Pernah dengar nama Marilyn vos Savant?
Dia adalah wanita yang memegang rekor Guinness World Record for highest IQ. Menurut catatan Guinnes Book of Records, dia meraih skor 228 saat melakukan uji IQ pada 1956. IQ tertinggi di dunia. Bahkan lebih tinggi daripada Einstein, atau siapa pun. Albert Einstein IQ-nya 160 – 190 dan Stephen Hawking yang jenius itu juga diperkirakan memiliki IQ sebesar 160. IQ saya digandakan pun masih kalah dengannya.
Pada usia 10 tahun, dia telah membaca seluruh Ensiklopedia Britannica. Hanya untuk bersenang-senang. Tahu nggak berapa jilid Ensiklopedia Britannica itu? Semuanya ada 32 jilid dengan 32,640 halaman. Marilyn bekerja sebagai kolumnis majalah asal New York, pengusaha, sekaligus penulis drama.
Karena dikenal sebagai wanita pemilik IQ tertinggi di dunia pada 1980-an, ia menjadi popular. Kepopulerannya ini mengundang banyak orang yang ingin menantang kecerdasannya, seperti pada saat dirinya menjadi tamu dalam acara David Letterman. “Apakah Anda melakukan hal-hal yang cerdas? Anda tahu, saya pikir saya lebih cerdas daripada Anda,” ujar pembawa acara tersebut kepada vos Savant. Pada 1991, ada seorang pembaca yang mengirimkan surat kepadanya untuk memecahkan pertanyaan matematika populer yang dikenal sebagai Monty Hall Problem.
Pertanyaannya tampak cukup sederhana. Anda berada di sebuah acara kuis. Ada tiga pintu. Di balik satu pintu terdapat mobil baru yang gemerlap. Untuk Anda kalau bisa menebak dengan benar. Di balik dua pintu lainnya? Kambing.
Anda diminta untuk memilih pintu nomor satu. Tapi belum dibuka dan belum tahu apa di baliknya. Pembawa acara, yang tahu apa yang ada di balik setiap pintu, membuka pintu nomor tiga. Isinya seekor kambing.
Pembawa acara lalu bertanya: “Apakah Anda ingin tetap memilih pintu satu, atau beralih ke pintu dua?”
Apa yang akan Anda lakukan…?! Pintu mana yang akan Anda pilih…?! 😎
Kebanyakan orang berpikir itu tidak masalah. Peluangnya 50-50 untuk keduanya, bukan?
Salah, tulis Marilyn. Selalu beralih. Beralihlah ke pintu nomor dua. Peluang Anda melonjak dari satu banding tiga menjadi dua banding tiga.
Marilyn menjelaskannya dengan sederhana. Ketika Anda pertama kali memilih, Anda memiliki peluang satu banding tiga. Mobil itu mungkin berada di balik salah satu pintu lainnya—peluangnya dua banding tiga.
Ketika pembawa acara menghilangkan satu pintu yang salah, probabilitas dua pertiga itu tidak hilang. Probabilitas itu berpindah ke pintu yang tersisa.
Beralihlah, dan Anda menggandakan peluang Anda. Penjelasan yang sederhana dari seorang dengan IQ tertinggi di dunia.
Tapi respons pembacanya sangat berbeda, kejam dan brutal. Sebagaimana kita temui di dunia mesos sekarang ini. Netizen yang maha benar dengan logikanya yang jongkok itu. 😎
Surat-surat berdatangan. Ribuan jumlahnya. Profesor matematika dari universitas-universitas di seluruh negeri. Insinyur. Ilmuwan. Orang-orang dengan gelar tinggi dan pengalaman puluhan tahun membantah jawaban Marilyn.
Mereka menyebutnya salah. Mereka menyebutnya bodoh. Beberapa menyebutnya jauh lebih buruk.
“Kamu yang jadi kambing!” tulis seorang PhD.
“Mungkin perempuan melihat masalah matematika secara berbeda,” ejek yang lain.
“Sudah cukup buta huruf matematika di negara ini, dan kita tidak perlu IQ tertinggi di dunia menyebarkan lebih banyak lagi,” tegur seorang matematikawan. Matematikawan kok dilawan…! (nek krungu soal ‘buta matematika’ aku kok iling kancaku Cak Nanang sing ngubek-ubek pembelajaran matematika padahal bukan jurusan matematika).
