Punya pengalaman memalukan?
Waktu remaja saya pernah diajak oleh keluarga dari Kalimantan yang datang ke Surabaya dan minta ditemani jalan-jalan. Ya saya senang sekali karena mereka bawa duit banyak dan royal.
Ketika makan siang kami mampir ke Resto Padang terkenal di Surabaya. Sampai sebesar itu saya belum pernah sama sekali masuk resto Padang. Masuk warung aja nggak pernah karena gak pernah punya uang untuk makan di luar rumah. Jadi masuk ke resto ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan saya. Makan enak nih saya, kata saya dalam hati. Pesta…! 😍
Ketika hidangan datang saya terbelalak. Kok pesan makannya begitu banyak? Pikir saya. Itu pemandangan safari lauk yang sungguh menggetarkan hati saya. Begitu berlimpah sampai harus ditumpuk. Lha wong kami cuma bertiga saja kok lauknya sebegitu banyaknya. Ini sih bisa dimakan oleh orang sepuluh, kata saya dalam hati. Orang kaya itu memang enak, pikir saya. Kayaknya saya pingin deh jadi orang kaya kayak mereka. Sumpah…! 😁
Maka kami pun makan dengan lahap. Kayaknya menunya cocok di lidah mereka. Apalagi bagi lidah saya. Super cocok…! 😍 Saya sangat khusyuk makan dan membiarkan mereka ngobrol berdua sambil makan ambil lauk ini dan itu.
Ketika kami berhenti makan karena sudah kenyang, hidangan yang ada di atas meja masih banyak tentu saja. Tampaknya tidak semua menu dicoba dan sebagian dibiarkan begitu saja.
“Inilah yang disebut mubazir. Dan mubazir adalah temannya setan,” demikian kata saya dalam hati.
“Nggak dimakan ya yang ini?” tanya saya pada mereka sambil menunjuk piring-piring yang masih penuh dan setengah penuh. “Nggak, sudah kenyang.” Jawab mereka.
“Sayang kalau nggak dimakan padahal sudah dipesan,” kata saya pada mereka sambil menjumput ini dan itu lalu saya teruskan makan sampai benar-benar kekenyangan dan tidak bisa memasukkan apa-apa lagi ke perut saya. Saya berusaha melawan temannya setan sebisa saya sampai menyerah. 😎
Mereka hanya tersenyum melihat saya sambil saling berpandangan. 😉
Begitulah pengalaman pertama saya makan di resto Padang ditraktir orang kaya. Entah berapa uang yang mereka keluarkan untuk makan sebanyak itu.
Entah berapa bulan atau tahun kemudian baru saya tahu bahwa kelakuan saya itu memalukan. Belakangan baru saya tahu bahwa kalau makan di resto Padang kita hanya membayar yang kita makan saja. Lauk memang dikeluarkan semua untuk kita pilih mana yang kita suka. Tapi tentu saja kita hanya akan makan lauk yang kita suka saja dan sisanya kita tinggalkan dan tidak perlu kita bayar. Lha saya saat itu berusaha untuk mencicipi semua yang ada di atas meja. Ya, ampun…! Anak ini kelaparan atau memang nggragas sih? Mungkin begitu pikir mereka.
Tentu saja saya merasa malu setelah mengetahui hal tersebut. Setiap kali mengingat peristiwa tersebut saya masih selalu merasa malu. Kaypang ndeso iki pancen ngisin-ngisini. 😂
Saya tidak pernah bertemu lagi dengan mereka setelah itu. Tapi seandainya bertemu lagi saya berjanji akan menraktir mereka di resto Padang dan saya akan membiarkan mereka mencicipi semua lauk yang ada di atas meja.
Balaskan dendammu padaku, Bro. Aku rela…! 😁
Balikpapan, 24 Oktober 2024
Satria Dharma