi mereka. Jadi banyak perusahaan otomotif yang terancam keberadaannya. Mereka protes dan mau menarik investasi mereka.
TPN berencana untuk mengimpor 45.000 mobil per tahun (mengimpor ya, bukan membuat sendiri), namun krisis finansial Asia pada tahun 1997 berdampak pada Timor dan Kia Motors. Pada awal tahun 1998, 15.000 unit dari hampir 40.000 unit yang telah diimpor masih belum terjual di Jakarta. hanya 2.493 unit yang terjual pada tahun 1998. Jelas ini tidak sesuai dengan target penjualan dan TPN jelas terancam rugi.
Jadi selain masalah krisis finansial, TPN juga digugat oleh WTO karena melanggar aturan WTO yang juga disepakati oleh Indonesia. Indonesia kalah dan TPN harus mengakhiri operasinya setelah WTO memutuskan bahwa program mobil nasional tidak sesuai dengan aturan WTO. Hancur sudah mimpi punya mobil nasional.
Waktu berdiri TPN menggunakan pinjaman dana perbankan. Ada kredit sindikasi dari beberapa bank yang jumlahnya hampir Rp 4 triliun. Kok bisa pinjam dana sebesar itu tanpa agunan? Apa yang tidak bisa kalau Soeharto yang memerintahkan? Meski TPN sudah tak lagi beroperasi, perusahaan tersebut masih meninggalkan kewajiban utang pada pemerintah. Tercatat, utang PT TPN kepada negara mencapai Rp 3,2 triliun. Untuk mengembalikan kerugian negara itu, Direktorat Jenderal Pajak mulai melakukan penyitaan terhadap aset PT TPN.
Ketika kalah dari WTO akhirnya mobil-mobil yang sudah diimpor tersebut lantas dijual untuk membayar angsuran kredit yang Rp 4 triliun itu. Hasil penjualan mobil dimasukkan ke escrow account (rekening tampungan) di Bank Mandiri dan sudah masuk Rp 1 triliun. Lantaran lebih dari 2 tahun tidak membayar pajak makanya asetnya disita, termasuk uang Rp 1 triliun untuk membayar pajak. Kemudian TPN menggugat dan di MA dimenangkan tapi kalah di PK. TPN ingin mengambil kembali uang Rp 1 triliun tetapi tidak boleh oleh Bank Mandiri karena itu untuk pelunasan utang.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya bisa mengejar pelunasan utang tersebut. Syukurlah pemerintah berhasil mengamankan uang negara senilai Rp 1,2 triliun dari rekening TPN yang diblokir di Bank Mandiri. Selamatlah uang negara yang tersisa tapi yang hilang sisanya tidak jelas lagi kabarnya. Dan tidak ada yang protes pada Tommy meski merugikan negara begitu besar. Memang sakti anak keturunan Soeharto itu. Tapi Kaesang dihujat dan dilaporkan ke KPK karena nebeng jet privat temannya padahal tak satu pun orang, apalagi negara, yang dirugikan. Sungguh aneh bin ajaib kan…?! 😁
Sekarang kita bicara soal Esemka.
Apakah Esemka itu mobnas?
Ternyata bukan. Presdir PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka), Eddy Wirajaya, sendiri yang menegaskan bahwa Esemka murni perusahaan swasta. “Kami adalah perusahaan swasta nasional yang 100 persen dimiliki swasta dan kami bukan mobil nasional seperti yang dipahami orang selama ini. Lebih tepatnya mobil buatan Indonesia karya anak bangsa sendiri,” demikian katanya.
Program mobil Esemka ini awalnya adalah program vokasi di bawah kendali Direktorat Pembinaan SMK bidang otomotif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pada 2008, Esemka mulai mengembangkan purwarupa SUV Rajawali dan pada 2010 mulai didirikan PT SMK. Kemudian muncul Rajawali R2 dan Esemka Bima. Peluncuran Esemka dilakukan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Walikota Solo pada 2012. Esemka Rajawali pun digunakan sebagai kendaraan dinas Jokowi.
Apakah Jokowi punya saham di PT ESEMKA? Tentu saja tidak. Beliau hanya mengendorse Perusahaan otomotif yang digagas dan dibiayai oleh pengusaha nasional tersebut.
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara Abdullah Mahmud Hendropriyono hadir dalam peresmian pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi atau Esemka di Boyolali, Jumat 6 September 2019. Hendropriyono mengungkapkan bahwa mobil ini diracik oleh putra dalam negeri. Tak ada sedikitpun, kemudahan dari pemerintah dan diperlakukan setara dengan produsen otomotif lainnya. “Esemka diperlakukan sama dengan merek mobil lain. Tidak ada fasilitas apapun dari pemerintah, seperti halnya program Mobnas Timor dulu,” tegasnya.
Mobil Esemka Bima dirakit di fasilitas produksi seluas 12.500 ribu meter persegi dan dibangun di atas lahan 115 ribu meter persegi. Di pabrik tersebut terdapat proses produksi seperti perakitan kendaraan, pengecatan, sampai pengetesan. Nilai investasi yang digelontorkan untuk pabrik tersebut disebut sebesar Rp600 miliar. Kapasitas produksi pabrik mencapai 18 ribu unit per tahun, itu berarti 1.500 unit per bulan atau sekitar 50 unit per hari. Itu kalau pesanan lancar. Tentu saja terlalu kecil untuk bisa bersaing dengan perusahaan mobil lain.
Lalu mengapa Esemka gagal memproduksi mobilnya padahal katanya sudah ada pesanan ribuan unit? Presiden Direktur PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) Eddy Wirajaya pun mengatakan bahwa Esemka tidak bisa banyak bergerak setelah pandemi datang. Ekonomi di seluruh dunia macet dan akhirnya, perusahaan pun terkena imbas hingga tidak bisa menjalankan produksinya.
Dia menuturkan, akibat pandemi, pihaknya hanya bisa memproduksi 500-an unit Bima 1.3. Mobil pikap Esemka ini diluncurkan pada September 2019. Hanya saja, ambisi untuk memacu penjualan jadi terkendala karena pandemi. Padahal, kata dia, peminat Bima 1.3 terbilang lumayan, termasuk order dari instansi-instansi pemerintah.
“Kami sebenarnya tetap ada meski pandemi. Kami sementara menunda produksi dan kami secara internal melakukan riset atas electric vehicle, mencari mitra-mitra untuk berkolaborasi ke depan dan melengkapi kapasitas produksi di pabrik kami,” katanya dikutip Selasa (21/2/2023). Kini Esemka fokus untuk pengembangan mobil listrik. Di mana, saat ini, Esemka masih mengimpor varian mobil listriknya, Bima EV, secara utuh (CBU) dari China.
Jadi sebenarnya mengapa Jokowi selalu diolok-olok soal kegagalan mobil Esemka ini? Apa alasan menyalahkan dan menghina Jokowi atas kegagalan mobil Esemka ini? Tak sedikit pun dana negara yang digelontorkan sebagaimana Soeharto menggelontorkan dana kepada mobil Timor dulu. Beliau dan keluarganya juga tidak punya saham sebagaimana PT TPN dimiliki sepenuhnya oleh Tommy Soeharto. Katanya Jokowi menipu rakyat dengan mobil Esemka ini. Menipu bagaimana maksudnya? Apakah beliau bilang Esemka adalah mobil nasional yang akan dibiayai sepenuhnya oleh negara? Kan tidak. Jadi apa sebenarnya masalahnya?
Balikpapan, 27 Oktober 2024
Satria Dharma