Serangan ejekan dan hinaan terus berdatangan. Sepuluh ribu surat. Sebagian besar dari laki-laki. Banyak yang kejam dan sangat jahat. Beberapa benar-benar sadis, menyerang bukan hanya matematikanya tetapi juga jenis kelaminnya.
Marilyn tetap teguh dengan pendiriannya.
Dia lalu menerbitkan lebih banyak penjelasan. Menggambar diagram. Memecahnya langkah demi langkah. Dia bahkan menyarankan orang untuk mencobanya di rumah dengan kartu atau koin. Jangan cuma teori. Lakukan eksperimen supaya paham.
Para kritikusnya tetap tidak percaya. Wanita dengan IQ tertinggi di dunia pasti sedang mengalami momen kebingungan, kata mereka.
Namun sesuatu yang menarik mulai terjadi.
Para guru mencoba eksperimen itu dengan murid-murid mereka. Para programmer komputer menjalankan simulasi. Hasilnya terus menunjukkan hasil yang sama.
Marilyn benar.
Kampus MIT lalu melakukan percobaan dengan menjalankan simulasi komputer. Ribuan percobaan. Strategi pengalihan seperti yang disampaikan Marilyn menang sekitar dua pertiga dari waktu, setiap kali.
MythBusters mengujinya di TV. Hasilnya sama.
Perlahan, dengan susah payah, satu per satu, para ahli mulai mengakui kesalahan mereka. Susah lho mau mengakui salah itu. Apalagi kalau Anda menganggap diri Anda pintar (most of us do). Apalagi kalau sudah punya gelar profesor dan mengajar di perti terkemuka. Semakin sulit untuk mengaku salah. Wistalah… Lha wong jelas-jelas ada genosida di Gaza aja masih banyak yang denial. 😁
Komunitas matematika akhirnya terbukti salah. Wanita yang mereka ejek ternyata benar sejak awal. Gak isin tah peno? Gak blas…! 😁
Tetapi mengapa begitu banyak orang pintar salah?
Teka-teki itu mengelabui intuisi kita. Otak kita melihat dua pintu dan berpikir “Fifty-fifty.” Kita lupa bahwa apa yang diketahui oleh pembawa acara mengubah segalanya.
Ketika dia membuka pintu itu, dia tidak membukanya secara acak. Dia tahu di mana mobil itu berada. Dengan demikian sebenarnya ia memberi Anda informasi.
Informasi itu berharga. Dan Marilyn melihatnya ketika ribuan orang lain tidak bisa. Hatta itu matematikawan yang tiap hari mikirin probabilitas dan angka-angka. Apalagi yang setiap hari mikirin utangnya. Pasti lebih tersesat… 😁
Bertahun-tahun kemudian, Marilyn menjelaskan mengapa terjadi kekacauan pemikiran itu. Masalahnya sebenarnya bukan tentang matematika, katanya. Itu tentang bagaimana kita berpikir. Lho…! Apa matematika itu bukan tentang cara berpikir…?! Sing bener ae, Mbak Lyn…
“Sekolah-sekolah menghalangi pemikiran independen,” jelasnya. “Kita diajari untuk menghafal, bukan untuk bernalar.” (Halo…Cak Nanang. Iki lho onok bolomu).
Surat-surat yang dia terima membuktikan pendapatnya. Orang-orang pintar, yang dilatih untuk mempercayai otoritas dan konsensus, tidak dapat membayangkan bahwa mayoritas mungkin salah. Terutama ketika minoritas itu adalah seorang wanita. Wistalah… Wanita itu selalu benar. Ojok ngeyel… 😁
Saat ini, Problem Monty Hall diajarkan di kelas statistik di seluruh dunia. Ini adalah contoh sempurna bagaimana intuisi dapat menyesatkan kita. Bagaimana probabilitas dapat mengejutkan kita. Dan bagaimana menjadi benar saja tidak selalu cukup jika Anda berdiri sendiri. Menjadi orang terpintar di ruangan tidak membuat Anda populer. Malah bisa dimusuhi. Lha wong Jokowi yang begitu baik saja banyak yang memusuhi kok. 😁
Eh, lha kok menggok nang Jokowi maneh toh aku iki…. Dasar Termul, Terhormat dan Mulia… 😁
Balikpapan, 28 Desember 2025
Satria Dharma