Kisah istri saya yang bisa jadi singa jika ada yang mau menipunya meski di luar negeri mendapat tanggapan seseorang begini.
“Mashaallah tabarakallah sehat2 ya pak buat istrinya.. senasib dgn saya yg tergolong mini krn perawakan kurus dan tdk terlalu tggi. Krn dianggap kecil dan lemah jadi sering bgt di selak sama ibu2 berbadan besar pada saat antri ”
Istri saya tidak mau diperlakukan seperti itu. Kecuali kalau ia melihat bahwa orang tersebut memang sangat membutuhkan. Saya sendiri tidak pernah segan berteriak, “Antri, Mas…!” pada orang yang menyerobot antrian.
Pernah suatu kali saat istri saya salat di masjidil Haram yang sudah penuh (memang selalu penuh). Tiba-tiba ada ibu-ibu entah Turki entah Pakistan segede gaban yang datang dan minta sedikit saja space untuk dia salat di saf yang ditempati istri saya. Dua rakaat saja katanya dengan kode tangan. Istri saya yang memang baik hati itu memberinya kesempatan dan dia terpaksa duduk dengan menciutkan tubuhnya sebisa-bisanya karena emak-emak ini dua kali lipat dirinya. Toh cuma dua rakaat, pikirnya.
Ketika emak-emak Gaban ini selesai salat dua rakat dipikir dia akan mengucapkan terima kasih dan pergi. Ternyata tidak. Ia salat lagi dua rakat. Lho…?! Piye toh iki… Begitu selesai ia langsung tambah lagi dua rakat tanpa henti. Tampaknya ia ingin menguasai saf istri saya dan mungkin mengira istri saya akan mengalah dan membiarkannya menguasai saf tersebut sampai waktu salat fardhu tiba.
No way, Esmeralda…
Ketika istri saya protes dan si emak-emak ini tidak peduli dan dan tetap melanjutkan salatnya yang entah rakat ke berapa, istri saya akhirnya kehilangan kesabaran. Emak-emak ini kayaknya tidak kenal tatakrama dan apalagi balas budi. Jadi tidak bisa diperlakukan sebagaimana orang yang terhormat. Istri saya dengan segera ambil tindakan. Karena sholat fardu segera di mulai Emak-emak ini segera didorongnya sehingga keluar dari saf yang kala itu bersiap2 akan salat entah berapa rokaat lagi. Setelah itu istri saya segera menempati safnya dengan telungkup di sajadahnya tanpa memberikan sedikit pun space bagi si emak-emak itu untuk bisa kembali. Si emak-emak ini berteriak menjerit-jerit seolah-olah telah didzalimi oleh istri saya. Tapi istri saya melengos saja dan pasang wajah lempeng.
“This is my space and no way you can steal it from me, Esmeralda.” 😬
Si emak-emak akhirnya sadar bahwa kali ini siasatnya tidak berhasil. Ia lalu pergi ngloyor ke tempat lain. Mungkin untuk mencari korban lain yang bisa ditindasnya. 😎
Balikpapan, 27 Oktober 2024
Satria Dharma